Penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh F. oxysporum merupakan salah satu kendala utama produksi cabai merah (Capsicum annuum L.) di Sulawesi Tenggara, dengan potensi kerugian panen hingga 50%. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sintetis menimbulkan dampak negatif berupa pencemaran lingkungan dan resistensi patogen, sehingga diperlukan alternatif pengendalian hayati yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan campuran bakteri endofit asal tumbuhan liar dalam menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit layu Fusarium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Unit Fitopatologi dan di Rumah Kaca Lahan I Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo pada Bulan Juli sampai September 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan yang diulang 3 kali sehingga terdapat total 24 unit percobaan, setiap unit terdiri dari 5 tanaman, sehingga populasi dalam penelitan ini adalah 120 tanaman. Penelitian menggunakan tiga isolat bakteri endofit asal tumbuhan liar, yaitu BK-3(2) dari batang kersen, BSR-7(1) dari batang suruhan, dan ASR-7(1) dari akar suruhan, yang diaplikasikan secara tunggal maupun kombinasi. Parameter yang diamati meliputi aktivitas enzim peroksidase, kadar asam salisilat, aktivitas enzim polifenol oksidase, dan keparahan penyakit layu Fusarium. Data dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan bakteri endofit terbukti mampu menginduksi ketahanan tanaman cabai. Perlakuan kombinasi BK-3(2)+BSR-7(1) dan BK+ASR+BSR secara konsisten memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan ketiga parameter enzim pertahanan tersebut. Tingkat keparahan penyakit pada perlakuan kombinasi BK-3(2)+BSR-7(1) dan BK+ASR+BSR tercatat paling rendah, yakni masing-masing 13,33%, dibandingkan kontrol sebesar 36,00%. Bakteri endofit menginduksi ketahanan tanaman melalui mekanisme Induced Systemic Resistance (ISR) dan Systemic Acquired Resistance (SAR). Disimpulkan bahwa konsorsium bakteri endofit asal tumbuhan liar efektif menginduksi resistensi tanaman cabai terhadap penyakit layu Fusarium.
Fermentasi merupakan metode pengolahan pangan yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas, keamanan, dan nilai fungsional produk. Indonesia memiliki keragaman pangan fermentasi tradisional yang tinggi dengan komunitas mikroorganisme indigenous yang berperan dalam pembentukan karakteristik sensori dan biokimia produk. Proses fermentasi yang umumnya berlangsung spontan menyebabkan variabilitas mutu dan potensi risiko keamanan, sehingga diperlukan pengembangan starter culture terdefinisi. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif potensi mikroorganisme indigenous dari pangan fermentasi tradisional Indonesia sebagai sumber starter culture industri. Metode yang digunakan berupa studi literatur terhadap keragaman mikroorganisme, karakteristik fungsional, serta peluang aplikasinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa bakteri asam laktat, khamir, dan kapang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, fleksibilitas metabolik, serta potensi menghasilkan senyawa bioaktif dan probiotik. Mikroorganisme tersebut berperan dalam peningkatan kualitas sensori, keamanan, dan efisiensi fermentasi. Pengembangan menuju aplikasi industri masih menghadapi tantangan terkait stabilitas genetik, keamanan, konsistensi performa, dan skala produksi. Pendekatan bioteknologi modern berbasis genomik dan metabolomik diperlukan untuk mendukung seleksi dan optimasi strain. Pangan fermentasi tradisional Indonesia berpotensi menjadi sumber strategis pengembangan starter culture yang berkelanjutan dan berbasis biodiversitas lokal.
Soybean (Glycine max L.) is an important commodity in supporting national food security. However, its productivity in Indonesia, especially in the ultisol lands of Southeast Sulawesi, is still low due to limited soil fertility and bacterial pustule disease attacks. This study aims to determine the effectiveness of the combination of Biofresh plus biofertilizer and NPK inorganic fertilizer doses in suppressing the intensity of bacterial pustule disease in several soybean varieties on ultisol soil. The study applied a split plot design within a BRD framework, consisting of 16 treatment combinations and replications three times. The variables measured included disease severity, area under the disease development curve (AUDPC), and the level of effectiveness of disease control. The results showed that the Dena-1 (F4) variety was the most resistant to bacterial pustule, with the lowest AUDPC (247.80%-day) and the lowest disease severity at all stages. The combination of Biofresh plus with or without low NPK (25–50%), is more effective in suppressing disease than full inorganic fertilizer, with the highest effectiveness of 32.91% (F1R2). Control effectiveness is highly dependent on the combination of varieties and fertilizers, where F4 is most effective with R1, F1 with R2, and F3 with R3.
