TikTok has emerged as a dominant social media platform, particularly through its live streaming feature utilized for marketing and real-time interaction. This study aims to analyze the personal branding strategy of the @CALDERACORNER account, which employs hosts in cosplay attributes to enhance audience engagement. Drawing on the Uses and Gratifications theory, this research adopts a quantitative method to examine how visual uniqueness and character influence follower behaviour. Data were collected via questionnaires distributed to 100 followers of @CALDERACORNER, selected through purposive sampling techniques. The gathered data were then analysed using simple linear regression. The results indicate that the cosplay host's personal branding has a significant influence on audience engagement. The dimension of consistency was identified as the primary contributor to this success. With a coefficient of determination ($R^2$) of 87.9%, this study proves that a robust personal branding strategy is highly dominant in driving audience involvement, while the remaining 12.1% is influenced by other factors outside the scope of this study. These findings emphasize that managing unique, creative, and consistent personal branding in TikTok live streaming is crucial for maximizing audience participation and loyalty in the digital era. TikTok saat ini menjadi platform media sosial paling dominan, terutama melalui fitur live streaming yang digunakan untuk pemasaran dan interaksi real-time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi personal branding yang dilakukan oleh akun @CALDERACORNER melalui penggunaan host beratribut cosplay dalam upaya meningkatkan engagement audiens. Dengan menggunakan landasan teori Uses and Gratification, penelitian ini menerapkan metode kuantitatif untuk menguji sejauh mana keunikan visual dan karakter memengaruhi perilaku pengikut. Data dikumpulkan melalui survei kuesioner terhadap 100 responden yang merupakan pengikut akun @CALDERACORNER, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding host cosplay memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap engagement audiens. Dimensi konsistensi ditemukan sebagai kontributor utama dalam keberhasilan strategi ini. Nilai koefisien determinasi sebesar 87,9% membuktikan bahwa strategi personal branding yang kuat sangat dominan dalam memengaruhi keterlibatan audiens, sementara 12,1% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan personal branding yang unik, kreatif, dan konsisten di TikTok live streaming sangat krusial untuk memaksimalkan partisipasi dan loyalitas audiens di era digital.
This study aims to explore how Instagram second accounts function as a space for Gen Z to express their true selves. The research employs the theories of self-disclosure, the Johari Window, and dramaturgy. A descriptive qualitative approach was used, with data collected through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that second accounts genuinely serve as a space for Gen Z to represent their true selves. In a digital environment that is less pressured, more private, and free from social expectations and normative demands, participants can present the most honest, emotional, and authentic aspects of themselves. Expert insights further confirm that social pressure is a major factor preventing individuals from fully expressing themselves in public spaces. Religious, social, and cultural norms—such as expectations to always appear well-behaved, polite, stable, or not overly emotional—often lead individuals to adjust their self-expression. However, second accounts provide a safer, smaller, and more controlled environment that allows individuals to detach from these standards. Thus, second accounts not only serve as an escape from social expectations but also provide a meaningful space for self-understanding and the expression of one’s true self. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana second account Instagram mampu menjadi ruang untuk menunjukkan true self pada Gen Z. Penelitian ini menggunakan teori self-disclosure, jendela Johari, dan dramaturgi. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa second account benar-benar menjadi ruang representasi true self bagi Gen Z. Dalam lingkungan digital yang minim tekanan, lebih privat, dan tidak dipenuhi tuntutan citra dan norma, para narasumber dapat menampilkan sisi diri yang paling jujur, emosional, dan apa adanya. Hal ini dikonfirmasi oleh ahli, yaitu bahwa tekanan sosial merupakan faktor terbesar yang sering menahan seseorang untuk menampilkan dirinya secara utuh di ruang publik. Norma agama, norma sosial, dan norma budaya seperti harapan untuk selalu terlihat baik, sopan, stabil, atau tidak terlalu emosional membuat individu menyesuaikan ekspresinya. Namun, second account memberi ruang yang lebih aman, kecil, dan terkendali sehingga individu dapat melepaskan diri dari standar tersebut. Dengan demikian, second account tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelarian dari ekspektasi sosial, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami diri dan mengekspresikan true self mereka.
This study aims to understand how Generation Z interprets the style of comedy in the 'Iritology' advertising series. The background of the research stems from the phenomenon of changing humor preferences in the digital era, where Gen Z is growing up in a fast-paced, dynamic, and ever-changing internet culture. This study uses the theory of incongruity humor, the characteristics of Generation Z as digital natives, and the concept of digital pop culture as its theoretical foundation. The research method employed is a qualitative case study with in-depth interviews, documentation, and literature study techniques. Data analysis is conducted through stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing, combined with thematic analysis. The results indicate that the humor in the Iritology ad series is perceived as absurd, hyperbolic, and parodic. However, its relevance varies between early and late Generation Z. The humor of the scene is influenced by experience with popular culture, meme consumption, and the relatability of the informants. The emotional response that arises is light, spontaneous, and tends to be temporary. Overall, Iritology humor is considered entertaining, but it does not yet fully reflect the sense of humor of today's Generation Z in depth. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Generasi Z memaknai gaya komedi dalam seri iklan “Iritology”. Latar belakang penelitian berangkat dari fenomena perubahan preferensi humor di era digital, di mana Gen Z berkembang dalam budaya internet yang cepat, dinamis, dan terus berubah. Penelitian ini menggunakan teori humor inkongruensi, karakteristik Generasi Z sebagai ‘digital natives’, serta konsep budaya populer digital sebagai landasan teoritis. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang dipadukan dengan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor dalam seri iklan Iritology dipahami sebagai humor absurd, hiperbola, dan parodi, namun tingkat relevansinya berbeda antara Generasi Z awal dan Generasi Z akhir. Kelucuan adegan dipengaruhi oleh pengalaman budaya populer, konsumsi meme, serta tingkat relatabilitas informan. Respons emosional yang muncul bersifat ringan, spontan, dan cenderung sementara. Secara keseluruhan, humor Iritology dinilai menghibur, namun belum sepenuhnya mencerminkan selera humor Generasi Z masa kini secara mendalam.
