Latar Belakang: Demam tifoid adalah infeksi sistemik disebabkan oleh Salmonella Typhi, melalui makanan atau air yang terkontaminasi menyebabkan trombositopenia mengancam jiwa penderita demam tifoid.Tujuan mengetahui gambaran jumlah trombosit pada penderita demam tifoid di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Kota Palembang Tahun 2021. Metode deskriptif rancang cross sectional. Populasi dan sampel penelitian ini seluruh penderita demam tifoid di Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang Tahun 2021 sebanyak 85 penderita. Hasil dari 85 data sebanyak 64 orang 75,3% trombosit normal dan 21 orang 24,7% trombosit tidak normal. Pada penderita demam tifoid kategori umur sebanyak 36 orang berumur <12 tahun 75,0% trombosit normal dan 25,0% trombosit tidak normal. Dan 20 penderita demam tifoid yang berumur 12-25 tahun di dapat sebanyak 75,0% trombosit normal dan sebanyak 25,0% trombosit tidak normal. Dan 29 penderita demam tifoid kategori >25 tahun sebanyak 53.5% trombosit normal dan sebanyak 24,1% trombosit tidak normal. Pada penderita kategori suhu tubuh normal berjumlah 35 orang didapatkan 71,4% trombosit normal dan 28,6% trombosit tidak normal. Sedangkan kategori suhu tubuh tidak normal berjumlah 50 orang didapatkan 78.0% trombosit normal dan 22.0% trombosit tidak normal. pada penderita demam tifoid kategori jenis kelamin dari 56 yang berjenis kelamin perempuan didapatkan 80,4% trombosit normal dan 19.6% trombosit tidak normal. Sedangkan dari 29 orang berjenis kelamin laki laki sebanyak 65,5% trombosit normal dan 65,5% trombosit tidak normal.. Kesimpulan: hasil ditemukan jumlah trombosit normal. Kata kunci : Demam tifoid, trombosit, trombositopenia.
Brain Gym merupakan beberapa gerakan sederhana yang didesain dapat meoptimalisasi otak. Hal tersebut menyangkut keseimbangan otak bagian kanan-kiri, relaksasi otak belakang dan otak depan. Gerakan tersebut dapat menyerap jumlah kemampuan dalam berkomunikasi lebih cepat. Gerakan yang dapat berpengaruh untuk merengangkan otot dan konsentrasi, pengertian serta pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brain gym terhadap perkembangan motorik halus pada anak umur 4-5 tahun. Dengan menggunakan metode studi literatur maka dilakukan analisis terhadap hasil penelusuran jurnal (e-journal) dan artikel dengan tinjauan teori (e-book). Penelitian ini mengungkapkan bahwa Frekuensi pemberian brain gymterhadap perkembangan motorik halus dapat dilihat dalam waktu 3x seminggu, Lama pemberian senam otak terhadap perkembangan motorik halus pada anak 4-5 tahun 10-15 menit, Lama waktu untuk mendapatkan hasil kemajuan perkembangan motorik halus pada anak adalah 4 minggu. Alat ukur yang digunakan untuk menilai hasil kemajuan perkembangan motorik halus pada anak usia 4-5 tahun menggunakan KPSP. Efektivitas pemberian senam otak lebih baik daripada metode lainnya (alat permainan edukatif, seperti kartu pasangan, loto warna kotak alpabet dan aktivitas fungsional, seperti berjalan santai, membaca dan menulis) terhadap peningkatan motorik halus pada anak
Pendahuluan: Air merupakan salah satu kebutuhan hidup dan merupakan dasar bagi perikehidupan di bumi. Kebutuhan air minum setiap orang berbeda-beda dari 2,1 liter hingga 2,8 liter perhari tergantung berat badan aktivitasnya. Namun air minum yang dikonsumsi harus sehat yaitu harus memenuhi persyaratan fisika, kimia maupun mikrobiologis. Kontaminasi pada air minum isi ulang dapat terjadi karena pengolahan air di depot air yang tidak efektif, terdapat kontaminasi baik dalam proses pengisian air atau selama perjalanan air galondari tempat produksi ke rumah konsumen. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan persyaratan mikrobiologis pada Air Minum Isi Ulang para penjual Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Sukarami Palembang. Solusi : Dilakukan penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan persyaratan mikrobiologis para penjual Air Minum Isi Ulang (AMIU) di Kecamatan Sukarami Palembang. Waktu: Dilaksanakan pada Kamis, 21 Oktober 2021, diikuti 10 orang penjual AMIU dengan pelaksana 3 orang dosen bersama 3 orang mahasiswa. Hasil:Didapatkan 10 sampel Air Minum Isi Ulang (100 %) semuanya memenuhi syarat secara mikrobiologis yaitu <0/100 MPN. Terjadi peningkatan pemahaman penjual AMIU (100 %) setelah penyuluhan tentang pengetahuan secara mikrobiologis penjual air minum isi ulang di kota palembang. Saran: Untuk selalu meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan dalam pengelolaan kebersihan penjual Air Minum Isi Ulang (AMIU)
Diseases transmitted by mosquitoes are still a health problem in Indonesia, including in Banyuasin Regency, South Sumatra Province. Among the various types of mosquitoes that are vectors of the disease, some prefer animal blood. Research on the diversity of mosquitoes has been carried out in the village of Gasing. The purpose of this study was to obtain an overview of the distribution of mosquito diversity in cattle pens and goat pens. The study was conducted with free collection, namely catching mosquitoes that perch in the cage and outside the catching cage starting from 18.00 to 24.00 WIB. Distribution of the diversity of mosquitoes around the cattle pens in six locations obtained 3 genera and 8 species of mosquitoes from a total of 745 mosquitoes caught. Culex gellidus was the most common mosquito found 291 individuals (39.06%). Meanwhile, there were only 10 Aedes aegypti mosquitoes (1.34%) followed by Mansonia Indiana with 11 (1.47%). Based on the time of catching, it was found at 19.01-20.00 WIB as many as 180 fish (24.16%) which began to increase starting at 18.00 WIB. There are fewer cages in a wet environment than in a dry environment. Suggestions for starting a fire around the cage need to be continued and try to keep the cage dry.
Selama hamil seorang ibu mengalami perubahan perubahan yang terjadi baik fisik maupun psikologis. Perubahan yang terjadi selama kehamilan sering kali menjadi keluhan bagi ibu hamil diantaranya adalah mual muntah pada awal kehamilan, konstipasi, varises vena (pembuluh balik), gangguan berkemih, hemoroid, dan pembengkakan pada tungkai dan kaki serta nyeri punggung. Nyeri punggung bawah pada kehamilan menjadi masalah yang mengganggu kenyamanan ibu saat menjalani proses kehamilan. pengobatan nyeri punggung bawah dengan terapi accupressure dengan hasil bahwa terapi akupresur efektif dalam mengatasi nyeri punggung. Accupressure adalah salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada titik-titik tertentu pada tubuh yang berguna untuk mengurangi bermacam-macam sakit dan nyeri serta mengaktifkan kembali peredaran energi vital dan chi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian accupressure terhadap rasa nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III.Metode penelitian ini menggunakan studi literatur dimana dilakukan analisis terhadap hasil penelusuran artikel jurnal (e-jurnal) dan artikel dengan tinjauan teori yang ada (e-book). Dari hasil studi literature ini diketahui bahwa terdapat pengaruh pemberian accupressure terhadap rasa nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester III Karena dapat meningkatkan hormon endorphin, hormone endhorpi dapat menimbulkan rasa nyaman dan memblok respon nyeri keotak lalu intensitas nyeri punggung berkurang.
