Background: Diabetes Mellitus is a non-contagious disease characterized by hyperglycemia. Diabetes mellitus occurs when the body cannot receive or use insulin properly. If you already have diabetes, then the patient must take medication continuously because diabetes mellitus is a lifelong disease. Because medicines are quite expensive, alternative ways to cure the disease are needed by consuming traditional medicines, one of which is bitter melon (Momordica charantia). Objectives: This research aims to predict the secondary metabolite compounds in the bitter melon plant, analyze molecular interactions, and identify compounds that can lower blood sugar levels. Material and Methods: 12 compounds from the Momordica charantia plant and six proteins (1IR3, 1RHF, 1XU7, 4PNZ, 4YVP, 2NT7) that will be docked using Pyrx and Yasara Dynamics applications. Results: From the molecular docking results, three compounds with the highest binding affinity were found in Momordica charantia: momordenol, oleanolic acid, and momordicin. Based on molecular dynamics simulations, these three compounds were stable in their interactions with the six proteins tested, namely 1IR3, 1RHF, 4PNZ, 4YVP, 1XU7, and 2NT7. Momordenol and momordicin showed the most stable interaction profiles. Furthermore, ADMET tests showed that momordenol, oleanolic acid, and momordisin have drug-like characteristics. Conclusions: The Momordica charantia plant has the potential to act as an antidiabetic agent.
Kucur Village is a tangerine producer in Malang Regency. However, people still sell it in fresh fruit form; besides that, the pest of fruit flies is also a scourge for farmers, and the absorption capacity in the market for fresh fruit is still relatively lower than the products produced. Processing oranges into secondary products can be a solution for farmers by processing tangerines. Ma Chung University's service aims to develop recipes for making instant powder drinks from tangerines to increase the tangerines' economic value. The method used is recipe development in the laboratory, which is practised in Kucur Village to find which recipe is most suitable and produce products for sale. The results of this service and the Kucur village community produced a recipe suitable for sale as an instant powder drink. The recipe for this instant powder drink contains an infusion of lemongrass stems, ginger, bay leaves, and lime.
Breast cancer is a condition where the cells in breast tissue lose control and multiply uncontrollably. In this study, MCF-7 breast cancer cells were tested for cytotoxic activity using the MTT assay and the active compound's interaction with the p53 protein was tested in silico. The most active fraction was found to be the ethyl acetate fraction, with an IC50 value of 1.730 μg/mL and a selectivity index of 2.485. However, the selectivity index was less than 3, and Vero cells showed changes in morphology with the addition of the ethyl acetate fraction. GC-MS was used to identify 19 compounds in the ethyl acetate fraction, and in-silico tests were performed on 5 potential anticancer compounds. Lipinski's Rule of Five test showed that only 3 of these compounds could undergo molecular docking. The results indicated that Anethole compound can interact with p53 protein, while Cinnamaldehyde, (E)- can interact with p21 protein.