This study analyzes the satirical representation in The Simpsons x Balenciaga collaboration through visual analysis and semi-structured interviews. The background of the research stems from the increasingly widespread collaboration between popular culture and the fashion industry in the digital era, where animated media is used as a medium for branding and social commentary. The aim of the study was to understand how satirical humor and Balenciaga's brand identity are constructed through visual elements, and how audiences interpret these messages. The research method used qualitative content analysis with a focus on visual symbols, color, composition, and character gestures, supplemented by interviews with three informants from diverse backgrounds to enrich perspectives. The results show that Balenciaga maintains its visual identity through oversized silhouettes, monochrome colors, and avant-garde aesthetics, while The Simpsons presents satirical humor to critique social status, symbolic authority, and body standards in the fashion industry. Audience interpretations varied: some deeply grasped the social critique, some only saw the comedic elements, while others highlighted the brand's communication strategy. In conclusion, this collaboration demonstrates that popular media can be both a space for brand representation and a means of social commentary, with meanings open to diverse audience interpretations. Penelitian ini menganalisis representasi satir dalam kolaborasi The Simpsons x Balenciaga melalui pendekatan analisis visual dan wawancara semi-terstruktur. Latar belakang penelitian berangkat dari fenomena kolaborasi antara budaya populer dan industri fashion yang semakin marak di era digital, di mana media animasi digunakan sebagai medium branding sekaligus komentar sosial. Tujuan penelitian adalah memahami bagaimana humor satir dan identitas brand Balenciaga dibangun melalui elemen visual, serta bagaimana audiens menafsirkan pesan tersebut. Metode penelitian menggunakan analisis isi kualitatif dengan fokus pada simbol visual, warna, komposisi, dan gestur karakter, dilengkapi wawancara dengan tiga informan dari latar belakang berbeda untuk memperkaya perspektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Balenciaga mempertahankan identitas visualnya melalui siluet oversized, warna monokrom, dan estetika avant-garde, sementara The Simpsons menghadirkan humor satir untuk mengkritisi status sosial, otoritas simbolik, dan standar tubuh dalam industri mode. Interpretasi audiens beragam: sebagian menangkap kritik sosial secara mendalam, sebagian hanya melihat unsur komedi, sementara lainnya menyoroti strategi komunikasi merek. Kesimpulannya, kolaborasi ini memperlihatkan bahwa media populer dapat menjadi ruang representasi brand sekaligus sarana komentar sosial, dengan makna yang terbuka bagi beragam interpretasi audiens.
This Following the implementation of the Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), which imposed a global ban on tobacco sponsorship, cigarette companies have continued to maintain their brand presence in Formula One (F1). This study explains how such brand persistence has been sustained despite strict regulatory restrictions. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews with F1 fans, academics, and industry practitioners, supported by relevant literature and regulatory documents. The findings identify three main strategies. First, Visual Cues, such as consistent color schemes and abstract patterns, evoke brand recognition without displaying explicit logos. Second, Corporate Branding, exemplified by abstract identities such as Mission Winnow, constructs corporate narratives that distance the brand from direct tobacco promotion. Third, Brand Switching promotes alternative products that comply with local regulations while maintaining symbolic continuity with tobacco brands. This study also positions Surrogate Advertising as a manifestation of the brand-switching strategy. By developing a systematic typology of stealth marketing in F1, this research offers a new analytical framework for understanding marketing communication in highly regulated industries and emphasizes the importance of creative strategy in navigating legal constraints. Setelah Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) memberlakukan larangan sponsor tembakau di seluruh dunia, sponsor rokok terus mempertahankan eksistensi merek mereka di Formula One (F1). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana ini terjadi. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan penggemar F1, akademisi, dan praktisi industri menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan tiga strategi utama. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun tipologi yang sistematis guna mengkategorikan strategi stealth marketing di ajang F1 sebuah upaya yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Beberapa strategi yang dianalisis meliputi penggunaan Visual Cues (warna dan pola), Corporate Branding (dengan identitas abstrak seperti Mission Winnow), dan Brand Switching (dengan produk alternatif yang sesuai regulasi). Ketiganya memanfaatkan pendekatan kreatif guna mempertahankan visibilitas merek tanpa melanggar ketentuan yang berlaku. Selain itu, iklan atau sponsor pengganti (Surrogate Advertising) diposisikan dalam penelitian ini sebagai sebuah manifestasi dari strategi pergantian merek. Ini memberikan kerangka analisis baru untuk memahami fenomena komunikasi pemasaran di industri dengan regulasi ketat sekaligus menegaskan betapa pentingnya kreativitas dalam menghadapi pembatasan hukum.