Roti merupakan produk pangan yang banyak dikonsumsi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dan umumnya dibuat dari tepung terigu karena kandungan gluten yang memberikan elastisitas dan kemampuan menahan gas. Kajian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik fisik dan kimia roti tawar yang dibuat menggunakan berbagai tepung substitusi bebas gluten. Parameter yang dievaluasi meliputi daya kembang, kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat. Data menunjukkan bahwa daya kembang tertinggi dan komposisi proksimat yang baik diperoleh pada roti berbasis tepung terigu dan tepung ampas kelapa dengan rasio 80:20, yaitu sebesar 69,14%, dengan kadar karbohidrat 44,11% dan protein 9,59%. Nilai daya kembang terendah ditemukan pada roti dengan substitusi tepung beras 35% sebesar 42,1%. Penurunan kadar gluten mengurangi kemampuan adonan dalam menahan gas selama fermentasi sehingga menurunkan daya kembang. Penggunaan tepung bebas gluten cenderung menurunkan daya kembang, namun memengaruhi komposisi gizi sesuai jenis tepung yang digunakan. Optimasi formulasi diperlukan untuk memperoleh keseimbangan antara sifat teknologi dan kualitas gizi pada roti bebas gluten.
The aim of this research was to determine the effect of using modified sago flour resulting from fermentation using lactic acid bacteria (BAL) UM 24, the heat moisture treatment (HMT) process and the combination of BAL UM 24 and HMT fermentation on the organoleptic and physicochemical characteristics of chiffon cake. This research used a Completely Randomized Design (CRD). The data analysis used was the ANOVA test and further test (T test) at the 95% confidence level (α=0.05). The results of the chiffon cake physical test research, the selected flour modification treatment can increase the kamba density and water absorption capacity of the chiffon cake, as well as reduce the specific volume of the chiffon cake. The selected treatment for the organoleptic test is the sago flour modification treatment with BAL UM 24 fermentation with a color preference score. , aroma, taste and texture of chiffon cake. respectively 4.15 (like), 4.20 (like), 4.13 (like), 4.10 (like). The physical characteristics of the selected treatment were a specific volume value of 21.68 (ml/g), a kamba density of 56.08 (g/ml) and a water absorption capacity of 1.27 (%). Proximate content with water content of 27.24 (% wb), ash content 1.33 (% db), protein content 13.39 (% db), fat content 17.16 (% db) and carbohydrates 28.24 (% db ).
Bacterial Leaf Blight (BLB), caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae, is a major threat to global rice production, causing yield losses of up to 80%. Accurate assessment of disease severity is essential for developing resistant rice varieties and implementing effective management strategies. However, traditional visual observation methods, while widely used, are prone to subjectivity and reduced accuracy. This study evaluates the accuracy of image analysis for assessing rice plant resistance to BLB. Disease severity was assessed using both visual observation and image analysis, with results quantified through the Area Under the Disease Progress Curve (AUDPC) and infection rate calculations. Image analysis outperformed visual observation, achieving an accuracy rate above 96%, compared to less than 90% for the latter. The Ciherang variety demonstrated greater resistance to BLB, with lower AUDPC and infection rates when assessed using image analysis. Conversely, visual observation produced contradictory results, highlighting its limitations. This study concludes that image analysis provides a more objective, reproducible, and accurate approach to assessing disease severity, with implications for breeding programs and integrated disease management systems. Further research is recommended to validate these methods across a broader range of rice genotypes and environmental conditions.
(PFF) is a highly toxic organophosphate insecticide, necessitating the development of rapid and sensitive detection methods. In this study, we developed an electrochemical sensor based on anatase TiO2-modified graphene (G/TiO2 anatase) for the efficient detection of PFF. Characterization using SEM, XRD, and FTIR confirmed the successful formation of anatase-phase TiO2 nanoparticles on graphene sheets. Electrochemical performance evaluation via cyclic voltammetry demonstrated that the G/TiO2 anatase electrode exhibited superior redox behavior compared to bare graphene and TiO2 nanoparticles. The sensor achieved a low limit of detection (LOD) of 0.046 mu g/L and a limit of quantification (LOQ) of 0.153 mu g/L, within a linear detection range of 0.1-0.9 mu g/L. Additionally, it showed excellent repeatability, with a relative standard deviation (%RSD) of 2.48%. These findings highlight the potential of G/TiO2 anatase as a highly sensitive and reliable electrochemical sensor for PFF detection. The proposed sensor provides a rapid, simple, and efficient alternative for direct PFF analysis, which could be beneficial for environmental monitoring and food safety applications.