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan komposisi pelarut dalam proses ekstraksi daun Acalypha siamensis guna mendapatkan hasil yang maksimal dalam hal rendemen total, kadar flavonoid, dan aktivitas antioksidan. Daun A. siamensis , yang mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid, dievaluasi untuk aktivitas antibakteri dan antioksidan. Dalam penelitian ini, metanol, aseton, dan akuades digunakan sebagai pelarut. Metode Simplex Lattice Design dengan aplikasi Design Expert 12 Trial Version digunakan untuk menentukan perbandingan komposisi pelarut yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan pelarut metanol:aseton:akuades (0:0,5:0,5) menghasilkan rendemen ekstrak terbesar, yaitu 24,97%. Pengukuran kadar flavonoid total menunjukkan bahwa penggunaan pelarut metanol:aseton:akuades (1:0:0) menghasilkan kadar flavonoid total tertinggi, yaitu 453,27 miligram kuersetin ekivalen per gram ekstrak. Selanjutnya, hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa pelarut metanol:aseton:akuades (0:1:0) menghasilkan aktivitas antioksidan paling tinggi, yaitu 81,22 ppm. Analisis menggunakan Simplex Lattice Design menunjukkan bahwa komposisi pelarut yang optimal dalam proses ekstraksi daun A. siamensis adalah metanol:aseton:akuades (0:69,28:30,72). Dalam kondisi ini, diperoleh hasil total flavonoid sebesar 296,64 miligram kuersetin ekivalen per gram ekstrak, rendemen sebesar 20,00%, dan aktivitas antioksidan sebesar 91,79 ppm. Kata Kunci: Optimasi, Simplex Lattice Design , Rendemen, Flavonoid Total, Antioksidan The objective of this study was to optimize the solvent composition for the extraction of Acalypha siamensis leaves to achieve maximum yield, flavonoid content, and antioxidant activity. A. siamensis leaves, which contain flavonoids, tannins, saponins, and alkaloids, were evaluated for their antibacterial and antioxidant properties. Methanol, acetone, and water were used as solvents. The Simplex Lattice Design method with Design Expert 12 Trial Version was employed to determine the appropriate solvent ratios. The findings demonstrated that the highest extract yield (24.97%) was obtained using a solvent mixture of methanol:acetone:water (0:0.5:0.5). The measurement of total flavonoid content revealed the highest level (453.27 mg of quercetin equivalents per gram of extract) with a solvent composition of methanol:acetone:water (1:0:0). Moreover, the antioxidant activity test indicated the highest activity (81.22 ppm) when using a solvent composition of methanol:acetone:water (0:1:0). The analysis using Simplex Lattice Design determined the optimal solvent composition for A. siamensis leaf extraction as methanol:acetone:water (0:69.28:30.72), resulting in a total flavonoid content of 296.64 mg of quercetin equivalents per gram of extract, a yield of 20.00%, and an antioxidant activity of 91.79 ppm.
Kulit merupakan bagian dari tubuh yang cukup rentan terkena kontaminasi bakteri. Terjadinya penyakit yang disebabkan oleh bakteri di tangan, karena masyarakat yang malas untuk mencuci atau memperhatikan kebersihan tangannya sebelum makan ataupun minum. Gel antiseptik dapat menjadi upaya ketika masyarakat malas mencuci tangan. Penggunaan golongan alkohol sebagai gel antiseptik tangan memiliki banyak keterbatasan. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan aktif kimia dapat digunakan bahan alami yang berguna sebagai bahan aktif antiseptik. Bahan alami yang digunakan adalah jamur tiram putih. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mencari tahu konsentrasi ekstrak jamur tiram putih untuk formulasi gel antiseptik dengan evaluasi mutu fisik serta uji antimikrobiologi. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental yang menggunakan analisa data dari anova one way, Mann Whitney U test, dan kruskal wallis. Adapun evaluasi mutu fisik yang dilakukan yaitu uji organoleptis, uji homogenitas, uji viskositas, uji daya lekat, uji hedonik, uji daya sebar, serta uji mikrobiologi. Berdasarkan hasil evaluasi mutu fisik formula yang baik terdapat pada formula 4 dengan pH 7.9, viskositas 1000 cP, daya sebar 4.6 cm daya lekat 2.29 detik. Ratarata diameter zona hambat formula 4 pada bakteri Staphylococcus aureus 7.96 mm, pada bakteri Staphylococcus epidermidis 9.48 mm, pada bakteri Escherichia coli 9.65 mm.
Bahan pengawet yang sering digunakan pada kosmetik yaitu metil paraben dan propil paraben. Panjang gelombang metil paraben dan propil paraben berdekatan dan spektrum tumpang tindih sehingga perlu dilakukan analisis dengan spektrofotometer derivatif dan kemometrik multivariat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi metode analisis dan menetapkan kadar metil paraben dan propil paraben menggunakan spektrofotometer derivatif dan kemometrik multivariat. Penelitian ini menggunakan model Partial Least Squares (PLS) 18 set kalibrasi dengan spektrum normal dan data derivatif. Metode tersebut divalidasi hingga didapatkan data spektrum normal yang baik. Hasil linieritas metil paraben 0,999 dan propil paraben 0,998. Hasil batas deteksi metil paraben 1,026 mg/L dan propil paraben 1,208 mg/L. Hasil batas kuantitasi metil paraben 3,419 mg/L dan propil paraben 4,026 mg/L. Akurasi metil paraben 88,16%-110,271% dan propil paraben 86,23%-108,397%. Presisi metil paraben 1,685%-5,106% dan propil paraben 2,348%-6,353%. Penetapan kadar senyawa metil paraben terdeteksi, sedangkan propil paraben tidak terdeteksi, hal ini disebabkan absorbansi senyawa dapat tertutupi oleh senyawa lain dalam sampel.