The documentary film Nada Nusantara Ambon represents Ambon's identity as a World City of Music, recognised by the UNESCO Creative Cities Network since 2019. This study analyses the representation of Ambon's identity through symbols of traditional music culture using Roland Barthes' semiotic approach. The conceptual basis of the study is grounded in Stuart Hall's theory of representation and Kavaratzis' theory of city identity, which emphasises the construction of a city's image and meaning through cultural and symbolic practices. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of observation and documentation of films. The analysis was carried out in stages of denotative and connotative meaning to reveal the ideology hidden behind visual signs and narratives. The results show that the film Nada Nusantara Ambon represents the city's identity through the visualisation of traditional musical instruments, cultural narratives, and the social symbol of pela gandong, which emphasises the values of brotherhood and harmony. This representation not only highlights the richness of local culture but also builds the collective identity of the Ambon community, which supports cultural preservation and strengthens the city's branding as a World City of Music at the global level. Film dokumenter Nada Nusantara Ambon merepresentasikan identitas Ambon sebagai Kota Musik Dunia yang diakui dalam jejaring kota kreatif UNESCO sejak 2019. Penelitian ini menganalisis representasi identitas Kota Ambon melalui simbol-simbol budaya musik tradisional dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Landasan konseptual penelitian bertumpu pada teori representasi Stuart Hall dan teori identitas kota dari Kavaratzis yang menekankan konstruksi citra dan makna kota melalui praktik budaya dan simbolik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi terhadap film. Analisis dilakukan dengan tahapan makna denotatif dan konotatif untuk mengungkap ideologi yang tersembunyi di balik tanda visual dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Nada Nusantara Ambon merepresentasikan identitas kota melalui visualisasi alat musik tradisional, narasi budaya, serta simbol sosial pela gandong yang menegaskan nilai persaudaraan dan harmoni. Representasi tersebut tidak hanya menonjolkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga membangun identitas kolektif masyarakat Ambon yang mendukung pelestarian budaya dan memperkuat branding kota sebagai Kota Musik Dunia di tingkat global.
The times have made it easier to use social media. Not only as a user, but it can also encourage many people to become content creators who can then attract a large audience or be referred to as influencers. TikTok is one of the social media platforms that currently has many users. This research aims to explore parents' perceptions of the kidfluencer phenomenon on social media, with a case study of the TikTok account @abe_daily. Kidfluencers are children who become influencers on social media, attracting audience attention through content managed by their parents. This research used a qualitative approach with a case study method, involving in-depth interviews with six interviewees from various backgrounds. The results showed that there are diverse perceptions, ranging from appreciation of creativity to concerns regarding the exploitation of children and the impact on their development. In addition, social and cultural factors also influence parents' interpretation of this phenomenon. This research provides insight into the role of social media in children's lives and the importance of parental supervision in utilizing digital media wisely. Perkembangan zaman mempermudah penggunaan media sosial. Tidak hanya sebagai pengguna, namun dapat mendorong banyak orang menjadi pembuat konten yang kemudian dapat menarik banyak audiens atau disebut sebagai influencer. TikTok merupakan salah satu media sosial yang saat ini memiliki banyak pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi orang tua terhadap fenomena kidfluencer di media sosial, dengan studi kasus akun TikTok @abe_daily. Kidfluencer adalah anak-anak yang menjadi influencer di media sosial, menarik perhatian audiens melalui konten yang dikelola oleh orang tua mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dengan enam narasumber dari berbagai latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan adanya persepsi beragam, mulai dari apresiasi terhadap kreativitas hingga kekhawatiran terkait eksploitasi anak dan dampak terhadap tumbuh kembang mereka. Selain itu, faktor sosial dan budaya juga mempengaruhi interpretasi orang tua terhadap fenomena ini. Penelitian ini memberikan wawasan tentang peran media sosial dalam kehidupan anak-anak dan pentingnya pengawasan orang tua dalam memanfaatkan media digital secara bijak.
This study analyzes the communication strategies employed in the satirical content of Lip Service, popularized by Oza Rangkuti on TikTok. Using a qualitative approach, this study explores the use of satirical humor as a tool for delivering social criticism and entertainment. Data was collected through in-depth interviews, content observation, and analysis of three videos with high levels of interaction. The results indicate that subtle satire combined with humor serves to both entertain the audience and convey a message. Humor is used to reduce audience resistance to criticism, enhance content appeal, and improve message retention. Additionally, Oza incorporates nonverbal communication in the form of visual expressions and distinctive gestures to enrich the entertainment element, creating a unique and relatable viewing experience for the audience. The content also utilizes relevant social issues to build emotional connections with the audience, encouraging active interaction and opening up spaces for discussion. This study highlights how satirical communication strategies can address sensitive issues in an entertaining yet meaningful way. The study contributes to a new understanding of satirical humor as a strategic approach in digital communication. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi dalam konten sindiran Lip Service yang dipopulerkan oleh Oza Rangkuti di TikTok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini mengeksplorasi penggunaan humor sindiran sebagai alat penyampaian kritik sosial dan hiburan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi konten, dan analisis tiga video dengan tingkat interaksi tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sindiran halus dipadukan dengan humor yang berperan untuk menciptakan hiburan bagi audien sekaligus dalam menyampaikan pesan. Humor digunakan untuk mengurangi resistensi audiens terhadap kritik, memperkuat daya tarik konten, dan meningkatkan daya ingat pesan. Selain itu, Oza menggabungkan komunikasi non-verbal dalam bentuk ekspresi visual dan gestur khas untuk memperkaya elemen hiburan, menciptakan pengalaman menonton yang unik dan relatable bagi audiens. Konten ini juga menggunakan isu sosial yang relevan untuk membangun keterhubungan emosional dengan audiens, mendorong interaksi aktif, serta membuka ruang diskusi. Penelitian ini menyoroti bagaimana strategi komunikasi dalam bentuk sindiran dapat mengangkat isu sensitif secara menghibur namun tetap bermakna. Studi ini berkontribusi pada pemahaman baru tentang humor sindiran sebagai pendekatan strategis dalam komunikasi digital.
