Giant gourami and redclaw crayfish are among popular freshwater organisms with significant potential for aquaculture due to their ease of cultivation, resistance to diseases, and high economic value. Therefore, this study aimed to evaluate the feasibility of using fish visceral trash (FVT) in artificial diets to enhance the growth performances of giant gourami (Osphronemus gouramy) and redclaw crayfish (Cherax quadricarinatus) in a polyculture system. Giant gourami juveniles (3.62±0.86 cm and 3.74±1.15 g) and redclaw crayfish (3.05±0.35 cm and 6.41±0.29 g) were divided into four groups and cultured in 100 L aquarium. Each group was fed twice daily with diets containing 0%, 10%, 20%, and 30% FVT/kg diet. Furthermore, growth performances were assessed in all samples at 14 days intervals over a period of eight weeks. The results showed that diets prepared with 30% FVT significantly affected the growth rate of giant gourami juveniles, while those comprising 20% enhanced the growth of redclaw crayfish. Total length, body weight, specific growth rate, and weight gain significantly increased in samples fed with the experimental compounded diets. Based on the observations, it is suggested that using FVT compounded diets tends to improve growth performances in a polyculture system. Keywords: Giant gourami Growth performance Redclaw crayfish Polyculture Trash fish
A study of the Scylla genera of crabs was conducted in May in five villages in Langsa City to know their distribution, dimensions of natural catch, and bioeconomic analysis. The method used was the accidental sampling of 30 respondents. Then the information was collected on the demographics and characteristics of the respondents as well as the distribution and dimensions of the Scylla genera crab catch. Respondents indicated that the Scylla genera crabs were distributed in 12 villages, namely Cinta Raja Village, Sungai Lueng, Alue Pineung Timue, Kapa, Lhok Banie, Simpang Lhee, Seuriget, Matang Seulimeng, Sungai Pauh, Kuala Langsa, Sungai Pauh Pusaka, Sungai Pauh Firdaus, and Sungai Pauh Tanjong. The highest catch composition was 4 kg/trip (40%) and the sizes of crabs were all sizes (100%). Furthermore, the dominant duration of the profession of crab catcher is 4 – 6 years (37%) with the predominant age of a crab catcher being 30 – 44 years (53%). The results of the bioeconomic analysis show that the Scylla crab fisheries in Langsa City are still profitable because any increase in catch costs does not reduce total income at all. Kajian kepiting genera Scylla dilakukan pada bulan Mei di 5 desa Kota Langsa dengan tujuan untuk mengetahui distribusi, dimensi tangkapan alami dan analisis bioekonominya. Metode yang digunakan adalah accidental sampling pada 30 responden, kemudian informasi yang dikumpulkan mengenai demografi dan karakteristik responden serta distribusi dan dimensi penangkapan kepiting genera Scylla. Responden menunjukkan bahwa kepiting genera Scylla terdistribusi di 12 desa yaitu Desa Cinta Raja, Sungai Lueng, Alue Pineung Timue, Kapa, Lhok Banie, Simpang Lhee, Seuriget, Matang Seulimeng, Sungai Pauh, Kuala Langsa, Sungai Pauh Pusaka, Sungai Pauh Firdaus dan Sungai Pauh Tanjong dengan komposisi tangkapan tertingginya adalah 4 kg/trip (40%) dan ukuran kepiting genera Scylla yang diambil adalah semua ukuran (100%). Selanjutnya lamanya profesi sebagai penangkap kepiting yang telah dijalani dominannya adalah 4 – 6 tahun (37%) dengan usia penangkap kepiting dominannya adalah 30 – 44 tahun (53%). Sementara hasil analisis bioekonomi memperlihatkan bahwa kondisi perikanan tangkap kepiting genera Scylla di Kota Langsa masih menguntungkan karena setiap kenaikan biaya tangkapan sama sekali tidak menurunkan total pendapatan.
