Di antara berbagai sumber energi terbarukan, biodiesel merupakan kandidat yang menjanjikan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Biodiesel dihasilkan dari reaksi transesterifikasi antara minyak atau lemak dengan alkohol. Reaksi transesterifikasi memerlukan katalis yang sesuai. Terdapat dua macam katalis, yaitu katalis homogen dan heterogen. Katalis heterogen memiliki beberapa keunggulan, antara lain mudah dipisahkan dan dapat digunakan kembali tanpa melalui banyak proses. Saat ini banyak bahan alami yang dimanfaatkan sebagai bahan baku katalis heterogen seperti tulang. Pada artikel ini akan dibahas mengenai pembuatan biodiesel dengan katalis dari berbagai jenis limbah tulang seperti tulang sapi, kambing, domba, ayam, ikan, dan burung unta. Berdasarkan hasil review dari beberapa artikel diketahui bahwa katalis dari tulang yang memiliki yield biodiesel tertinggi berasal dari tulang ikan yang dikalsinasi pada suhu 997,42 oC selama 2 jam, katalis tersebut dapat menghasilkan yield biodiesel sebesar 97,73% dengan kondisi reaksi : perbandingan mol minyak : metanol sebesar 1 : 6,27, berat katalis 1,01% dari massa minyak dengan reaksi yang berlangsung selama 5 jam pada suhu 70 oC. ; ; Kata kunci : biodiesel, transesterifikasi, katalis, limbah tulang
Energi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sebagian besar kebutuhan energi yang diperlukan manusia dipasok dari sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui contohnya seperti minyak bumi, gas alam dan juga batu bara. Solusi yang di berikan ialah dengan menggantinya menggunakan biodiesel. Biodiesel merupakan energi alternatif berbasis nabati dan hewani. Sumber minyak nabati dapat diperoleh pada biji karet dan juga minyak goreng. Pada biji karet mengandung sekitar 40-50%-b minyak nabati dengan komposisi asam lemak yang dominan adalah asam oleat dan asam linoleat, sementara sisanya berupa asam palmitat, asam stearat, asam arachidat dan asam lemak lainnya. Katalis yang berasal dari beberapa cangkang kerang menunjukkan bahwa nilai yield pada kerang tertinggi yaitu pada kerang hijau dengan yield sebesar 90,1% dengan suhu reaksi 65oC selama 4 jam dengan berat katalis 5% dari berat biodiesel. ; Kata Kunci : Kalsinasi, Transesterifikasi, Mollusca
Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan terutama jika berada di luar rumah atau saat berada di kerumunan. Salah satunya yang gencar disosialisaikan adalah mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer. Kebiasaan baru ini meningkatkan kebutuhan hand sanitizer yang tinggi di pasaran. Hand sanitizer yang sudah ada di pasaran umumnya realtif cukup mahal dan berbasis alkohol yang kurang ramah lingkungan. Oleh karena itu perlu diadakan pelatihan pembuatan hand sanitizer berbasis bahan alam sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat untuk memperoleh hand sanitizer yang murah dan ramah lingkungan. Pelatihan diikuti oleh peserta yang mayoritas berdomisili di wilayah Driyorejo, Gresik. Tujuan diadakannya pelatihan ini adalah agar warga Driyorejo, Gresik yang mayoritas bekerja di bidang industri memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk membuat hand sanitizer secara mandiri dari bahan yang mudah diperoleh di sekitar rumah. Bahan alam yang digunakan yaitu daun kemangi dan daun sirih, serta diberikan juga pelatihan untuk pembuatan hand sanitizer alkohol dalam sediaanspray dan gel. Kegiatan pelatihan dilakukan pada 4 September 2021 secara webinar, penyampaian materi dilakukan melalui Zoom. Pelatihan dilaksanakan dengan peserta sebanyak 87 orang. Kepada 20 peserta diberikan kesempatan untuk membuat hand sanitizer sendiri di rumah dengan mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan dari pelatihan. Sebagai bahan evaluasi, peserta diwajibkan mengirimkan video saat proses pembuatan. Hasil evaluasi kegiatan pelatihan hand sanitizer menunjukkan bahwa masyarakat Driyorejo telah terampil membuat hand sanitizer alami maupun berbasis alkohol.