Permasalahan pengelolaan sampah, bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, namun seluruh komponen masyarakat harus dengan kesadaran penuh saling bahu-membahu memberikan kontribusi positif dalam pengelolaan sampah ini. Potensi sampah organik rumah tangga cukup besar untuk diolah secara intensif karena volumenya terus bertambah setiap hari sejalan dengan aktivitas kehidupan setiap rumah tangga. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengolah sampah organik secara alami, oleh karena itu diperlukan tambahan dekomposer agar proses dekomposisi sampah organik dapat dilakukan lebih cepat dan dekomposer ini dapat dibuat menggunakan bahan-bahan alami seperti nasi sisa menjadi produk dekomposer berbasis mikroorganisme lokal (MOL). Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Program Kreativitas Masyarakat Internal) ini, Tim Pelaksana membantu memberikan pengertian dan pemahaman tentang pentingnya pemanfaatan MOL sebagai dekomposer alami dalam pengolahan sampah rumah tangga. Produk dari hasil pengolahan sampah tersebut selanjutnya dimanfatatkan sebagai pupuk organik untuk budidaya tanaman hortikultura (sayuran dan buah-buahan oerganik) di pekarangan masyarakat target, dengan demikian produk tanaman sayuran dan buah yang dihasilkan lebih sehat dan bebas racun di samping keseimbangan alam tetap terjaga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini difokuskan pelaksanaannya pada Kelompok Tani Tosui di Kelurahan Bambaea Kabupaten Bombana. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kelompok Tani Tosui sangat mengapresiasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Tim Dosen Pascasarjana UHO. Mereka berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan karena permasalahan sampah cukup kompleks sehingga memerlukan penanganan secara komprehensif dan berkesinambungan.
Currently, the use of rice flour in making cakes is much needed by those who experience gluten allergy problems. The objective of this research was to evaluate the effect of using Warumbia cultivar brown rice flour modified using crude enzyme amylase from tempe mold and lactic acid bacteria on the organoleptic and physicochemical characteristics of cake. This research used a Completely Randomized Design (CRD). The data analysis used was the ANOVA test and further test (T test). The selected treatment for the organoleptic test was the modified brown rice flour treatment using BAL SBM.4A with a score of liking assessment of color, aroma, taste and texture respectively 3.78 (like), 4.25 (like), 4.08 (like) and 4.08 (like). The physical characteristics with the values of swelling power, porosity, kamba density and cake texture hardness are respectively: 105.67%, 0.21 cm, 0.39 g/mL and 0.85 (kg/cm2). The proximate values of the cake were water content (19.23%wb), ash (0.86%wb), fat 23.90 (%wb), protein 9.54 (%wb), and carbohydrate 46.47 (%wb). The research results show an increase in the physical, chemical and organoleptic characteristics of cakes derived from modified brown rice flour process.
Graphene electrodes incorporated TiO2/C-dots@NiO (G-TCN) nanocomposites have been successfully synthesized and investigated for their performance in detecting the pesticide diazinon (DZN). The synthesis begins with preparing a C-dots solution hydrothermally using tolaki citrus extract (Citrus sp.) as a precursor. The incorporation was continued hydrothermally between C-dots, Ni (II), and TiO2 to obtain the TiO2/C-dots@NiO (TCN) nanocomposites. The results of the morphological study illustrate that the TCN nanocomposite is composed of round particles with a uniform size between 180 and 200 nm. The XRD diffractogram pattern describes the overlapping interactions between the elements that make up the nanocomposites. The electrochemical performance in the Fe(CN)63−/Fe(CN)64− solution system illustrates the reversible redox reaction of G-TCN with a value of ∆Ep = 0.08 V. DZN detection showed superior results. Based on the cyclic voltammogram, DZN experienced a reduction at a potential of 0.65 V. The linearity test showed an LOD value of 0.09 μg/mL. In other tests, G-TCN showed good stability and reliability, with an RSD of 11.90
Padi organik merupakan salah satu produk unggulan Desa Lamedai yang sedang di kembangakan. Saat ini para petani organik menghadapi permasalahan terkait Produktivitas padi organik cenderung masih rendah (3-3,5 ton/ha), luas lahan pengelolaan sawah organik masih sangat rendah yakni total keseluruhan petani satu desa 3 ha, serta terbatasnya pupuk organik yang bisa dibeli petani. Sehingga tujuan utama pelatihan program ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani organik yang mampu memproduksi pupuk organik dan pestisida nabati secara mandiri serta berdampak pada produktivitas padi organik secara umum. Metode pelaksanaan kegiatan yaitu sosialisasi kosabangsa, pertanian organik, pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati, tahap selanjutnya persiapan alat dan bahan, Serta proses pelatihan dan evaluasi. Hasil pelatihan diperoleh bahwa Petani mampu mengetahui dan melakukan seluruh tahapan pembuatan pupuk organik dan pestisida nabati secara mandiri.