The study was conducted in May - June 2018 in the water bodies of the mangrove ecosystem of Kuala Langsa Village with the aim of knowing survival, growth conditions, growth characteristics and environmental factors that affect the growth of Portunus pelagicus crabs while in the mangrove ecosystem. The method used was a one-factor completely randomized design with 4 treatment levels, where environmental parameters were collected in situ and ex situ with statistical analysis using ANOVA, orthogonal polynomials and PCA. The results of the study showed that the pH of the water ranged from 7.40 - 7.57, salinity 26.17 - 28.87‰, DO 4.92 - 5.88 mg/L, temperature 29.89 - 30.71°C, TDS 338.54 - 358.64 mg/L, pH H2O 4.43 - 4.51, pH KCL 2.96 - 3.59, C-organic 3.03 - 6.52%, N-total 0.19 - 0.26%, C/N 16.09 - 26.10 and P-available 19.12 - 21.52 ppm. In addition, survival ranged from 41.60 - 88.80%, absolute growth of carapace 13.80 - 30.80 cm, relative carapace 0.56 - 1.02 cm, absolute weight 16.10 - 18.50 gr, daily length 0.46 - 0.65 cm, daily width 0.36 - 0.59 cm and daily weight 0.72 - 0.93 gr. PCA analysis showed that the growth characteristics of P. pelagicus crabs in the mangrove ecosystem waters of Kuala Langsa Village were absolute length growth and daily length growth, while environmental factors that influenced their growth were C/N sediment parameters, C-organic sediments and water temperature. Kajian dilakukan pada bulan Mei – Juni 2018 di badan perairan ekosistem mangrove Desa Kuala Langsa dengan tujuan untuk mengetahui sintasan, kondisi pertumbuhan, pertumbuhan penciri dan faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan kepiting Portunus pelagicus saat berada di ekosistem mangrove. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap satu faktor dengan 4 taraf perlakuan, dimana parameter lingkungan dikumpulkan secara in situ dan ex situ dengan analisis statistik yang digunakan adalah ANOVA, polinomial ortogonal dan PCA. Hasil kajian memperlihatkan bahwa pH air berkisar antara 7.40 - 7.57, salinitas 26.17 - 28.87‰, DO 4.92 - 5.88 mg/L, suhu 29.89 - 30.71°C, TDS 338.54 - 358.64 mg/L, pH H2O 4.43 - 4.51, pH KCL 2.96 - 3.59, C-organik 3.03 - 6.52%, N-total 0.19 - 0.26%, C/N 16.09 - 26.10 dan P-tersedia 19.12 - 21.52 ppm. Selain itu, untuk sintasan berkisar antara 41.60 - 88.80%, pertumbuhan mutlak karapas 13.80 - 30.80 cm, nisbi karapas 0.56 - 1.02 cm, berat mutlak 16.10 - 18.50 gr, panjang harian 0.46 - 0.65 cm, lebar harian 0.36 - 0.59 cm dan berat harian 0.72 - 0.93 gr. Untuk analisis PCA menunjukkan bahwa penciri pertumbuhan kepiting P. pelagicus di perairan ekosistem mangrove Desa Kuala Langsa adalah pertumbuhan panjang mutlak dan pertumbuhan panjang harian, sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhannya adalah parameter C/N sedimen, C-organik sedimen dan suhu air.
This activity aims to provide a common understanding between managers and members in the COGS Calculation training in determining the selling price for members of the Bina Bersama Syariah Cooperative, Ranto Peureulak District, East Aceh Regency at MAN 3 Aceh Timur in order to increase knowledge and its application in calculating Cost of Goods Sold and determining good and correct selling price by using various methods of calculating the selling price. The location of community service activities is carried out through face-to-face meetings at MAN 3 Aceh Timur. Community Service Activities use the demonstration method, giving material by mentors, discussing with participants, and each group demonstrating the results of calculating the Cost of Goods Sold report and determining the price. The results of the activity provide knowledge and understanding for participants while still paying attention to the development of the purchase price for each item to be sold, the results of observations and analyzes of the data obtained from the Bina Bersama Syariah Cooperative. After discussing and discussing the problem, the author concludes that the calculation of the cost of goods sold to determine the selling price of the Bina Bersama Syariah Cooperative has gone quite well