The increase in cases of global environmental pollution due to plastic waste makes the development of biodegradable active packaging very urgent. Gelatin (G), is one of the potential edible film raw materials. However, its weak water barrier and mechanical properties have limited its wide application. The addition of chitosan nanofiber (CHNF) and zinc oxide nanoparticles (ZnONP) is expected to improve the mechanical and barrier properties and present antioxidant and antimicrobial properties to the G film. Characterization results using FTIR, SEM, and DSC showed good compatibility between the G, CHNF, and ZnONP matrix. Meanwhile, the packaging test results confirmed that gelatin, CHNF, and ZnONP-based composite films have the potential to be used as functional materials in food packaging.
Menipisnya bahan bakar minyak bumi dapat menjadi masalah jika tidak ditanggulangi dengan cepat. Hal ini dapat mengakibatkan kelangkaan dan meningkatnya harga bahan bakar minyak. Energi alternatif mulai dikembangakan sebagai solusi atas masalah tersebut, salah satunya adalah biodiesel. Sintesis biodiesel memiliki bahan utama berupa minyak seperti minyak kelapa sawit, minyak jelantah, minyak biji karet, minyak sawit mentah, dan lain-lain. Reaksi sintesis biodiesel umumnya adalah reaksi transesterifikasi yang cenderung lambat dan lama sehingga diperlukan katalis agar reaksi dapar berjalan dengan cepat. Terdapat dua katalis yang dapat digunakan yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Penggunaan katalis heterogen lebih mudah dipisahkan dikarenakan fasa katalis berbeda dengan reaktan maupun produk. Salah satu katalis heterogen biodiesel yang dapat digunakan adalah katalis zeolit alam. Penggunaan katalis zeolit alam memiliki banyak keuntungan seperti harganya yang relatif murah, kelimpahan di alam yang cukup banyak, dan ramah lingkungan. Pemanfaatan zeolit alam sebagai katalis biodiesel diperlukan aktivasi zeolit alam yang dapat dilakukan dengan larutan asam maupun basa. Oleh karena itu, pada artikel review ini membahas mengenai % yield biodisel dengan bantuan katalis zeolit alam yang teraktivasi asam atau basa dari sepuluh artikel. Didapatkan % yield biodiesel tertinggi sebesar 100% pada produksi biodiesel dari minyak jelantah dengan katalis zeolit alam Wonosari teraktivasi asam berupa HCl 6M pada reaksi esterifikasi sebanyak 2% dari berat minyak. Kemudian dilanjutkan reaksi transesterifikasi dengan katalis basa KOH dengan kondisi suhu 60℃ dengan rasio molar minyak dan metanol 1:6 selama 1 jam, dan kecepatan pengadukan 1200 rpm. Berdasarkan hasil artikel review ini zeolit alam yang telah teraktivasi asam atau basa dapat dijadikan sebagai katalis dalam sintesis biodiesel menggunakan metode transesterifikasi dan esterifikasi. Kata kunci : Biodiesel, Katalis biodiesel, Zeolit Alam
Abu sekam padi merupakan salah satu bahan yang kebanyakan mengandung silika (SiO2). Silika dapat digunakan sebagai bahan baku untuk beragam industri. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, meliputi sintesis abu sekam padi dengan variasi berbagai suhu kalsinasi yaitu 800 oC, 900 oC, dan 1000 oC. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis padatan dan fase kristal dari RHA sehingga hasil dari penelitian ini bisa digunakan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya dalam penggunaan RHA. Hasil sintesis menghasilkan empat jenis sampel yaitu sampel kalsinasi pada suhu 800 oC (diberi kode S-800), kalsinasi pada suhu 900 oC berwarna abu-abu (S-900 A), kalsinasi pada suhu 900 oC berwarna putih (S-900 P), dan sampel kalsinasi pada suhu 1000 oC (S-1000). Karakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan bahwa semua sampel termasuk padatan kristalin dengan fase kristal tridimit dan kristobalit yang terdeteksi pada sampel S-800, S-900 P, S-900 A, dan S-1000. Kristobalit dan tridimit adalah polimorf mineral silika dan memiliki rumus kimia yang sama dengan kuarsa yaitu SiO2, tetapi struktur kristalnya berbeda. Persentase kristalinitas sampel dihitung dengan pembanding sampel yang memiliki intensitas puncak tertinggi (S-1000) didapatkan hasil kristalinitas untuk S-1000, S-900 P, dan S-900 A secara berturut-turut adalah 100%, 96%, 79%, dan 32%. Makin kecil suhu kalsinasi mengakibatkan makin kecil persentase kristalinitasnya. Kata kunci : abu sekam padi, kalsinasi, silika, XRD, padatan kristalin
Artikel review ini berisi menngenai pemanfaatan katalis yang berasal dari abu cangkang pada reaksi transesterifikasi minyak jelantah menjadi biodiesel. Penyusunan artikel ini dilakukan dengan menggunakan studi pustaka dengan mengkaji artikel-artikel penelitian yang ada. Bioodiesel merupakan pengganti bahan bakar yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan, dan dapat menggantikan solar. Biodiesel umumnya diproduksi dengan menggunakaneaksi transesterifikasi antarainyak hewani maupun minyak nabati dengan alkohol. Reaksi transesterifikasi berlangsung lambat sehingga diperlukan katalis yang dapat mempercepat reaksi. Katalis CaO dapat diperoleh dari abu cangkang yang telah dikalsinasi dengan suhu tertentu yang dapat menghasilkan oksida logam. Kandungan oksida logam tertinggi pada abu cangkang yaitu CaO pada rentang 81,09 % sampai dengan 93,16% dengan menggunakan suhu kalsinasi pada rentang 700oC sampai 900oC. Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang telah digunakan dalam proses penggorengan yang sudah rusak akibat proses hidrolisis, oksidasi dan polimerisasi . Berdasarkan hasil studi literatur dapat diketahui bahwa katalis CaO dari abu cangkang telur, cangkang siput dan cangkang kerang darah menghasilkan %hasil biodiesel yang tertinggi pada reaksi transesterifikasi dari minyak jelantah yaitu sebesar 99,738% yang berasal dari abu cangkang telur. Hasil tersebut dipengaruhi antara rasio alkohol dan minyak sebesar 12 : 1, jumlah katalis CaO sebesar 7% dengan suhu reaksi transesterifikasi sebesar 70oC.
ANALISIS DISINFEKTAN FENOL SECARA SIKLIK VOLTAMMETRI Pirim Setiarso*, Nita Kusumawati, Lenny Yuanita, Tukiran, Samik Jurusan Kimia FMIPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan AlamUniversitas Negeri Surabaya, Jl. Ketintang, Surabaya, 60231e-mail : pirimsetiarso@unesa.ac.id ABSTRAKTelah dilakukan penelitian Analisis Disinfektan Fenol Secara Siklik Voltametri. Fenol merupakan derivat dari benzena yang salah satu atom H diganti dengan gugus OH. Fenol bersifat racun oleh karena itu, fenol digunakan sebagai disinfektan. Beberapa disifektan yang dijual dipasaran mengandung fenol dan harus memenuhi standar kesehatan.Analisis fenol dilakukan dengan siklik voltammetri menggunakan elektroda graphen oksida yang dibuat dari karbon pensil 2B. Elektrada dibuat dengan campuran graphen oksida parafin dengan perbandingan 8:2. Pengukuran fenol pada disinfektan pasaran menggunakan parameter larutan KCl 5000 ppm sebagai elektrolit pedukung, larutan buffer fosfat pH 6,5. Waktu deposisi 5 detik, dan laju pindai 0,3 mV/s.Disinfektan fenol pasaran diukur berdasarkan kurva fenol standar dengan persamaan linier Y = -0.005507-5.00823 10-5 X dengan koefisien regresi linear R = 0.989229. Berdasarkan perhitungan kurva standar didapatkan kadar fenol disinfektan pasaran merek A= 26,48 ppm; B= 38,24 ppm .