Diagnostik tuberculosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan mikroskopis Bakteri Tahan Asam metode Zihel Nelseen (ZN) pada sputum penderita. Selain itu ada juga pemeriksaan Metode Test Cepat Molekuler (TCM) tetapi karena metode tersebut memerlukan peralatan yang sangat mahal sehingga sulit untuk dapat dilaksanakan di sarana kesehatan dengan fasilitas sederhana. Pada penelitian Eka Kurniwan, dkk (2016) dari hasil pemeriksaan 40 sampel dengan metode RT-TCM GeneXpert, didapatkan positif 40%. Tujuan penelitian ini diketahui Mycobacterium tuberculosis melalui pemeriksaan sputum melalui Pengecatan Bakteri Tahan Asam metode Zihel Nelseen (ZN) dan Test Cepat Molekuler (TCM) berdasarkan Volume, Bau, Warna dan Konsistensi. Jenis penelitian yang digunakan adalah uji diagnostik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dan sampel sebanyak 42 pasien. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan metode total sampling. Sumber Data diambil secara langsung (primer) dan tidak langsung (data skunder). Hasil penelitian volume <5 ml dengan metode ZN hasil positif 38%, P-value 0,637 > 0,05 metode TCM hasil positif 38,5%, P-value 0,859 > 0,05 disimpulkan tidak ada pengaruh. Berdasarkan Bau dengan ZN positif 41,2%, P-value 0,026 < 0,05 TCM positif 41,2% P-value 0,000<0,05 disimpulkan ada pengaruh. Warna Kuning Kehijauan dengan ZN hasil positif 68,8%, P-value 0,000<0,05 TCM Rifamfisin positif 68,8%, P-value 0,000 <0,05 disimpulkan ada pengaruh. Konsistensi Mucopurulen dengan ZN hasil positif 73,7% P-value 0,000 <0,05 TCM positif 73,7% P-value 0,000<0,05 disimpulkan ada pengaruh. Kesimpulan tidak ada pengaruh berdasarkan volume, ada pengaruh berdasarkan bau, warna dan konsistensi sputum. Terdapat perbedaan hasil Mycobacterium tuberculosis melalui pemeriksaan sputum melalui metode ZN dan metode TCM. Sarannya bagi pasien untuk memeriksakan sputum harus memenuhi apa yang diminta oleh petugas laboratorium dan bagi petugas laboratorium agar melakukan konfirmasi hasil pemeriksaan ke method TCM.
ABSTRAK Latar Belakang : Bakso adalah produk olahan daging berbentuk bulatan atau lain yang dibuat dari campuran daging dan pati. Bakso merupakan produk yang sangat digemari masyarakat selain karena rasanya yang lezat bakso juga merupakan jajanan yang sangat mudah ditemui di mana-mana. Lingkungan, penyimpanan bahan makanan dan kebersihan diri yang kurang higienis dapat menyebabkan bakso tercemar bakteri Escherichia coli. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keberadaan Escherichia coli pada produk olahan daging bakso yang dijual di Kecamatan Ilir Barat I Kota Palembang Tahun 2018. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive dengan sampel bakso yang diambil dari masing-masing 10 pedagang bakso di Kecamatan Ilir Barat I dan tiap sampel diambil sebanyak 250-300gram. Metode pemeriksaan yaitu isolasi dan identifikasi. Hasil : Dari hasil 10 sampel bakso, didapatkan 1 sampel (10%) ditemukan positif Escherichia coli. Berdasarkan lingkungan tempat berjualan yang kurang baik didapatkan hasil dari 2 sampel, 1 sampel (50%) ditemukan positif Escherichia coli. Berdasarkan penyimpanan bahan makanan yang terbuka didapatkan hasil dari 7 sampel, 1 sampel (14,3%) ditemukan positif Escherichia coli. Berdasarkan kebersihan diri yang kurang baik didapatkan hasil dari 4 sampel, 1 sampel (25%) ditemukan positif Escherichia coli. Kesimpulan : Produk olahan daging bakso yang dijual terdapat adanya Escherichia coli. Disarankan para penjual untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri serta menyimpan bahan makanan secara tertutup. Bagi konsumen sebaiknya memperhatikan kebersihan makanan yang akan dikonsumsi. Kata Kunci: Bakso, Escherichia coli, Produk olahan daging ABSTRACT Background : Meatballs are processed meat products in the form of circles or other made from a mixture of meat and starch. Meatballs are a product that is very popular with the public, apart from the delicious taste, meatballs are also snacks that are very easy to find everywhere. The environment, food storage and unhygienic personal hygiene can cause meatballs to be contaminated with Escherichia coli bacteria. The purpose of this study was to describe the presence of Escherichia coli in processed meatball products sold in Ilir Barat I District, Palembang City in 2018. Methods: This study is descriptive. The sampling technique used was purposive with samples of meatballs taken from each of 10 meatball traders in Ilir Barat I District and each sample was taken as much as 250-300 grams. The inspection method is isolation and