Abstrak:Pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk mengenalkan teknologi mesin pakan udang windu dalam upaya menciptakan kemandirian pakan bagi pokdakan jasa tambak. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan transfer teknologi melalui serangkaian tahapan kegiatan antaranya koordinasi, sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, pendampingan serta monitoring dan evaluasi. Seluruh tahapan kegiatan yang tercatat melalui lembar post test memperlihatkan 5 anggotakelompok (22,7%) sangat mengetahui materi bahan baku pembuatan pakan pelet, 6 anggota pokdakan (27,3%) mengetahui secara baik materi teknik penjemuran pakan pelet. Hasil pendampingan memperlihatkan sebanyak 6 anggota pokdakan (27,2%) memahami tata cara pembuatan pakan, 7 anggota kelompok (31,8%) mengetahui prosedur penggunaan mesin pakan dan 3 anggota kelompok lainnya (13,6%) memahami tata cara pengisian buku pencatatan produk. Disimpulkan bahwa 9 anggota kelompok (40,9%) memahami dengan baik materi tata cara pengoperasian mesin pakan pelet dan 12 anggota kelompok (54,7%) cukup memahami materi jumlah bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pakan pelet udang windu.Abstract: This community service (PKM) aims to introduce tiger shrimp feed machine technology in an effort to create feed independence for the pokdakan jasa tambak. The method used is an educational approach and technology transfer through a series of stages of activities such as coordination, socialization, implementation of activities, mentoring and monitoring and evaluation. All stages of activities recorded through the post test sheet showed that 5 group members (22.7%) were very familiar with the raw materials for making pellet feed, 6 pokdakan members (27.3%) knew well the material for drying pellet feed techniques. The results of the mentoring showed that 6 members of the pokdakan (27.2%) understood the procedure for making feed, 7 group members (31.8%) knew the procedure for using a feed machine and 3 other group members (13.6%) understood the procedure for filling out the product record book. It was concluded that 9 group members (40.9%) understood well the material for operating the pellet feed machine and 12 group members (54.7%) quite understood the material for the amount of raw materials used in making tiger shrimp pellet feed.
Revolving funds are a form of government intervention in the economic field in order to improve justice. One of the characteristics of revolving funds is that these funds are channeled to the community/community groups, charged back with or without added value, and re-rolled back to the community/community groups or known as revolving funds. The purpose of the Management of Activities of Revolving Fund Management System Office of the Secretariat of the Inter-gambling Cooperation Agency (BKAG) and the Unit (UPK) of Ranto Peureulak District The research method is a qualitative approach. This qualitative approach is used in order to obtain descriptive data in the form of written words from people or samples used as respondents. . the results of practical work that have been described in previous chapters, the authors can draw a conclusion from the Evaluation of the Revolving fund management system at the secretariat office of the Inter-gambling Cooperation Agency (BKAG) and the Activity Management Unit (UPK) of Ranto Peureulak District, which is very useful for the sub-district community. Ranto Peurelak.
Sembilang ( Plotosus canius ) is a delicious and nutritious fish that belongs to the family of Plotosidae and has great demand in coastal communities. Therefore, this research aimed to examine the data on growth patterns, morphometric and meristic measurements, and feeding habits of sembilang in the East Aceh mangrove area. The data collection included growth patterns, fish and fin length, and body width, and then the meristic measurements were carried out by counting the number of fin rays. The results showed that the length and weight of the fish ranged from 22-43 cm and 86-296 gr, respectively. Furthermore, the correlation coefficient r is 0.986 and the regression equation is W = 0.024L 2.410 . Its main diet is shrimp, with an IP rate of 47%, and they also consume feeds such as worms, small fish, crabs, and pieces of leaves. In conclusion, the growth pattern of sembilang (Plotosus canius) in the East Aceh mangrove area was negative allometric.