This study aims to explore the phenomenon of FOMO (Fear of Missing Out) and self-control strategies among university students who use TikTok as a social media platform. Data collection techniques include interviews and observations with three informants, as well as documentation. The data analysis method used is triangulation, which involves comparing data from different sources: the informants, who are university students with FOMO experiences on TikTok, and a psychologist expert. The results of this study show that the FOMO phenomenon is evident in the urge to follow viral trends and purchase popular items in order to stay connected with one's social group. On the other hand, students display varying levels of self-control, including behavioral control, cognitive control, and information control. These self-control efforts are demonstrated through managing their budget, redirecting attention to productive activities, and limiting time spent on social media. This study provides new insights into the dynamics of TikTok usage among university students and emphasizes the importance of self-control in managing the growing influence of social media. Penelitian ini membahas mengenai fenomena Fear Of Missing Out (FOMO) dan pengendalian diri di media sosial TikTok. Penelitian ini betujuan untuk melihat fenomena FOMO dan cara pengendalian diri di kalangan mahasiswa pengguna media sosial TikTok. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi dengan sejumlah informan serta dokumentasi. metode teknik analisis data menggunakan metode triangulasi yang berarti membandingkan data-data yang ada dengan informan yaitu mahasiswa pengguna media sosial TikTok yang memiliki pengalaman FOMO dan ahli psikologi. Hasil penelitian ini adalah Fenomena FOMO terlihat dari dorongan untuk mengikuti tren viral dan membeli barang yang sedang populer demi menjaga keterhubungan dengan kelompok sosial. Di sisi lain, mahasiswa menunjukkan kemampuan pengendalian diri yang berbeda-beda, termasuk pengendalian perilaku, pengendalian kognitif, dan pengendalian informasi. Upaya pengendalian diri ini dilakukan dengan menmgatur anggaran, mengalihkan perhatian ke aktivitas produktif, serta membatasi waktu pengguna media sosial. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang dinamika penggunaan TikTok di kalangan mahasiswa dan pentingnya cara pengendalian diri. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang dinamika penggunaan TikTok di kalangan mahasiswa dan pentingnya pengendalian diri dalam menghadapi dampak media sosial yang semakin kuat.
Korean dramas are very popular among Indonesian people. The purpose of this study is to find out: Representation of social inequality between two families in South Korea in the Queen of Tears series. Signifier and signified elements about social inequality in the Queen of Tears series. This study uses a qualitative approach by explaining or describing scenes using translated dialogues in Indonesian. The subject of the study is the Queen of Tears series, while the object of the study is the representation of social inequality. The existing social inequality is observed based on indicators of geographical location, income, economy, and quality of human resources. Data collection uses primary data and secondary data. The researcher interviewed South Korean citizens and a sociologist as a triangulator. The data analysis technique uses Saussure's semiotics, consisting of the signifier and the signified, and the stages of data analysis are data reduction, data presentation, and drawing conclusions and verification. The results obtained show that the representation of social inequality between two families in South Korea in the Queen of Tears series is displayed through indicators of differences in geographical location, income or economy, and quality of human resources. The upper social class has a better life in various fields, while the lower social class has limited access to government facilities, obtaining basic necessities, and education. Analysis of the signifier and signified elements shows that there is a contrasting difference between the two families, which shows a gap in the Queen of Tears series. Drama Korea sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia. Tujuan penelitian untuk megetahui: Representasi kesenjangan sosial antar dua keluarga di Korea Selatan dalam serial Queen of Tears. Elemen signifier dan signified tentang kesenjangan sosial dalam serial Queen of Tears. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menjelaskan atau mendeskripsikan adegan yang menggunakan dialog terjemahan dalam bahasa Indonesia. Subjek penelitian yaitu serial Queen of Tears sedangkan objek penelitian adalah representasi kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial yang ada diamati berdasarkan indikator letak geografis, pendapatan, atau ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia. Pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Peneliti mewawancarai warga Korea Selatan dan satu sosiolog sebagai triangulator. Teknik analisis data menggunakan semiotika Saussure yang terdiri dari signifier dan signified serta tahapan analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa representasi kesenjangan sosial antar dua keluarga di Korea Selatan dalam serial Queen of Tears ditampilkan melalui indikator perbedaan letak geografis, pendapatan atau ekonomi, dan kualitas sumber daya manusia. Kelas sosial golongan atas memiliki kehidupan yang lebih baik dalam berbagai bidang, sedangkan kelas sosial bawah memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas pemerintah, memperoleh bahan pokok, dan pendidikan. Analisis pada elemen signifier dan signified menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang kontras antara dua keluarga tersebut yang menunjukkan adanya kesenjangan dalam serial Queen of Tears.