identification. Results: From the results of 10 samples of meatballs, 1 sample (10%) was found to be positive for Escherichia coli. Based on the unfavorable selling environment, the results obtained from 2 samples, 1 sample (50%) was found to be positive for Escherichia coli. Based on the open storage of food ingredients, 7 samples were found, 1 sample (14.3%) was found to be positive for Escherichia coli. Based on poor personal hygiene, 4 samples were found, 1 sample (25%) was found to be positive for Escherichia coli. Conclusion: Processed meatball products sold contain Escherichia coli. Sellers are advised to keep the environment clean and personal hygiene and keep food ingredients closed. Consumers should pay attention to the cleanliness of the food to be consumed. Keywords: Meatballs, Escherichia coli, Processed meat products
ABSTRAK Latar Belakang: Stres merupakan respon tidak spesifik tubuh karena adanya tuntutan yang melebihi kemampuan individu tersebut untuk memenuhinya. Saat stres, tubuh akan merespon dengan menstimulasi area hipotalamus untuk menghasilkan hormon epinefrin yang berfungsi untuk mengubah glikogen menjadi glukosa dan norepinefrin yang berfungsi untuk mencegah penurunan kadar glukosa darah. Kondisi stres yang terus berlangsung dapat mengakibatkan kadar glukosa meningkat sehingga dapat menimbulkan risiko hipertensi dan diabetes melitus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar glukosa darah dengan tingkat stres mahasiswa tingkat 3 Program Studi DIII Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Poltekkes Kemenkes Palembang tahun 2021. Metode: penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 9 Februari 2021 di Kampus Jurusan TLM Poltekkes Kemenkes Palembang. Sampel penelitian berjumlah 40 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu menggunakan metode GOD-PAP dan pengukuran tingkat stres menggunakan kuesioner DASS-42. Hasil: rata-rata kadar glukosa darah dengan tingkat stres normal adalah 83 mg/dL, rata-rata kadar glukosa darah dengan tingkat stres ringan adalah 82 mg/dL, rata-rata kadar glukosa darah dengan tingkat stres sedang adalah 83 mg/dL, dan rata-rata kadar glukosa darah dengan tingkat stres berat adalah 81 mg/dL. Dari hasil uji Anova didapatkan nilai p-value = 0.98 atau > 0,05. Ini berarti bahwa tidak ada hubungan antara kadar glukosa dengan tingkat stres mahasiswa. Kesimpulan: tidak ada hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah dengan tingkat stres mahasiswa. Kata kunci : Glukosa darah, tingkat stres, mahasiswa ABSTRACT Background: Stress is a non-specific response of the body due to demands that exceed the individual's ability to fulfill them. When people get stressed, the body will respond by stimulating the hypothalamic area to produce the epinephrine which functions to convert glycogen into glucose and norepinephrine which functions to prevent a decrease in blood glucose levels. Continuous stress can cause glucose levels to increase so that it can increase the risk of hypertension and diabetes mellitus. The purpose of this study was to determine the relationship between blood glucose levels and stress levels on the third year students of the Medical Laboratory Technology (MLT), a three-year diploma program, Poltekkes Kemenkes Palembang in 2021. Methods: This research is an observational-analytic study with a cross-sectional approach. The research was carried out on February 9, 2021 at the MLT Campus, Palembang. The number of research sample was 40 students who were selected based on inclusion and exclusion criteria. The determination of blood glucose levels used the GOD-PAP method and the measurement of stress levels used the DASS-42 questionnaire. Results: the average blood glucose level with stress level of normal, mild, moderate, and severe were 83 mg/dL, 82 mg/dL, 83 mg/dL, and 81 mg/dL, respectively. From the results of the ANOVA test, the p-value = 0.98 or > 0.05. This means that there is no relationship between glucose levels and student stress levels. Conclusion: there is no significant relationship between blood glucose levels and stress levels of students. Keywords: Blood glucose, stress level, students