Abstrak:Pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mendiseminasikan teknologi keramba jaring apung dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ikan nila yang dihasilkan oleh pokdakan sepakat makmur. Metode yang digunakan adalah edukatif dan transfer teknologi melalui berbagai tahapan kegiatan antaranya koordinasi, sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, pendampingan serta monitoring dan evaluasi.Seluruh tahapan kegiatan yang telah dilaksanakan tergambarkan melalui lembar pencatatan post test yang memperlihatkan 3 anggota kelompok (16%) memahami kelebihan dan kekurangan budidaya ikan nila dengan sistim keramba jaring apung, 6 anggota kelompok (40%) cukup memahami perhitungan kualitas air pada usaha budidaya ikan nilai, 6 anggota lainnya (40%) cukup paham dengan materi tahapan pembuatan keramba jaring apung dan 5 anggota pokdakan (33.3%) cukup memahami materi siklus pemberian pakan selama masa pembenihan pada kolam keramba jaring apung.Hasil pendampingan memperlihatkan 3 anggota kelompok (20%) sangat memahami materi teknik pencatatan produk dan 11 anggota (73,3%) cukup memahami materi perhitungan analisa usaha. Disimpukan bahawa 73,3% anggota kelompok cukup memahami tatacara pengisian buku kas kelompok serta 20% anggota pokdakan mengetahui ciri-ciri benih nikan nila yang baik dan berkualitasAbstract: This community service (PKM) aims to introduce and disseminate floating net cage technology in increasing the quantity and quality of tilapia produced by Pokdakan agreed to prosper. The method used is educative and technology transfer through various stages of activities including coordination, socialization, implementation of activities, mentoring and monitoring and evaluation. All stages of the activities that have been carried out are illustrated through a post-test recording sheet which shows 3 group members (16%) understand the advantages and disadvantages of tilapia cultivation with floating net cages, 6 group members (40%) quite understand the calculation of water quality in fish farming. value, 6 other members (40%) quite understand the material for the stages of making floating net cages and 5 members of the pokdakan (33.3%) quite understand the material of the feeding cycle during the hatchery period in floating net cage ponds. The results of the mentoring showed that 3 members of the group (20%) really understood the material on product recording techniques and 11 members (73.3%) quite understood the material for business analysis calculations. It was concluded that 73.3% of group members quite understood the procedures for filling out the group cash book and 20% of pokdakan members knew the characteristics of good and quality nile tilapia seeds.
The purpose of this community service is; 1) Disseminate the existence of youth organizations' roles in development, 2) Provide awareness for citizens to be able to participate in activities/become active members and administrators. 3) Provide skills training for administrators/members to determine feasible work programs to be implemented, and 4) Provide skills in making proposals and financial reports within the organization. The stages of implementing the activities consist of; 1) Lectures and questions and answers, 2) Provide technical training, and 3) Assistance in making activity proposals. The results of service activities include; 1) The PPM activity has succeeded in socializing the existence of the role of youth organizations in development, 2) The activity has succeeded in providing citizens' awareness to be able to participate in activities/become active members and administrators. 3) The training activities have succeeded in encouraging youth or organizational members to determine possible work programs to be implemented, 4) The training activities have provided skills to make proposals and financial reports in youth organizations, and 5) Established partnerships and cooperation between the youth of East Aceh Regency, PKBM Smart Mandiri Peureulak and Akademi Keuangan Perbankan Nusantara.
Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang harus dilakukan dalam rangka untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi serta inovasi kepada masyarakat terutama masyarakat yang menjadi mitra dalam kegiatan pengabdian. Permasalahan yang perlu mendapat solusi terhadap masyarakat yang membudidayakan ikan lele dengan sistem bioflok di Desa Bayeun Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur, masih lemahnya dalam pengusaan teknologi budidaya itu sendiri sehinggga pihak pengusul harus membantu mitra dan pihak lainnya dalam menguasi teknologi tersebut sehingga nantinya peternak dapat menerapkannya dalam kegiatan budidaya ikan lele dengan sistem bioflok. Penggunaan teknologi bioflok dirasa memberi manfaat yang besar bagi peternak karena teknologi ini bisa menghemat penggunaan pakan. Setelah diperkenalkan penggunaan, manfaat dan cara penggunaan teknologi dalam menerapkan budidaya ikan lele kepada masyarakat atau peternak ikan diharapkan peternak tertarik dengan teknologi tersebut agar dapat diterapkan pada usaha budidaya ikan lele dengan sistem bioflok di masa mendatang.