Niacinamide dan vitamin C merupakan senyawa yang banyak ditemukan di dalam kandungan kosmetika pencerah. Dimana keduanya memiliki efek yang baik pada kulit. Penelitian ini dilakukan dengan metode spektrofotometer derivatif dan kemometrik multivariat. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah validasi metode analisis dan kadar dari senyawa niacinamide dan vitamin C masih dalam batas pengunaannya. Pada metode kemometrik digunakan model Partial Least Square (PLS) dengan 25 set kalibrasi pada raw spektra dan derivatif 1 sampai 4. Validasi metode analisis memenuhi persyaratan denan menggunakan data raw spektra, jika menggunakan data derivatif hasil tidak memenuhi persyaratan. Hasil validasi metode analisis pada parameter linieritas untuk niacinamide dan vitamin C yaitu 0,9976 dan 0,9993. Nilai LOD untuk niacinamide dan vitamin C yaitu 0,6674 dan 0,1716. Nilai LOQ niacinamide dan vitamin C yaitu 2,2247 dan 0,5720. Hasil akurasi niacinamide dan vitamin C yaitu 96,9045%-102,6530% dan 101,2216%-104,3396%, nilai presisi niacinamide dan vitamin C sebesar 0,6281%-3,8099% dan 0,2649%-2,5829%. Pada penetapan kadar, diperoleh kadar niacinamide sebesar 1,1275%-1,7441% dan kadar vitamin C sebesar 1,5075%-1,8203%. Kadar niacinamide memenuhi persyaratan penggunaannya, untuk vitamin C kurang dari batas pengguunaanya. Hal ini dikarenakan vitamin C memiliki sifat yang sensitif terhadap cahaya dan dalam larutan akan cepat teroksidasi.
Bunga lawang (Illicium verum)adalah sebuah tanaman herbal berjenis obat-obatan yang mempunyai kandungan berupa senyawa bioaktif yakni saponin, tanin, flavonoid, orthidhine E, Adriadysiolide, dan minyak atsiri. Tanaman ini dapat digunakan sebagai antibakteri yang memiliki efek samping yang rendah. Krim anti jerawat adalah sediaan yang memiliki kandungan berupa berbagai macam bahan yang dibutuhkan untuk kulit wajah yang mengalami masalah berjerawat. Penelitian yang dilakukan ini mempunyai tujuan guna mengetahui bahan ataupun formula untuk krim anti jerawat ekstrak bunga lawang (Illicium verum) dengan uji mutu fisik serta uji antibakteri pada bakteri Staphylococcus epidermidis. Penelitian yang dilakukan ini adalah sebuah penelitian yang berjenis eksperimen dengan tujuan guna mengetahui formula baru dengan bahan aktif ekstrak bunga lawang (Illicium verum) dengan gambaran kuantitatif yang menggunakan analisa data anova one way. Ada pula tahap uji yang akan dilaksanakan adalah pengujian mutu fisik dari sediaan yang tersusun dari, pengujian homogenitas, pengujian organoleptis, pengujian PH, pengujian daya lekat, pengujian daya sebar, pengujian jenis krim, pengujian ukuran partikel viskositas, dan uji antibakteri. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, bahwa formula 3 krim anti jerawat ekstrak bunga lawang (Illicium verum) mempunyai keunggulan yang lebih maksimal daripada dua bahan ataupun formula yang lainnya, hal tersebut dapat dilihat dari pengujian homogenitas, pengujian organoleptis, pengujian PH, pengujian daya lekat, pengujian tipe emulsi dari krim, dan pengujian ukuran partikel krim dan uji aktivitas antibakteri dengan kategori sedang pada bakteri Staphylococcus epidermidis dengan konsentrasi ekstrak bunga lawang (Illicium verum) 10% .