— Diversification of "Najwa" hijab staining has been carried out using a tie-dye method based on natural dyes. A number of natural dyes materials, which include turmeric, cherry and mango leaves and brazilwood bark, have been optimized for use. To obtain a stable color quality, staining is carried out preceded by the pre-treatment (washing and mordanting) and ending with fixation using alum, lime and iron (II) sulfate. The results of the staining show the appearance of reddish (blush) color on the combination of cherry leaves-brazilwood bark, and brown (nutella) on the brazilwood bark-turmeric. Meanwhile, the application of different fixers has resulted in the appearance of different color shades on the combination of mango leaves-turmeric, namely orange (mustard) produced by alum fixers and dark green (dark army) produced by iron (II) sulfate fixers. To improve the quality of the hijab color, the color intensity and fastness resulting from multilevel staining and fixation were also evaluated.
Kandangan Village, is one of the villages in Kandangan sub-district, Kediri where some of its citizens workas farmers, farm laborers, carpenters, masons, construction workers, vegetable vendors, open food stallsand chop. Meanwhile, most of the housewives do not work because they take care of housework. Some ofthem are housemaids, washing and ironing workers, and selling various daily necessities at home(chopping). One type of training from the PKM given was a training in making liquid-based herbal healthdrinks, including syrup empon-empon, minuman alang-alang, and beras kencur which are ready for sale in“café” and herbal shops. This PKM activity was carried out in August 2018 involving 13 housewives fromKandangan village, which began with the presentation of training materials by the PKM Team, followed byassistance in the practice of making herbal-based health drinks, and ended with reflections/feedback andgiving questionnaires. The target of this PKM activity is the increasing skills of housewives in training inmaking herbal-based health drinks. The results of the questionnaire can be seen that PKM activities aredeclared to have gone well and have been able to provide understanding and strengthening skills in makingherbal-based health drinks for participants.
In this research an exploration of the potential use of Caesalpinia sappan and Leucaena leucocephala L. has been carried out as an alternative to environmentally friendly dyeing.To optimize the quality of the shades produced, pre-treatment is done using Turkish Red Oil (TRO) (washing) as well as alum and soda ash (mordanting).Both are applied to minimize the presence of contaminants and create intermediates for reactions between dyes and fabric fibers, while fixation is applied to suppress the reactivity of natural dye compounds to the surrounding environment.Thus, the color fastness can be improved.Natural dyeing uses 75% KKS/25% DL; 50% KKS/50% DL; and 25% KKS/75% DL have produced shades of yellowish, brownish, reddish, purple and black with a color intensity in the range of 73.23%-89.08%;70.27%-84.32%;and 79.73% -83.14% for fixation with iron(II)sulfate, alum and lime, respectively.Furthermore, the results of the staining scale analysis, dyeing with 75% KKS/25% DL; 50% KKS/50% DL; and 25% KKS/75% DL with fixation using iron(II)sulfate, alum and lime successively produce fastness on a scale of 3 (fair); 3-4 (good enough); and 3-4 (good enough).
Dyeing standardization in the production of ABBS SMEs natural dye hand writing batik has been done. A series of stages of pre-treatment, dyeing and fixation have been determined to obtain the desired shades, color intensity and fastness. Optimizing the quality of dyeing is done by washing mori fiber using Turkey Red Oil (TRO) and mordanting using alum and soda ash. The dyeing is done by pre-mordanting method using natural dyes from water guava and mango leaves. To avoid loss of color, especially in the “lorod”(dyes resistrelease)stage, fixation is applied using alum, lime and iron (II) sulfate. The overall standardization in the production of natural dye batik produced by ABBS SMEs resulted in the appearance of brown to black shades with a color intensity of 73.84%-93.54% and fastness on a scale of 2-4 on dyeing using water guava leaf extracts and the appearance of dark and light brown to bluish shades with a color intensity of 79.89%-97.06% and fastness on a scale of 3-4 on dyeing using mango leaf extract. Overall, mango leaf extract produces better dyeing quality on ABBS hand writing batik products. Keywords—Batik, SMEs, ABBS, natural dye
Standardization of ginger and curcuma tea produced by the Baureno Bojonegoro society was carried out.To get high quality products, standardization has been carried out by the washing, slicing and drying processes.Washing ginger and curcuma rhizomes was carried out for 1 min, with a thickness of 0.15 cm on each slice.To increase the shelf life of the product, it is dried on oven at 100 °C.Standardization results show optimal quality with water content of 10.83%, essential oil content of 4.01%, oleoresin of 1.53%, zingiberene (essential oil) 84.88%, gingerol (oleoresin) 67.42%, and shogaol in oleoresin of 33.95%.Meanwhile, curcuma tea products have a water content of 8.20% with essential oil content of 2.05%, curcuminoid of 1.09%, xantorizol in essential oils of 65.17%, and curcumin in curcuminoids of 85.50%.Furthermore, the processing of ginger and curcuma commodities cultivated by the Baureno Bojonegoro society has succeeded in increasing the shelf life from during 29 days to 148 days for ginger tea products, and from during 22 days to 145 days for Curcuma tea products.