Traditional culinary products are increasingly positioned as carriers of cultural heritage, place identity, and experiential value. Lasem in Central Java, known for its cross-cultural history, offers distinctive culinary items often linked to batik (silk) and heritage tourism. In this article we propose an integrated marketing communication (IMC) strategy framework to scale Lasem traditional culinary MSMEs (beverage, snacks, ready-to-eat, ready-to-cook) from local markets to global digital platforms. Methodologically, the study is designed as a qualitative case study combining desk research, digital ethnography across Instagram, TikTok, YouTube, and marketplaces, and semi-structured interviews with MSME owners, tourism stakeholders, and customers. The proposed framework emphasizes five pillars: cultural product identity, brand storytelling, platform-specific content, trust enablers (certification, reviews, influencers), and cross-border enablement (packaging, logistics, payment). From an economic point of view, the findings indicate that packaging adaptation (USD 1.20/unit), platform fees (USD 10-181.20/unit), currently limit gross margins to 28-35%, below the 40% scalability threshold. However, strategic IMC can reduce customer acquisition costs by an estimated 25-30%. In the study we detail strategic recommendations, KPIs, and implementation stages adaptable for MSMEs and policymakers. The contribution advances a context-specific IMC model for heritage food MSMEs while supporting global competitiveness and cultural sustainability.
As the current development of technology and information, various fields have been affected, one of which is the media industry. The impact of industrial advancement of 5.0 has had on conventional media such as television, radio, newspapers, and other media. Various forms of new media continue to emerge such as Instagram, Youtube, Twitter, TikTok, and others. Trans TV is a television station in Indonesia. One of the programs from Trans TV is Rumpi (No Secret), first aired on November 10, 2014 with host Feni Rose discussing the life of a homeland celebrity. This research focuses on finding out the Rumpi (No Secret) communication strategy on the Instagram platform to maintain its existence. Researchers use qualitative research methods by conducting interviews to obtain data. The research results show that the use of appropriate communication strategies on Instagram media has an important role in increasing the Rumpi (No Secret) program's engagement and awareness to the public. By presenting a viral guest star, researching a guest star who is loved by public, and uploading content in the form of video pieces containing statements that can attract audiences. Cepatnya perkembangan teknologi dan informasi saat ini, berbagai bidang telah terkena dampaknya salah satunya adalah industri media. Dampak kemajuan industri 5.0 berdampak pada media konvensional seperti televisi, radio, koran, dan media lainnya. Berbagai bentuk media baru terus bermunculan seperti Instagram, Youtube, Twitter, TikTok, dan lainnya. Trans TV merupakan salah satu stasiun televisi di Indonesia. Salah satu program dari Trans TV adalah Rumpi (No Secret). Pertama kali ditayangkan pada 10 November 2014 dengan host Feni Rose yang membahas mengenai kehidupan selebriti tanah air. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui strategi komunikasi Rumpi (No Secret) pada platform Instagram untuk mempertahankan eksistensinya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara untuk mendapatkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan strategi komunikasi yang tepat pada media Instagram memiliki peran penting dalam meningkatkan engagement dan awareness program Rumpi (No Secret) kepada masyarakat. Dengan menghadirkan bintang tamu yang sedang viral, melakukan riset bintang tamu yang digemari masyarakat, dan mengunggah konten berupa potongan-potongan video yang berisi statement yang dapat menarik audiens.
This study aims to analyze persuasive communication strategies in the online loan advertisement “Adakami - TVC - #AdakepastianAdaKami” published on YouTube. The background of this research lies in the growing presence of online loan advertisements on digital platforms, along with the success of Adakami’s advertisement, which went viral and gained more than seven million views. The study focuses on how the advertisement employs persuasive communication techniques to influence consumer perceptions and decision-making. This research adopts a descriptive qualitative method, with data collected through in-depth interviews and observations. The informants consist of several viewers of the Adakami advertisement on YouTube and an expert in the field of digital creative. The data were analyzed to explore experiences, interpretations, and audience perceptions of the conveyed message. The findings indicate that the Adakami advertisement successfully delivers persuasive messages through the use of appealing visuals, clear text, and positive emotional reinforcement. The advertisement also applies key principles of persuasive communication, including selective exposure, audience participation, inoculation, and magnitude of change. Audience feedback further demonstrates that the advertisement effectively enhanced public awareness and interest in Adakami’s online loan services. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi persuasif dalam iklan pinjaman online “Adakami - TVC - #AdakepastianAdaKami” yang ditayangkan di media sosial YouTube. Latar belakang penelitian ini adalah semakin maraknya iklan pinjaman online pada platform digital, serta keberhasilan iklan Adakami yang menjadi viral dengan capaian lebih dari 7 juta tayangan. Fokus penelitian diarahkan pada upaya iklan tersebut dalam memengaruhi persepsi dan keputusan konsumen melalui teknik komunikasi persuasif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Informan terdiri atas sejumlah penonton iklan Adakami di YouTube serta seorang ahli di bidang digital creative. Data yang diperoleh dianalisis untuk memahami pengalaman, interpretasi, serta persepsi audiens terhadap pesan yang disampaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan Adakami mampu menyampaikan pesan persuasif secara efektif melalui kombinasi visual yang menarik, teks yang jelas, dan penguatan emosi positif. Iklan ini juga menerapkan prinsip-prinsip komunikasi persuasif, antara lain pemaparan selektif, partisipasi khalayak, inokulasi, serta besaran perubahan. Umpan balik dari audiens mengindikasikan bahwa iklan tersebut berhasil meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap layanan pinjaman online Adakami.