Desa Lalosingi merupakan salah satu desa dalam wilayah administrasi Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan ini karena dinilai terdampak Pandemi Covid-19. Sebagian besar penduduk di Desa Lalosinggi bekerja sebagai petani. Masyarakat belum optimal memanfaatkan lahan pekarangan untuk produksi pangan khususnya sayuran organik serta potensi limbah pertanian dan bahan alam belum dioptimalkan pemanfaatannya. Berdasarkan kondisi ini, sangat diperlukan penambahan pengetahuan bagi kelompok ibu-ibu Dasa Wisma dan Kelompok Tani Sari Mekar bagaimana cara bercocok tanaman sayuran yang ramah lingkungan bebas pestisida dan pupuk kimia sintetis melalui penerapan Good Agricultural Practice (GAP). Metode pendekatan yang digunakan adalah Model Participatory Rapid Appraisal (PRA), Model Technologi Transfer dan Model Community development. Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mitra akan pentingnya penerapan GAP sayuran organik dengan memanfaatkan lahan pekarangan dan pemanfaatan limbah pertanian dan bahan alam sebagai sumber pupuk organik cair dan pestisida nabati.
In this study, the physicochemical properties of local colored rice flour were studied after modification through fermentation with lactic acid bacteria (LAB) SBM.4A. SBM.4A was LAB isolated from the rice washing water and was in the cladogram of the Pediococcus pentosaceus strain SRCM102739 CP028266.1 and Pediococcus pentosaceus strain SRCM102738 CP028264.1. The studied rice varieties were wakacinda (white rice), wakawondu (red rice), warumbia (brown rice), and wakaombe (black rice). Characterizations of both fermented and native rice flour included chemical composition, FTIR profile, crystallinity, morphology, and pasting properties. Fermentation did not introduce new chemical functional groups to the flour and only slightly increased crystallinity from approximately 22.5% to 25.05%. In contrast, fermentation greatly affected the chemical composition and pasting properties of rice flour. Protein content of the fermented flour increased up to 214% relative to the native rice flour. Effect of fermentation on pasting properties varied between rice varieties. Increase in peak and final viscosities was observed in red, brown, and black rice. The opposite effect was found in white rice. However, fermentation improved the stability of flour to retrogradation for all rice varieties. These showed that the fermentation improved the properties of the local-colored rice flour and may widen their application as food ingredients.
Abstract Lactic Acid Bacteria (LAB) such as Lactobaccilus is very important in digestive system health. One source of lactic Acid Bacteria is from cassava fermented foods. this research aimed to identify the genetic diversity of amylase-producing lactic acid bacteria isolated from fermented cassava. Fermentation was conducted by immersion of cassava in seawater for 6 hours and incubated for 3 days. analysis of morphology shows that the bacterial colonies has shape of bacilli and cocci cells, which are Gram-positive type. PCR analysis reveals that the bacterial DNA sequences Cladogram follows a Klad sister group Lactobacillus plantarum strain CQ2017ZC MH727586.1 with a bootstrap value of 77, Pediococcus pentosaceus strain 1931 MT597748.1 and P. Pediococcus pentosaceus strain 5583 MT510326.1, with a bootstrap value of 100. The analysis of genetic diversity showed that lactic acid bacteria from cassava fermentation had genetic similarities with lactic acid bacteria from milk. The results of chemical analysis showed that the isolation of lactic acid bacteria (UM 48.1, UM 48.2 and UM 24.2) has amylase activity of enzyme 446 mU/mL, 499 mU/mL and 1053 mU/mL respectively. These two Pediococcus pentosaceus have application potential in the chemical, pharmaceutical, food, and healthcare sectors. Furthermore, this study may provide an alternative to making milk-based health food and new fermented products using Lactic Acid Bacteria from cassava fermentation.