ABSTRAK Latar Belakang Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun multisistem yang mengakibatkan kerusakan organ,jaringan dan sel mediasi karena kompleks imun dan autoantibodi yang berikatan dengan antigen jaringan. LES dapat menyerang satu atau lebih organ, salah satu organ yang banyak diserang adalah ginjal yang dapat menyebabkan komplikasi LES yakni Lupus Nefritis yang memiliki gejala proteinuria. Proteinuria adalah keadaan abnormal dimana jumlah protein dalam urin lebih dari 300 mg dalam urin 24 jam dan 30 mg/dL dalam urin sewaktu. Tujuan penelitian: ini adalah untuk mengetahui frekuensi proteinuria pada penderita Lupus Eritematosus Sistemik (LES) di Palembang tahun 2020, berdasarkan umur, jenis kelamin dan lama sakit. Metode Penelitian: metode penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Sampel pemeriksaan yang digunakan adalah urin sewaktu. Jumlah sampel penelitian adalah 29 orang pasien LES di Komunitas PLSS Palembang yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Metode pemeriksaan urin menggunakan metode carik celup (dipstick). Hasil penelitian: menunjukkan sebanyak 6 orang (20.7%) positif proteinuria dan 23 orang (79.3%) negatif proteinuria, Dari 6 orang dengan proteinuria positif, berdasarkan umur ada 6 orang (25.0%) dengan umur berisiko (<50 tahun) dan 0 orang (0.0%) dengan umur tidak berisiko (>50 tahun); berdasarkan jenis kelamin ada 1 orang (50.0%) berjenis kelamin laki-laki dan 5 orang (18.5%) berjenis kelamin perempuan; berdasarkan lama sakit, terdapat 4 orang (57.1%) menderita LES <5 tahun,2 orang (9.1%) menderita LES >5 tahun. Dengan demikian disarankan bagi pasien LES untuk menambahkan pemeriksan fungsi ginjal atau urinalisa pada saat melakukan kontrol rutin. Kata Kunci : Proteinuria, Lupus Eritematosus Sistemik, Autoimun ABSTRACT Background: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is a multisystem autoimmune disease that causes organ, tissue and cell damage due to immune complexes and autoantibodies that bind to tissue antigens. SLE can attack one or more organs, one of the organs that is mostly attacked is the kidney which can cause SLE complications, namely Lupus Nephritis which has symptoms of proteinuria. Proteinuria is an abnormal condition in which the amount of protein in the urine is more than 300 mg in the 24-hour urine and 30 mg/dL in the urine at any time. The purpose of this study: was to determine the frequency of proteinuria in patients with Systemic Lupus Erythematosus (SLE) in Palembang in 2020, based on age, sex and length of illness. Research Methods: This research method is descriptive with a cross-sectional design. The examination sample used was urine at the time. The number of research samples was 29 SLE patients in the Palembang PLSS Community determined by purposive sampling technique. Urine examination method using the dipstick method. The results: showed that 6 people (20.7%) were positive for proteinuria and 23 people (79.3%) were negative for proteinuria. Of the 6 people with positive proteinuria, there were 6 people (25.0%) with age at risk (<50 years) and 0 people. (0.0%) with no risk age (>50 years); based on gender there were 1 person (50.0%) male and 5 (18.5%) female; based on the length of illness, there were 4 people (57.1%) suffering from SLE <5 years, 2 people (9.1%) suffering from SLE >5 years. Thus, it is recommended for SLE patients to add kidney function tests or urinalysis during routine check-ups. Keywords: Proteinuria, Systemic Lupus Erythematosus, Autoimmune
Latar Belakang: Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang penyebarannya sangat mudah sekali yaitu: melalui batuk,bersin dan berbicara,Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lingkungan keluarga dan prilaku keluarga dengan kejadian Di RSUD Kayu Agung Pada Tahun 2018. Metode penelitian bersifat Deskriptif dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan di RSUD Kayu Agung. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang berobat di instalasi rawat jalan penyakit Di RSUD Kayu Agung. Hasil penelitian dari semua populasi didaptkan 10 responden dengan persentase (33.3%) jumlah ini lebih kecil dibanding responden yang tidak terdiagnosa TB Paru dengan persentase (66.7%). Berdasarkan Lingkungan Keluarga yang tidak sehat sebanyak 10 responden dengan persentase (33.3%) jumlah ini lebih kecil dibanding responden Lingkungan Keluarga yang sehat dengan persentase (66.7%). berdasarkan Prilaku Keluarga buruk didapatkan persentase (36.7%), jumlah ini lebih kecil dibanding responden Prilaku Keluarga baik dengan persentase (63.3%). Berdasarkan uji chi square pada α=0.05 diperolehp value=0.005< α=0.05 maka menunjukan ada hubungan yang bermakna antara lingkungan keluarga dengan kejadian TB Paru. Kesimpulan secara hipotesis menyatakan ada hubungan antara prilaku keluarga dengan kejadian TB Paru dan menyatakan ada hubungan antara lingkungan keluarga dengan kejadian TB Paru.. Kata kunci : TB Paru,Lingkungan keluarga, Prilaku keluarga