The rapid growth of TikTok users shows that audiences are increasingly looking for informative and entertaining content. Culinary content is one of the most popular categories, especially among the younger generation. The @BeruangRakus account is one culinary content account that adopts a creative strategy by creating unique and interesting content. Based on interviews with audiences and experts in the field of digital content, it was found that the use of attractive visuals, strong narratives, and creative editing are very important to attract the audience's attention. Distinctive features in content, consistency, as well as trend analysis and collaboration with influencers were also identified as crucial factors in building identity and increasing engagement. In addition, the authenticity of content is an important aspect to avoid ethical and copyright issues. This research links the relevance of communication theory in understanding the impact of culinary content on consumer decisions and audience engagement, providing valuable insights for content creators and marketers in designing content strategies in the digital era. The results of the study show that the adoption of creative strategies in content creation determines success in the competitive digital era. The adoption of creative strategies demonstrates the importance of keeping up with the latest trends. Pertumbuhan pengguna TikTok yang pesat menunjukkan bahwa audiens semakin mencari konten yang informatif dan menghibur. Konten kuliner menjadi salah satu kategori yang paling diminati, terutama di kalangan generasi muda. Akun @BeruangRakus merupakan salah satu konten kuliner yang mengadopsi strategi kreatif dengan membuat konten unik dan menarik. Berdasarkan wawancara dengan audiens dan ahli di bidang konten digital, ditemukan bahwa penggunaan visual menarik, narasi yang kuat, dan editing kreatif sangat penting untuk menarik perhatian audiens. Ciri khas dalam konten, konsistensi, serta analisis tren dan kolaborasi dengan influencer juga diidentifikasi sebagai faktor krusial dalam membangun identitas dan meningkatkan keterlibatan. Selain itu, keaslian konten menjadi aspek penting untuk menghindari isu etik dan hak cipta. Penelitian ini mengaitkan relevansi teori komunikasi dalam memahami dampak konten kuliner terhadap keputusan konsumen dan keterlibatan audiens, memberikan wawasan berharga bagi creator konten dan pemasar dalam merancang strategi konten di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi strategi kreatif dalam pembuatan konten menentukan keberhasilan di era digital yang kompetitif. Adopsi strategi kreatif menunjukkan pentingnya mengikuti tren terkini.
This research examines the role of mass communication in shaping the psychological responses of teenagers to the moral messages in the film Siksa Neraka. Using a qualitative approach, data were collected through interviews and film text analysis to understand the emotional experiences of the audience. The results show that this film not only serves as entertainment but also as an educational tool that conveys a strong moral message. Teen viewers showed significant emotional responses, with many of them reflecting on their actions and behavior after watching. The theories used in the research include the Uses and Gratifications Theory, which explains the audience’s selection of media to meet emotional needs; the Mass Communication Theory, which emphasizes the power of films in conveying moral messages; and the Audience Psychology Theory, which analyzes how films trigger the audience’s emotional responses. Additionally, Piaget’s Cognitive Development Theory describes how adolescents’ understanding of films is influenced by their cognitive development stage. In conclusion, Siksa Neraka serves as an effective educational tool and can provoke reflection on the audience’s actions. This research is expected to contribute to communication studies and serve as a guide for filmmakers to create more responsible works. Penelitian ini mengkaji peran komunikasi massa dalam membentuk respons psikologis remaja terhadap pesan moral dalam film Siksa Neraka. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara dan analisis teks film untuk memahami pengalaman emosional penonton. Hasilnya menunjukkan bahwa film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat edukasi yang menyampaikan pesan moral yang kuat. Penonton remaja menunjukkan respons emosional yang signifikan, dengan banyak dari mereka merenungkan tindakan dan perilaku mereka setelah menonton. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Teori Uses and Gratifications yang menjelaskan pemilihan media oleh penonton untuk memenuhi kebutuhan emosional; Teori Komunikasi Massa, yang menekankan kekuatan film dalam menyampaikan pesan moral; dan Teori Psikologi Penonton, yang menganalisis bagaimana film memicu respon emosional penonton. Selain itu, Teori Perkembangan Kognitif Piaget menggambarkan bagaimana pemahaman remaja terhadap film dipengaruhi oleh tahap perkembangan kognitif mereka. Kesimpulannya, Siksa Neraka berfungsi sebagai alat edukasi yang efektif dan dapat memicu refleksi tentang tindakan penonton. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi studi komunikasi dan panduan bagi pembuat film untuk menciptakan karya yang lebih tanggung jawab.
