Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Yogyakarta dalam meningkatkan penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Korea Selatan melalui skema Government to Government (G-to-G) pasca pandemi COVID-19 tahun 2023. Pandemi COVID-19 memberikan dampak signifikan terhadap mobilitas pekerja migran, termasuk penurunan penempatan PMI, pemutusan hubungan kerja, serta keterbatasan akses kesehatan dan perlindungan kerja di negara tujuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan magang di BP3MI Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BP3MI Yogyakarta berperan aktif dalam meningkatkan penempatan PMI melalui penyebaran informasi peluang kerja, verifikasi dokumen, fasilitasi orientasi pra-pemberangkatan, pemberkasan skema G-to-G Korea, serta penguatan kerja sama dengan lembaga terkait. Selain itu, BP3MI juga menghadapi beberapa kendala seperti keterbatasan sumber daya, pemahaman calon PMI terhadap prosedur, serta kompleksitas regulasi pasca pandemi. Secara keseluruhan, upaya BP3MI Yogyakarta melalui skema G-to-G Korea mampu mendukung pemulihan penempatan PMI secara bertahap dan meningkatkan perlindungan serta kesejahteraan pekerja migran Indonesia.
Perceived social support is essential for improving psychological well-being, self-efficacy, and treatment adherence among people living with HIV (PLHIV), particularly in collectivist contexts such as Indonesia. To date, no culturally validated instrument has been available to measure this construct in Indonesian PLHIV. This study aimed to translate, culturally adapt, and psychometrically validate the Indonesian version of the Perceived Social Support in HIV scale. Using a cross-sectional design, 200 Indonesian adults with HIV were recruited. A six-step cross-cultural adaptation process was applied, followed by psychometric evaluation including content validity, confirmatory factor analysis, construct validity, and reliability testing. The scale demonstrated excellent validity (S-CVI = 0.97), strong model fit (CFI = 0.995, TLI = 0.994, RMSEA = 0.037, SRMR = 0.018), and high correlations with self-efficacy and perceived stress. Reliability was outstanding (Cronbach's alpha = 0.962; ICC = 0.963). This validated instrument provides a robust tool for psychosocial assessment and intervention planning in HIV care.
BACKGROUND:Diabetes-related quality of life (DR-QoL) is shaped by interactions between cardiometabolic dysfunction and psychological stress, yet these mechanisms are rarely examined within a unified framework. AIMS:To evaluate the independent, interactive, and mediating effects of cardiometabolic factors and stress on DR-QoL obstacles. METHODS:A cross-sectional study was conducted among 1815 adults with type 2 diabetes from 15 Indonesian provinces (2023-2024). Stress and DR-QoL obstacles were assessed using validated instruments. Independent and synergistic effects were examined using logistic regression, and mediation was tested via path analysis. RESULTS:Overweight, obesity, stage 2 systolic hypertension, and abnormal fasting blood glucose (FBG) significantly predicted high stress (AOR = 1.982-20.889; p < 0.001), with synergistic interactions markedly amplifying the risk (AOR up to 53.972). DR-QoL obstacles were strongly associated with cardiometabolic abnormalities (AOR = 1.352-18.420) and high stress (AOR = 18.930), with the highest risk observed in participants with multiple concurrent abnormalities (AOR = 52.097). Mediation analysis identified FBG and stress as key mediators, with stress showing the strongest direct effect on DR-QoL obstacles (β = 0.397). LINKING EVIDENCE TO ACTION:These findings highlight FBG and stress as central mechanistic targets for interventions aimed at reducing DR-QoL obstacles.
This study aims to evaluate the implementation of Game-Based Learning (GBL) to enhance speaking skills and vocabulary acquisition among young EFL learners at Domby Kid’s Hope 1, Yogyakarta. The problem addressed in this study is the low motivation and limited active use of English, particularly in speaking. To address this issue, GBL was implemented through activities like Duduk Senang and Animal Guessing, designed to increase student engagement and reduce anxiety when speaking. The method used was a descriptive qualitative approach, with data collected through pre- and post-tests, classroom observation, and reflective evaluation. The results showed that GBL successfully improved students' ability to recognize and use English vocabulary related to numbers and animals, as well as increased their confidence in speaking. All students showed significant progress after engaging in GBL activities. The implications of this study suggest that GBL can serve as an effective and enjoyable alternative to traditional language teaching, especially in non-formal education settings, and can contribute to the development of more engaging language teaching methodologies for young learners. === Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Game-Based Learning (GBL) dalam meningkatkan keterampilan berbicara dan penguasaan kosakata pada pelajar bahasa Inggris usia dini di Domby Kid’s Hope 1, Yogyakarta. Masalah yang dihadapi adalah rendahnya motivasi belajar dan keterbatasan dalam penggunaan Bahasa Inggris secara aktif, terutama dalam berbicara. Untuk mengatasi hal ini, GBL diterapkan melalui aktivitas permainan seperti Duduk Senang dan Tebak Hewan, yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan mengurangi kecemasan saat berbicara. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui tes awal dan akhir, observasi, serta evaluasi reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GBL berhasil meningkatkan kemampuan siswa dalam mengenali dan menggunakan kosakata bahasa Inggris terkait angka dan hewan, serta meningkatkan rasa percaya diri dalam berbicara. Semua siswa menunjukkan kemajuan signifikan setelah mengikuti aktivitas GBL. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa GBL dapat menjadi alternatif yang efektif dan menyenangkan dalam pengajaran Bahasa Inggris, terutama di lingkungan pendidikan non-formal, dan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan metodologi pengajaran bahasa yang lebih menarik bagi pelajar muda.
Gangguan keseimbangan kini mulai mengancam kelompok usia produktif akibat gaya hidup sedentari dan beban kerja, sehingga deteksi dini melalui Functional Reach Test (FRT) menjadi krusial dalam program promotif-preventif di Posbindu Idaman UNRIYO. Tujuan kegiatan ini untuk mengidentifikasi risiko jatuh pegawai UNRIYO via metode FRT guna intervensi keseimbangan dan peningkatan kesehatan. Melalui metode skrining terhadap 84 pegawai pada Juni 2025 dengan instrumen FRT-KMS, ditemukan bahwa mayoritas responden (58,4%) memiliki potensi gangguan keseimbangan, dengan rincian 2,4% risiko tinggi (<17,5 cm), 56% risiko sedang (17,6–28,9 cm), dan hanya 41,7% yang memiliki risiko rendah (> 29 cm). Temuan ini sejalan dengan teori penurunan stabilitas postural gradual pada dewasa muda dan mendukung urgensi skrining kesehatan institusional. Secara keseluruhan, FRT terbukti sebagai instrumen praktis yang efektif untuk mengidentifikasi risiko jatuh, yang hasilnya merekomendasikan pentingnya intervensi berupa edukasi ergonomi dan latihan penguatan otot inti guna menjaga produktivitas kerja pegawai di lingkungan kampus.