Coffee is one of the most popular drinks in Indonesia because it contains a lot of caffeine.This makes coffee bean production in Indonesia continue to increase, but the quality produced in coffee processing is not optimal.Therefore, in order to get quality coffee beans, proper post-harvest handling is necessary.The type of research used in this research is a type of laboratory experiment research to test and determine the caffeine content in fermented robusta coffee with
Paparan radikal bebas merupakan salah satu penyebab kerusakan pada kulit manusia. Antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal radikal bebas. Salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa antioksidan tinggi yaitu daun kelor (Moringa oleifera). Kandungan senyawa flavonoid daun kelor dapat dimanfaatkan dan diformulasikan ke dalam sediaan kosmetik seperti serum wajah yang berfungsi untuk merawat dan mencegah kerusakan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula serum ekstrak daun kelor yang memenuhi persyaratan evaluasi mutu fisik dan mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat dalam serum ekstrak daun kelor. Metode pada penelitian ini menggunakan teknik penelitian secara eksperimental. Metode eksperimental ini didasari pada formulasi, uji evaluasi, dan uji antioksidan yang dilakukan dalam penelitian ini. Data hasil pengujian yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisa menggunakan metode Anova satu arah (one way Anova). Sediaan serum daun kelor dilakukan uji evaluasi mutu fisik meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar dan uji hedonik. Selain itu dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun kelor sebesar 2%, 4%, 6%, dan 8% memenuhi parameter evaluasi mutu fisik. Sediaan serum dengan konsentrasi ekstrak 2% merupakan serum yang paling disukai berdasarkan hasil hedonik. Hasil uji DPPH sediaan serum daun kelor memiliki aktivitas antioksidan kategori sedang dan kuat dengan nilai IC50 pada F1 135,03 ppm, F2 119,45 ppm, F3 83,33 ppm, dan 65,10 ppm.
Bajakah kalalawit (BK) secara empiris digunakan sebagai obat tradisional untuk meningkatkan daya tahan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak dari batang BK terhadap aktivitas seksual tikus putih ( Rattus norvegicus ) jantan dengan parameter pendekatan, menunggang, dan kawin. Desain penelitian yaitu rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan induksi selama 3 hari. Batang BK dimaserasi dengan etanol 96%. Kontrol negatif diinduksi dengan CMC-Na 0,5% dan kontrol positif diinduksi dengan sildenafil sitrat pada dosis 10 mg/KgBB. P1, P2, dan P3 masing-masing diinduksi ekstrak batang BK pada dosis 150 mg/KgBB, 200 mg/KgBB, dan 250 mg/KgBB/hari. Aktivitas pendekatan, menunggang, dan kawin pada hewan uji yang telah diinduksi diamati menggunakan libidometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak batang BK dapat meningkatkan aktivitas seksual tikus putih jantan pada dosis 150 mg/KgBB/hari jika dibandingkan dengan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan yang lain. Kata Kunci: Uncaria gambir Roxb, Tikus Jantan, Afrodisiaka, Libidometer Bajakah kalalawit (BK) is empirically used as a traditional medicine to increase sexual endurance. This study aimed to analyze the effect of administration of BK stem extract on the sexual activity of white male rats (Rattus norvegicus) with the parameters of introduction, climbing, and coitus. The research design was a Completely Randomized Design with five treatments and three days of induction. BK stems were macerated with 96% ethanol. Negative control was induced with 0.5% CMC-Na and positive control was induced with sildenafil citrate at 10 mg/kg BW. P1, P2, and P3 were induced by BK stem extract at dose of 150 mg/kg BW/day, 200 mg/kg BW/day, and 250 mg/kg BW/day, respectively. Introduction, climbing and coitus activities in the induced test of male rats were observed using libidometer. The results showed that the induction of BK stem extract could increase the sexual activity of male rats at dose of 150 mg/kg BW/day compared to the control group and other treatment groups.