The blast produced by the cannon is one of the traditional communication media. The blast of the cannon is a tradition carried out by the community at the Al-A'raaf Great Mosque in Rangkasbitung. Tradition is a form of culture that is maintained and passed down from generation to generation by the local community. The tradition of the cannon blast became a culture for the people of Rangkasbitung. The cannon blast is used to mark the time during the month of Ramadan every year. This research will discuss the function of the cannon as a traditional communication media in the tradition of the cannon blast to mark the breaking of the fast at the Al-A'raaf Great Mosque in Rangkasbitung. In this research, the author uses the theory of cultural studies from Stuart Hall and uses a qualitative approach method with the phenomenological method from Bogdan and Taylor. The data in this study were obtained through interviews, observations, literature studies, and documentation. The results showed that the use of cannons as a marker of breaking the fast has existed since the colonial era. Other findings also showed that the tradition of the cannon blast as a marker of breaking the fast was formed due to the influence of the power of the dominant group, namely the people of Rangkasbitung, especially those who practiced fasting. The cannon acts as a persuasive traditional communication medium and develops into a culture in the community. Dentuman yang dihasilkan meriam merupakan salah satu media komunikasi tradisional. Dentuman meriam merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat di Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung. Tradisi merupakan bentuk kebudayaan yang dipertahankan dan diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat. Tradisi dentuman meriam menjadi budaya bagi masyarakat Rangkasbitung. Dentuman meriam digunakan untuk menandakan waktu saat bulan Ramadhan setiap tahun. Penelitian ini akan membahas fungsi meriam sebagai media komunikasi tradisional dalam tradisi dentuman meriam penanda buka puasa di Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori kajian budaya dari Stuart Hall dan menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dari Bogdan dan Taylor. Data dalam penelitian ini didapatkan melalui hasil wawancara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan meriam sebagai penanda buka puasa sudah ada sejak zaman penjajahan. Temuan lain juga menunjukan bahwa tradisi dentuman meriam sebagai penanda buka puasa terbentuk karena adanya pengaruh dari kekuatan kelompok dominan yakni masyarakat Rangkasbitung terutama yang menjalankan ibadah puasa. Meriam berperan sebagai media komunikasi tradisional yang mengandung komunikasi persuasif dan berkembang menjadi budaya di tengah masyarakat.
Advertising which is a form of communication between companies and their people today has used a strategy to be easily understood by the audience, namely by inserting messages that are close to society such as the theme of human freedom. Although human freedom has been attached, its existence is still being fought for by human. One of the advertisements with the theme of human freedom that aired on Youtube was an ad from IM3 Ooredoo entitled Kebebasan Itu Bernama #FreedomInternet. The purpose of this research is to find out the meaning of human freedom in IM3 Ooredoo's advertisement namely Kebebasan Itu Bernama #FreedomInternet. This research uses theories and concepts of advertising, new media, social reality, existentialism, types of human freedom, and semiotics. The method used is a qualitative approach with a critical paradigm and the semiotic analysis method of Charles Sanders Peirce. Data collection is carried out by observation, documentation, and literature study. The result of this study is that human freedom is not absolute because there are still things that limit it, and there are also scenes that include physical, psychological, and moral freedom in the advertisement. Iklan yang merupakan bentuk komunikasi antara perusahaan dengan masyarakatnya di zaman sekarang telah menggunakan strategi agar mudah dimengerti khalayak, yaitu dengan menyisipkan pesan yang dekat dengan masyarakat seperti tema kebebasan manusia. Meskipun kebebasan manusia sejatinya telah melekat, keberadaannya masih terus diperjuangkan manusia. Salah satu iklan dengan tema kebebasan manusia yang ditayangkan di Youtube adalah iklan dari IM3 Ooredoo berjudul Kebebasan Itu Bernama #FreedomInternet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna kebebasan manusia dalam iklan IM3 Ooredoo versi Kebebasan Itu Bernama #FreedomInternet. Penelitian ini menggunakan teori dan konsep periklanan, media baru, realitas sosial, eksistensialisme, jenis kebebasan manusia, dan semiotika. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan paradigma kritis dan metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah kebebasan manusia tidak bersifat absolut karena masih ada hal yang membatasinya, serta terdapat juga adegan yang meliputi kebebasan fisik, psikologis, dan moral dalam iklan tersebut.
Monochrome is a local brand operating in the fashion sector. In running the company since 2010, Monochrome has implemented marketing communications as a method or form of sales, the use of social media in the form of seeking brand engagement, and CRM as a form of maintaining relationships with customers. In practice, this communication is continuous with one another. Social media is used as a forum for seeking brand engagement through entertainment content which is executed by content creators and proposed ideas and concepts by social media specialists, then it will continue to marketing communications in selling Monochrome products and building relationships with customers through CRM. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data collection was carried out by researchers by means of observation, interviews and documentation. In increasing brand engagement, Monochrome uses social media specialists to create marketing strategies through Instagram social media. This is proven by the way social media specialists create and promote idea concepts that content creators will execute. In executing this content, the content creator will create entertainment or educational videos in search of brand engagement and also CRM as a form of maintaining relationships with customers. Monochrome merupakan brand lokal yang bergerak di bidang fashion. Dalam menjalankan perusahaan sejak 2010, Monochrome menerapkan komunikasi pemasaran sebagai cara atau bentuk penjualan, pemanfaatan media sosial dalam bentuk mencari brand engagement, dan CRM sebagai bentuk menjaga hubungan dengan pelanggan. Dalam pelaksanaannya, komunikasi ini saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya. Sosial media dijadikan wadah mencari brand engagement melalui konten entertainment yang di eksekusi oleh content creator dan diusung ide dan konsep oleh social media specialist, kemudian akan berlanjut kepada komunikasi pemasaran dalam menjual produk Monochrome dan membangun hubungan dengan pelanggan melalui CRM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan peneliti dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam meningkatkan brand engagement, Monochrome menggunakan social media specialist dalam membuat strategi pemasaran melalui media sosial Instagram, hal ini terbukti dengan cara social media specialist membuat dan mengusung konsep ide yang akan dieksekusi content creator. Dalam mengeksekusi konten tersebut, content creator akan membuat video entertainment atau pun edukatif dalam mencari brand engagement dan juga CRM sebagai bentuk dalam menjaga hubungan dengan pelanggan.