Pendahuluan: Lingkungan hiperglikemik pada pasien DM tipe 2 lebih mudah menyebabkan pasien mengalami berbagai infeksi, salah satunya adalah Infeksi Saluran Kemih (ISK). Tidak semua ISK menunjukkan gejala, ISK yang tidak menunjukkan gejala adalah ISK asimtomatik atau bakteriuria asimtomatik. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui gambaran bakteriuria asimtomatik pada penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang berdasarkan umur, jenis kelamin dan glukosauria. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan cross sectional dan metode pemeriksaan urinalisis dengan carik celup. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling. Hasil: Dari 30 penderita DM tipe 2 didapatkan sebanyak 7 penderita (23,3%) positif bakteriuria asimtomatik. Dari 24 penderita DM tipe 2 yang berumur lebih dari 45 tahun yang diperiksa, sebanyak 6 penderita (25,0%) positif. Sedangkan dari 6 penderita DM tipe 2 yang berumur kurang dari 45 tahun yang diperiksa, sebanyak 1 penderita (16,7%) positif. Dari 8 penderita DM tipe 2 laki-laki yang diperiksa sebanyak 1 penderita (12,5%) positif. Sedangkan dari 22 penderita DM tipe 2 perempuan yang diperiksa, sebanyak 6 penderita (27,3%) positif. Dari 13 glukosauria positif, sebanyak 5 penderita (38,5%) positif. Sedangkan dari 17 glukosauria negatif sebanyak 2 penderita (11,8%) positif. Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa 7 dari 30 penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang mengalami bakteriuria asimtomatik.
Infections in the vagina every year affect women worldwide, reaching 10-15% of 100 million women, namely candida bacterial infection and experience vaginal discharge. The problem of vaginal discharge that occurs in adolescents needs special attention. If leucorrhoea in adolescents is allowed to cause serious illness and very fatal consequences if treated too late, for example it can cause infertility, pelvic inflammation and cervical cancer. Leucorrhoea is 95% of the early symptoms of cervical cancer which can lead to death if not treated immediately. Caring for genetalia has a role in determining health status. Performing vulva hygiene properly will avoid infection of the reproductive organs. The behavior of vulva hygiene and the use of toilet paper can overcome the incidence of vaginal discharge because it aims to maintain cleanliness and dry the female organs so as to reduce the occurrence of reproductive health problems in women, especially to prevent vaginal discharge. The aim of this study was to find out how the relationship between vulva hygiene and the use of toilet paper to reduce the incidence of fluor albus (vaginal discharge) in young women.This research method uses a literature study where an analysis of the search results of journal articles (e-journals) and articles with a review of existing theories (e-books) is carried out. This study revealed that there was a relationship between vulva hygiene behavior and the use of toilet paper in reducing the incidence of vaginal discharge. Infeksi pada vagina setiap tahunnya menyerang perempuan di seluruh dunia mencapai 10-15% dari 100 juta perempuan, yaitu infeksi bakteri candida dan mengalami keputihan. Masalah keputihan yang terjadi pada remaja perlu mendapatkan perhatian khusus. Jika keputihan pada remaja dibiarkan maka akan menimbulkan penyakit serius dan berakibat sangat fatal bila terlambat ditangani, misalnya dapat menimbulkan kemandulan, radang panggul serta kanker leher rahim. Keputihan merupakan 95% gejala awal dari kanker leher rahim yang bisa berujung pada kematian bila tidak segera mendapatkan penanganan. Melakukan perawatan organ genetalia mempunyai peranan dalam menentukan status kesehatan. Melakukan vulva hygiene dengan baik akan terhindar dari infeksi alat reproduksi. Perilaku vulva hygiene dan penggunaan tisu toilet dapat mengatasi kejadian keputihan karena bertujuan untuk menjaga kebersihan dan mengeringkan organ kewanitaan sehingga mengurangi terjadinya gangguan kesehatan reproduksi pada wanita terutama untuk mencegah terjadinya keputihan.Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana hubungan vulva hygiene dan penggunaan tisu toilet terhadap penurunan kejadian fluor albus (keputihan) pada remaja putri. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur dimana dilakukan analisis terhadap hasil penelusuran artikel jurnal (e-jurnal) dan artikel dengan tinjauan teori yang ada (e-book). Penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat hubungan perilaku vulva hygiene dan penggunaan tisu toilet dalam mengurangi kejadian keputihan.