Perkembangan dalam pengobatan tradisional semakin marak dan banyak digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit terutama untuk antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengatahui aktivitas antibakteri Daun Gandarusa (Justicia Gendarussa Burm.f) terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pada penelitian ini bersifat eksperimental. Tahap penelitian diawali dengan ekstraksi dengan pelarut metanol dan fraksinasi dengan pelarut N-heksan pada Daun Gandarusa sehingga menghasilkan 2 fraksi yaitu fraksi metanol dan Nheksan, uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode disc difusi untukpengukuran daya hambat dengan konsentrasi 1000 ppm; 500 ppm; 250 ppm; 125 ppm; 62,5 ppm serta kontrol negatif menggunakan aquades dan kontrol positif menggunakan ampicillin. Selanjutnya, dilakukan pengujian makrodilusi untukpenentuan nilai KHM dan KBM. Senyawa yang memiliki aktivitas tinggi diuji dengan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil GC-MS kemudian dilakukan pengujian secara In Silico untuk mengetahui senyawa tersebut berikatan dengan protein yang digunakan. Hasil pengujian yang dilakukan secara in vitro dan in silico memiliki aktivitas yang baik sebagai antibakteri. Secara in vitro dapat dilihat dari zona hambat/zona bening yang terbentuk serta melalui nilai KHM dan KBM. Untuk uji in silico dilihat berdasarkan nilai kekuatan interaksi yang terjadi.
Pertumbuhan kebun kopi pada saat ini berkembang sangat pesat dan salah satunya di Desa Kucur, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Terdapat kelompok tani dengan nama Republik Tani Mandiri (RTM) yang dibentuk untuk memproduksi kopi. Namun, proses pembuatan kopi masih tradisional dan omset penjualan belum maksimal, sehingga diperlukan inovasi dan penambahan alat produksi untuk meningkatkan harga jual dan kapasitas produksi kopi. Salah satu inovasinya adalah pembuatan kopi fermentasi. Kelompok pengabdian kepada masyarakat Universitas Ma Chung telah melakukan penelitian dan menemukan kondisi yang optimum untuk proses fermentasi kopi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melatih para petani kopi dalam membuat dan mengembangkan kopi fermentasi, serta penyerahan mesin dan alat yang digunakan untuk meningkatkan produksi kopi fermentasi. Hasil dari kegiatan pengabdian ini berupa peningkatan pemahaman pembuatan kopi fermentasi dan peningkatan produksi kopi fermentasi. Peserta berharap kegiatan pendampingan fermentasi kopi terus berlanjut.
Latar belakang: Penyakit diabetes di Indonesia menduduki peringkat ketiga penyakit kronis terbanyak dengan prevalensi 5,6%. Terapi penyakit diabetes memerlukan waktu yang panjang dan memiliki resiko efek samping yang tinggi. Tanaman bihanong secara empiris digunakan untuk menurunkan kadar gula darah. Daun binahong memiliki metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang secara ilmiah dapat menurunkan kadar gula darah. Tujuan: Penelitian ini menganalisis pengaruh induksi ekstrak etanol daun binahong terhadap penurunan gula darah tikus putih galur Wistar. Metode: Desain penelitian adalah post test control group desaign yang menggunakan 25 ekor tikus dan dibagi menjadi 5 kelompok. Dilakukan induksi streptozotocin (STZ) secara intraperitoneal dengan dosis 150 mg/KgBB untuk meningkatkan kadar glukosa pada hewan uji. Kontrol negatif diberikan 0,5% Na-CMC, kontrol positif diberikan glibenklamid, kelompok perlakuan I diberi ekstrak dengan dosis 80 mg/KgBB, kelompok perlakuan II dengan dosis 100 mg/KgBB, dan kelompok perlakuan III dengan dosis 120 mg/KgBB. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan setelah penginduksian STZ dan pemeriksaan dilakukan setiap harinya. Kadar glukosa dalam darah dianalisis menggunakan uji statistik one way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc LSD. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa setiap kelompok memiliki perbedaan yang signifikan pada efek terapi (p ≤ 0,05). Simpulan: Konsentrasi yang direkomendasikan untuk memberikan efek penurunan kadar gula darah yaitu pada dosis 80 mg/KgBB.