Rubber price and production was unstable and effected to farmer profit. Farmer looking for another chance which is from their rubber so farmer changes their job to others. Location chooses with purposive sampling that is Kejuruan Muda Sub-district, Aceh Tamiang district while the sample 30 farmers. The analyzed used multiple linear regression with independent variable are profit, education, farmer skill, and the dependent variable is an opportunity to change jobs. The result showed that profit and education variable effected an opportunity to change jobs, meanwhile farmer skill wasn’t
This study aims to analyze sustainability index and status of technological dimension in dairy agribusiness in Batu City. Research methods applied were analysis Multidimensional Scaling (MDS) analysis, termed Rapuse, and Descriptive analysis. Study result was expressed in sustainability index and status. Moreover, to examine attributes sensitively affected sustainability index and status also the effect of error, analysis of Leverage and Monte Carlo was performed, followed with descriptive analysis. Data were obtained from key respondent and field observation. Four villages from three sub-districts in Batu City were purposively selected as research site, namely Village of Pesanggrahan, Tlekung, Oro-oro Ombo and Gunungsari. Sustainability analysis resulted in technological dimension of 60.40 or moderately sustainable condition and three leverage factors of AI breeding, adlibitum water application, and chopper use. Other factors in technological dimension should be taken care immediately since they sensitively have an effect on the increasing sustainability index and status with small error at confidence level of 95%. Factors included biogas installation, provision of dry concentrate, fresh milk handling, and cage cleanliness should be improved to increase sustainability index of technological dimension through role and support improvement of stakeholder consisted of milk cooperation, IPS, government institution related, and cattle farmers.
Penelitian ini bertujaun untuk mengetahui mengetahui dan menganalisis Break Event Point (BEP) usaha keripik pedas “Mustika” di Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Objek dalam penelitian ini hanya dibatasi pada usaha keripik pedas “Mustika” yang sudah berproduksi di wilayah Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa. Ruang lingkup penelitian ini meliputi, penggunaan bahan baku, penggunaan tenaga kerja, biaya produksi, produksi dan pendapatan. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2017. Rata-rata produksi usaha keripik pedas “Mustika” sebesar 65.200,00 kilogram dengan harga Rp. 40.000,00 perkilogram dan nilai produksi Rp. 2.608.000.000,00 per tahun, maka di pendapatan bersih yaitu sebesar Rp.1.121.341.000,00 per tahun. Berdasarkan pada hasil penghitungan investasi, dimana rata-rata BEP unit = 914,91 kg, sedangkan rata-rata BEP rupiah = Rp.36.596.387,94, maka usaha keripik pedas “Mustika” di daerah penelitian layak untuk dikerjakan bila ditinjau dari segi aspek finansial.
Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pendapatan yang di peroleh petani tebu (Saccharum officinarum, L) Di Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang. Penelitian ini menggunakan metode survei. Objek penelitian adalah petani tebu saja yang berada di desa-desa sampel di Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Januari sampai April 2018. Sampel petani tebu di daerah penelitian sebanyak 32 orang . Hasil penelitian: Karakteristik petani sampel di Kecamatan Bendahara yaitu: umur rata-rata petani sampel adalah 41,1 tahun, tingkat pendidikan rata-rata adalah 10,4 tahun, rata-rata pengalaman berusahatani 12,6 tahun dan jumlah tanggungan keluarga petani rata-rata 4 orang. Dari hasil penelitian ini di perolehlah BEP (Break Even Point) Usahatani tebu di Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang harus berproduksi sebesar 408 m/MT dengan total penerimaan sebesar Rp 831. 363 /MT, Analisis profitabilitasnya nilai yang di peroleh NPM (Net Profit Margin) sebesar 69% yang menunjukan bahwa penjualan relatif lebih tinggi 69% dari pada pengeluaran dan ROI (Return On Invesment) 230% yang artinya setiap pengeluaran Rp 1-, maka mendapatkan keuntungan sebesar Rp 2,30 atau 230% dibandingkan dengan biaya pengeluaran.
Adapun tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan usaha industri pengolahan kecap Aneka Guna apabila dilihat dari segi kelayakan finansial. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Lokasi penelitian yaitu di Kota Langsa dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan daerah yang terdapat industri pengolahan kecap asin dan mudah di jangkau oleh penulis. Waktu penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni - Oktober 2014. Tenaga kerja yang digunakan berjumlah 27 orang, 20 tenaga kerja pria dan 7 orang tenaga kerja wanita. Jumlah penggunaan tenaga kerja selama 5 tahun sebesar 3759 HKP. Total biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha dalam usaha pembuatan kecap didaerah penelitian selama 5 tahun adalah Rp. 2.076.988.000,-. Pendapatan kotor yang diperoleh pengusaha sebesar Rp. 8.199.690.000,- dan pendapan bersih yang diperoleh sebesar Rp. 6.122.702.000,- Kota Langsa hanya memiliki 1 pengusaha pengolahan kecap asin dan dijadikan sebagai pengusaha sampel yaitu usaha industri pengolahan kecap asin Aneka Guna. Hasil perhitungan di peroleh Net Present Value (NPV) sebesar Rp. 263.281.290 (lebih besar dari nol), sedangkan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 84% lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku (D.F. = 18%), sedangkan Net B/C Ratio sebesar 3,27 (lebih dari pada 1) dan Pay Back Priod (PBP) 1 Tahun 6 Bulan (lebih kecil dari umur ekonomis).