The period of pregnancy is the health status of pregnant women which can be determined by examining and pregnancy at the closest health service called Antenatal care (ANC) pre-delivery care or care for pregnant women. ANC is a pregnancy to optimize the mental and physical health of pregnant women. Thus being able to deal with childbirth, during childbirth, breastfeeding, and returning to health naturally. Antenatal care examination is a pregnancy that is performed for periodic examination of the mother and fetus, followed by correction of deviations. The pregnancy period is the health status of pregnant women which can be known by examining their pregnancy checks at the nearest health service called ANC care before delivery or care for pregnant women. Antenatal care (ANC) is a pregnancy to optimize the mental and physical health of pregnant women. An antenatal care examination is a pregnancy performed for periodic examination of the mother and fetus, which is followed by corrective action against the prescribed. The purpose of this study was to determine the correlation between husband supports in pregnant women on the Antenatal Care (ANC) visit at Private Midwifery Palembang. This study used qualitative descriptive research with a sectional cross-sectional design. The significant result with the Chi-square test was α = 0.05. The sample was 25 pregnant mothers. In this study, the results of mothers who received husband support were 23 respondents (92%), while mothers who did not receive husband support were 2 respondents (8%). Mothers who had good Antenatal Care visits were 23 respondents (92%), while those who were not good at conducting Antenatal Care visits were 2 respondents (8%). Data analysis used univariate and bivariate analysis. The statistical test results obtained ρ value = 0,000. It could be concluded that there was a significant correlation between husband's support for pregnant mothers and ANC visit in 2019 at Private Midwifery Palembang.
Background: Venous blood sampling has several risks of complication, the basic cause was emotional factor, such as anxiety and pain, which remain important to be solved. Objective: The aim of this study was to determine the effect of hypno–EFT to reduce the anxiety and pain during venous blood sampling. Methods: The design of the study was quasi experimental, with pretest posttest with control group design. The sampling technique was simple random sampling to select 52 respondents. Anxiety was measured using a Hamilton anxiety rating scale (HARS) modification and pain was measured using the Visual analogue scale (VAS) method. Wilcoxon and Manova multivariate test were used for data analysis. Results: Before hypno-EFT there was 1 person (2.9%) did not experience anxiety, 9 people (25.7%) with mild anxiety, 20 people (57.1%) with moderate anxiety and 5 people (14.3%) with severe anxiety. After hypno-EFT therapy, there were 23 people (65.7%) did not get anxiety, mild anxiety were 11 people (31.4%) and severe anxiety was found in 1 person (2.9%). For the average pain of respondent in venipuncture before hypno-EFT was 3.20 with a median 3.00 and a standard deviation was 1.91. The minimum value of pain was 0 and 9 in maximum. After therapy Hypno-EFT, the average pain was 1.54 and the minimum value of pain was 0 and 6 at maximum. Statistical result showed that the p-value of anxiety and pain was 0.000 (<0.05) Conclusion: There was a significant effect of hypno-EFT therapy to decrease the anxiety and pain during venous blood sampling. This method is recommended as an alternative procedure in venous blood sampling with complicating factors.