Gejala kuning keriting pada daun cabai umumnya disebabkan oleh infeksi Begomovirus. Daun tanaman terinfeksi tidak hanya mengalami perubahan warna sebagai indikator rusaknya klorofil tetapi juga mengalami perubahan morfologi bentuk. Penelitian ini bertujuan menguantifikasi gejala infeksi Begomovirus berdasarkan perubahan morfologi bentuk daun menggunakan pengolahan citra digital dan algoritma data mining yang akan memudahkan dalam pemantauan dan analisis perkembangan penyakit tanaman. Total 33 citra daun cabai rawit bergejala kuning keriting maupun tidak bergejala menjadi dataset penelitian ini. Citra daun cabai tersebut diolah dan diekstrak karakteristik bentuknya berupa circularity, aspect ratio, roundness, dan solidity menggunakan aplikasi Fiji-ImageJ. Selanjutnya dilakukan uji beda (uji-t), pengelompokan citra menggunakan algoritma Simple K-Means, dan evaluasi ketepatan hasil pengelompokan berdasarkan indeks ARI dan NMI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum ada perbedaan bentuk yang nyata antara daun bergejala dengan daun tidak bergejala. Daun cabai rawit bergejala kuning keriting memiliki rata-rata nilai aspect ratio dan solidity yang lebih kecil dibandingkan daun cabai tidak bergejala, sebaliknya memiliki rata-rata nilai circularity dan roundness yang lebih besar dibandingkan daun cabai tidak bergejala. Evaluasi ketepatan pengelompokan sampel daun cabai rawit bergejala maupun tidak bergejala berdasarkan indeks ARI dan NMI menghasilkan nilai terbaik untuk pengelompokkan ke dalam dua kelompok.
The research was conducted to identify indigenous rhizobacteria that can be useful as growth promoters and adapted to saline soils. The isolate was isolated from saline soil rhizosphere on the coast in Kolaka district. The research was conducted in the Lab of Agronomy, on Agricultural Faculty in Halu Oleo University. The research carry out from April to September 2022. The study arranged in a completely randomized design (CRD) using of 15 test isolates. The test was carried out using a seed biopriming technique, then the seeds were germinated using a standard germination procedure. The results showed that all tested rhizobacterial isolates increase the viability and vigor of tomato seeds. There was an increase in maximum growth potential, seed germination, vigor index, and relative growth rate of seeds in the range of 85% to 89% when compared to control. There were 3 isolates of rhizobacteria which were more capable of reducing T50 and increasing seed germination of tomato seeds, namely KL6, KL10 and KL14 isolates. Further research is still needed to test the effectiveness of this isolate to increase tomato growth and yield under conditions of salinity stress in the field.
Penyakit daun keriting kuning pada pertanaman cabai di Sulawesi Tenggara telah dilaporkan sejak tahun 2018, yaitu di Kabupaten Kolaka Timur dan Kota Kendari. Gejala penyakit di lapangan semakin meluas seiring dengan perluasan penanaman cabai. Penelitian bertujuan menghitung kembali insidensi penyakit daun keriting kuning pada pertanaman cabai di Sulawesi Tenggara, mengidentifikasi serangga yang berasosiasi dengan tanaman cabai, dan mengidentifikasi penyebab penyakitnya. Pengamatan insidensi penyakit dilakukan di pertanaman cabai yang berada di Kabupaten Bombana, Konawe Selatan, Konawe, Kendari, Kolaka Timur, Kolaka, dan Kolaka Utara. Identifikasi kutukebul dilakukan berdasarkan karakter morfologi. Deteksi dan identifikasi begomovirus menggunakan metode polymerase chain reaction, yang dilanjutkan dengan analisis sikuensing. Rata-rata insidensi penyakit daun keriting kuning di tujuh kabupaten ialah 36%–90%. Spesies kutukebul yang ditemukan adalah Aleurotrachelus trachoides. Fragmen DNA spesifik begomovirus berukuran 580 pb berhasil diamplifikasi dari sampel tanaman cabai asal tujuh kabupaten di Sulawesi Tenggara. Analisis sikuen mengonfirmasi infeksi Pepper yellow leaf curl Indonesia virus pada pertanaman cabai di Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Bombana, Konawe, dan Konawe Selatan.