Tujuan penelitian untuk mengetahui kelayakan finansial usahatani padi sawah di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan metode survey. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja di Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh Timur dengan pertimbangan bahwa kecamatan tersebut merupakan daerah sentra usahatani padi sawah di Kabupaten Aceh Timur. Objek penelitian ini adalah usahatani padi sawah. Ruang lingkup penelitian meliputi biaya produksi, penerimaan, pendapatan, analisis finansial usahatani padi sawah. Jumlah 36 orang sampel petani padi sawah tersebar di Desa Jeungki 10 orang, Desa Seuneubok Punti 11 orang dan Desa Alue Gurep 10 orang. Karakteristik petani sampel adalah umur rata-rata petani sampel adalah 44,72 tahun, tingkat pendidikan rata-rata adalah 9,25 tahun, pengalaman berusahatani rata-rata 10,14 tahun dan jumlah tanggungan keluarga petani rata-rata 4 orang. Rata-rata luas lahan garapan petani sampel adalah sebesar 0,61 hektar. Rata-rata pengunaan tenaga kerja usahatani padi sawah di Kecamatan Peureulak Timur yaitu sebesar 83,04 HKP/UT/MT, biaya produksi sebesar Rp.8.344.870,37,- per UT/MT dan Rp. 13.765.446,06,- per Ha/MT, produksi sebesar 3.414,15 Kg/UT/MT dan 5.612,31 Kg/Ha/MT, nilai produksi sebesar Rp. 15.250.975,58 per UT/MT dan Rp. 25.070.096,85 per Ha/MT dan pendapatan bersih sebesar Rp. 6.906.105,21 per UT/MT dan Rp. 11.176.249,48 per Ha/MT. Hasil analisis finasial usahatani padi sawah di Kecamatan Peureulak Timur dari sisi R/C rasio (perbandingan penerimaan dan biaya) diperoleh nilai R/C sebesar 1,81 (layak), BEP harga perunit sebesar Rp. 2.444,2/Kg, sementara harga gabah riil padi sawah di Kecamatan Peureulak Timur adalah sebesar Rp. 4.461,11/Kg (layak). BEP jumlah produksi sebesar 451,62Kg/UT/MT, sementara produksi riil usahatani padi sawah di Kecamatan Peureulak Timur adalah sebesar 3.414,11Kg/UT (layak).
Sistem komputerisasi bertujuan untuk membantu sebuah pekerjaan cepat terselesaikan. Sistem terkomputerisasi tidak hanya dilakukan oleh instansi-instansi besar baik itu pemerintahan maupun swasta tetapi sistem terkomputerisasi juga merambat ke dunia pendidikan formal dan non formal khusunya pada pendidikan pondok pesantren. Sistem komputerisasi yang komplek dibutuhkan dalam bidang adrmistrasi di Pondok Pesantren Al-Halim Garut yang terletak di Desa Jati Tarogong Kaler Kabupaten Garut. Penerapan sistem komputerisasi yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Halim Garut guna mempermudah pekerjaan walisanri yakni dengan membangun perangkat lunak laporan keuangan pesantren yang diharapkan dapat mempermudah pekerjaan walisanri dalam pembuatan laporan keuangan pesanrtennya. Untuk menghasilkan perangkat lunak yang teruji dan sesuai dengan kebutuhan pemakai dibutuhkan metode pengembangan prangkat lunak. Metode yang digunakan oleh penulis adalah rapid application development (rad) merupakan model inkremental (bertingkat) dari proses pengembangan prangkat lunak. Dimulai dari fase pemodelan bisnis, pemodelan data, pemodelan proses, pembentukan aplikasi, hingga pengujian sistem.