One of the many forms of communication that we often encounter in everyday life is group communication. In this case, group communication is communication that occurs with several individuals. In this case, group communication will also influence the success of the group in achieving the goals to be achieved. In this research, group communication occurred within the marketing division of PT. Mirae Indonesia will be researched further. Because of this, this research will involve three informants, namely Alexa, Pandu, and Yohanes as well as one expert informant, namely Maria. In this case, apart from interviews, this research also uses documentation and observation data collection methods with the aim of obtaining more relevant data. The purpose of this research is to determine the function and process of group communication that occurs within the marketing division of PT. Mirae Indonesia. The theory used in this research is group communication theory. The results from this research are that group communication that occurs within the marketing division also has a function and also goes through various stages. Salah satu bentuk komunikasi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah komunikasi kelompok. Dalam hal ini komunikasi kelompok merupakan komunikasi yang terjadi dengan beberapa individu. Dalam hal ini komunikasi kelompok juga akan mempengaruhi keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dalam penelitian ini terjadi komunikasi kelompok pada divisi pemasaran PT. Mirae Indonesia akan diteliti lebih lanjut. Oleh karena itu, penelitian ini akan melibatkan tiga orang informan yaitu Alexa, Pandu, dan Yohanes serta satu orang informan ahli yaitu Maria. Dalam hal ini selain wawancara, penelitian ini juga menggunakan metode pengumpulan data dokumentasi dan observasi dengan tujuan untuk memperoleh data yang lebih relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi dan proses komunikasi kelompok yang terjadi pada divisi pemasaran PT. Mirae Indonesia. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi kelompok. Hasil dari penelitian ini adalah komunikasi kelompok yang terjadi pada divisi pemasaran juga mempunyai fungsi dan juga melalui berbagai tahapan.
The development of the times always moves dynamically and quickly which affects all aspects starting from a person's behavior habits, mindset, actions, and including in communication and information. One form of communication and information is film. Film is a mass media that can be absorbed by many audiences, because films are able to show a picture of everyday social life. Movies can provide messages, information, images, emotions and also have a positive impact on the audience. On the other hand, it can also have a negative effect on the delivered message through the film. Movies can have a big and massive impact on people's lives. The Founder film is a film that tells the story of Ray Kroc's struggle to achieve success through the McDonald's restaurant business. This research aims to examine and analyze the elements of communication of entrepreneurial values found in The Founder film. This research uses Ferdinand de Saussure's theory of semiotics which refers to the signifier and the signified, the author conducts an experiment to analyze elements of the communication of entrepreneurial values in the figure of Ray Kroc in his journey of success which is shown in the film The Founder. The author conducted research using a qualitative method approach and the subject of the research focused on the main character Ray Kroc in the film The Founder and the object used was a form of communication of the entrepreneurial values of Ray Kroc. The author uses a triangulation technique to ensure the validity of the data. The results of this study are that researchers can conclude that there is an element of communication of entrepreneurial values on the figure of Ray Kroc which has been analyzed using Ferdinand de Saussure's semiotic analysis which focuses on entrepreneurial values. Perkembangan zaman selalu bergerak secara dinamis dan cepat yang mempengaruhi segala aspek mulai dari kebiasaan perilaku seseorang, pola pikir, tindakan, dan termasuk dalam komunikasi dan informasi. Salah satu bentuk dari komunikasi dan informasi adalah Film. Film merupakan media massa yang dapat diserap oleh banyak khalayak, karena film mampu untuk menunjukan gambaran terhadap kehidupan sosial sehari-hari. film dapat memberikan pesan, informasi, gambaran, emosi dan juga memberikan dampak positif bagi penonton. Disisi lain, juga dapat memberikan efek negatif dari pesan yang disampaikan melalui film. Film dapat memberikan dampak yang besar dan masif kepada kehidupan masyarakat. Film The Founder merupakan film yang menceritakan perjuangan Ray Kroc untuk meraih kesuksesan melalui bisnis restoran McDonald. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti dan menganalisa unsur komunikasi nilai-nilai kewirausahaan yang terdapat pada film The Founder. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure yang mengutara kepada penanda (signifier) dan petanda (signified), penulis melakukan pencobaan analisis unsur komunikasi nilai-nilai kewirausahaan pada sosok Ray Kroc dalam perjalanan kesuksesannya yang ditampilkan pada film The Founder. Penulis melakukan penelitian dengan pendekatan metode kualitatif serta subjek dari penelitian memfokuskan pada tokoh Ray Kroc dalam film The Founder dan objek yang digunakan adalah bentuk komunikasi nilai-nilai kewirausahaan tokoh Ray Kroc. Penulis menggunakan Teknik triangulasi untuk memastikan keabsahan data. Hasil dari penelitian ini adalah peneliti dapat menyimpulkan terdapat unsur komunikasi nilai-nilai kewirausahaan pada sosok Ray Kroc yang telah dianalisa menggunakan Analisis semiotika Ferdinand de Saussure yang berfokus kepada nilai-nilai kewirausahaan.