Penyakit infeksi tergolong jenis penyakit yang penyebabnya karena infeksi dari mikroorganisme seperti bakteri. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi antara lain Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Tanaman yang dapat dijadikan alternatif adalah tanaman puring anting (Codiaeum variegatum var. Pictum.F. Appendiculatum) yang merupakan tanaman perdu dengan bentuk daun memanjang dan kecil yang terhubung dengan tulang daun. Penelitian ini bertujuan guna mengetahui aktivitas anti bakteri fraksi aktif dan ekstrak daun puring anting terhadap E.coli dan S. aureus menggunakan uji difusi cakram, serta kandungan metabolit sekunder pada fraksi aktif daun puring anting. Dalam penelitian ini, dipilih pelarut etanol 96% untuk mengekstraksi daun puring anting dan difraksi pelarut yang digunakan n-heksana, kloroform, dan metanol 80%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi aktif daun puring anting yang terdapat pada fraksi metanol 80%, dan hasil uji antibakteri dengan metode uji difusi cakram menunjukkan penghambatan E.coli dan S.aureus masing-masing adalah 5,4000 ± 2,0553 mm (1000 µg/ml) dan 5,2250 ± 3,2043 mm (30,125 µg/ml). Dalam fraksi metanol 80% tereteksi metabolit sekunder seperti saponin, steroid, dan alkaloid.
Spatholobus littoralis Hassk has biological activities such as strong antioxidants, booster of leydig cell enhancer and testosterone level booster in male rattus norvegicus, wound healer on the white mouse incision and cytotoxic against cell culture MCF7, HepG2, T47D, WIDR, HTB, and HeLa. This present study aim is to predict predict bioactive compounds from S. littoralis hassk in silico. The methods comprises maceration, LCMS-MS, and some tools (massylnx V4.1, ChemBio Office 2010, mzCloud MS/MS library, SwissADME, and STITCH). The nine proposed compounds (compound 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 11, and 12) are predicted to bind and to react with HCAR3 protein and to have potential as a medicine for disease pellagra and distal hereditary motor neuronopathy type 2.
The purpose of the current study is to review ethno-medicinal plant used by natives in West Kalimantan Province in last five years. The methods used is gathering earlier publications in journals completed with pharmacological evidence of local medicinal plants. The present review result reported that 346 specieses belonging to 95 families have been utilized in West Kalimantan Province. Zingiberceae has the top number of plant of families (25) followed by Rubiaceae (17), Fabaceae (16), Asteraceae (14), Euphorbiaceae (13), Poaceae (13), Verbenaceae (13), Liliaceae (10), other families (<10). The tabulated plant species in this study are frequently used as herbal medicine for the treatment of miscellaneous deseases and the medication safety of local people. Parts of plant used as herbal medicine are leaves (46.1%) followed roots (15.7%), fruits (9.5%), rhizomes (6.7%), all parts (5.9%), stems (5.4%), seeds (2.3%), saps (1.3%), pericarps (1.0%), flowers (0.8%), shoots (0.8%), stalks (0.8%), tubers (0.8%), and twigs (0.3%). The majorities of used methods for traditional medicine are decoction and infusion. The information of this current review includes local names, species, families, used parts, and medical uses. All the medicinal plants reported in this study have been used by West Kalimantan people for the treatment of various deseases
Coffee has a very big role in increasing the country's foreign exchange. Coffee production has increased drastically throughout Indonesia. One of the coffee-producing areas is Kucur Village. Kucur Village is located in the highlands of Malang Regency which produces Robusta, Arabica, and Liberica coffee varieties. Republik Tani Mandiri (RTM) is a farmer group that sells coffee. However, the coffee product produced is still in the form of ground coffee and innovations need to be added to increase the selling value of coffee. The community service team of Ma Chung University provides training for the manufacture of fermented coffee in the hope that the selling price of coffee can increase. The coffee bean fermentation process uses the Saccharomyces cerevise fungus, the fermentation temperature is 30℃, and the fermentation time is 30 days. The results of this training show that the training process is good and partners consider that this activity should be continued until the packaging process