This research was conducted to obtain the procedure for the production of herb powder based on Indonesian local Kaempferia galanga commodities which have proximate as well as metals and microbes contamination level that meet the requirements in the Indonesian National Standard (SNI) 01-3709-1995. Blanching and drying procedures are two things optimized in the production process of Kaempferia galanga powder in this study. The results show that the blanching procedure at a temperature of 80 degrees C has induced an increase in water content even though it is still below the SNI threshold. However, the application of drying procedures accompanied by increasingly intensive raw material reversal treatment has compensated for the increase in water content. Along with these conditions, there has been a decrease in ash as well as acid insoluble ash content of the resulting Kaempferia galanga herb products. This condition was strengthened by the results of the metal and microbes contamination levels analysis which showed a significant decrease, especially in the levels of copper metal contamination (25%), total plate number (9.56%) and aflatoxin (66.67%) of the Kaempferia galanga herbs powder products are produced by involving blanching stages accompanied by 2 times/hour reversal treatment.
Penelitian ini berhasil mengetahui kualitas (pH, TDS, dan konduktivitas) air buangan AC yang terdapat di jurusan kimia UNESA sebelum dan setelah melewati kolom yang berisi Resin Penukar Kation (RPK) dan Resin Penukar Anion (RPA). Resin yang digunakan adalah resin amberlite tipe IR 120 (bentuk-Na) dan resin amberlite tipe IR 402 (bentuk-Cl). Air buangan AC sebelum melewati resin mempunyai konduktivitas 3.96 x 10 -5 S, pH 7.73, dan TDS 1.28 ppm. Berdasarkan konduktivitas dan TDS, kualitas air buangan AC setelah melewati kolom berisi resin lebih bagus dari pada air buangan AC sebelum melewati resin. Air buangan AC setelah melewati berbagai resin mempunya konduktivitas 4.4 x 10 -6 S - 2.5 x 10 -5 S dan TDS 0.1 ppm – 0.5 ppm. Air buangan AC yang kualitas pHnya lebih bagus dari akuades adalah air buangan AC yang telah melewati kolom berisi RPK (dengan pH antara 7.44 -7.62) dan air AC yang melewati kolom berisi RPA lalu melewati kolom berisi RPK (dengan pH antara 7.44 -7.69). Air buangan AC yang telah melewati resin memiliki kualitas akuades pada kriteria pH saja, sedangkan kriteria yang lain (TDS dan konduktivitas) belum memenuhi kualitas akuades.
Telah dilakukan PKM pembuatan tepung cacing tanah pada ibu-ibu PKK RT 2 RW 3 Desa Sumberdukun Ngariboyo Magetan sebagai alternatif penghasilan tambahan dalam membantu pendapatan suami di bidang pertanian. PKM dilakukan dengan metode pelatihan dengan keberhasilan diukur melalui monitoring lapangan dan angket survey. Hasilnya menunjukkan bahwa PKM berjalan dengan baik dan efektif yang ditunjukkan dengan keterampilan peserta menghasilkan tepung cacing tanah berkualitas yang dapat dilihat dari produk tepung yang dihasilkan. Peserta dapat menyerap bekal manajemen bahan, manajemen usaha serta kewirausahaan dengan baik.