Biji melinjo termasuk komoditas pangan yang banyak terdapat di Aceh. Pemanfaatannya terbatas sebagai olahan sayur dan bahan baku pembuatan emping. Biji melinjo mengandung antioksidan yang tergolong dengan nilai IC50 59,52 ppm kuat bahkan setara dengan antioksidan sintetik Butylated Hydrotolune (BHT). Antioksidan adalah senyawa yang memiliki banyak manfaat untuk Kesehatan kulit yaitu sebagai antipenuaan dan perlindungan dari sinar UV. Atas dasar hal tersebut, maka biji melinjo dapat dioptimalkan penggunaanya sebagai sediaan kosmetik berupa serum mikroemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasikan formula serum ekstrak biji melinjo yang memenuhi persyaratan uji mutu fisik dan mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat dalam serum mikroemulsi ekstrak biji melinjo. Jenis rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Eksperimental ini didasarkan pada formulasi dan uji-uji yang dilakukan dalam penelitian ini. Data hasil uji yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisa menggunakan metode ANOVA one way. Sediaan serum mikroemulsi ekstrak biji melinjo yang telah dibuat dilakukan uji mutu fisik meliputi organoleptis, homogenitas, pH, tipe emulsi, hedonik, viskositas, ukuran partikel, kelembapan, dan iritasi serta uji aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula 3 ekstak biji melinjo 10% lebih unggul dibandingkan dua formula lainnya dalam hal pengujian organoleptis, homogenitas, pH, uji viskositas, tipe emulsi, ukuran globul, uji kelembapan, dan uji iritasi. Uji DPPH sediaan serum mikroemulsi ekstrak biji melinjo memiliki aktivitas antioksidan sedang hingga kuat dengan perolehan nilai IC50 pada F1 118,28 ppm, F2 88,03 ppm, dan F3 80,63 ppm
Dislipidemia merupakan abnormalitas kadar lipid dan lipoprotein dalam plasma dan merupakan salah satu penyebab timbulnya berbagai penyakit kardiovaskular seperti arterosklerosis dan jantung koroner. Pencegahan dislipidemia dapat dilakukan dengan tumbuhan obat herbal yang mengandung senyawa fitokimia penurun kolesterol. Salah satu tanaman obat yang banyak dijumpai di Indonesia adalah daun afrika dan pohon pinus. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak dari tanaman tersebut bermanfaat dalam menurunkan kadar kolesterol. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai kandungan dan aktivitas ekstrak daun afrika dan daun pinus dalam menghambat kolesterol. Pada penelitian ini, uji aktivitas antikolesterol dilakukan secara in vitro dengan metode Liebermann Burchard. Penelitian diawali dengan pengumpulan dan identifikasi bahan berupa daun afrika dan daun pinus. Daun kemudian dikeringkan dan dihaluskan sehingga diperoleh serbuk simplisia. Serbuk simplisia kemudian diekstraksi melalui proses maserasi atau perendaman dalam pelarut etanol sehingga diperoleh ekstrak daun afrika dan daun pinus. Ekstrak kemudian diidentifikasi kandungan senyawa fitokimia yang memiliki aktivitas antikolesterol, seperti flavonoid, tanin, saponin, fenolik, dan steroid. Ekstrak tersebut kemudian diuji aktivitas antikolesterolnya menggunakan spektrofotometri UV-Vis Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa dalam sampel ekstrak daun afrika mengandung senyawa fenolik, tanin, saponin, dan steroid sedangkan dalam sampel ekstrak daun pinus mengandung senyawa flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan steroid. Hasil uji antikolesterol dengan metode Liebermann-Burchard menunjukkan bahwa ekstrak daun afrika dan daun pinus dapat menurunkan kadar kolesterol secara in vitro dengan daya hambat EC50 sebesar 4671,91 ppm. Untuk penelitian selanjutnya disarankan agar pada proses ekstraksi digunakan jenis pelarut dan metode yang berbeda, dilakukan isolasi bahan aktif, dan dilakukan uji antikolesterol secara in vivo.