This study aims to measure Green Productivity (GP) by integrating Environmental Performance Indicators (EPI) to optimize the performance of a fish-processing MSME in Pasuruan Regency, Indonesia. Primary data were collected through observations, interviews, and questionnaires, while secondary data included utility usage logs and internal reports. The analysis employed the Input–Process–Output–Outcome (IPOO) framework and the PDCA continuous improvement cycle. Findings reveal a monthly revenue of IDR 150 million with a productivity score of 2.21, indicating high economic efficiency. However, the enterprise generates 4,015 kg CO₂e/month from electricity, LPG, water, and organic waste. The EPI was IDR 37,368/kg CO₂e, and the GP index was 0.00055—signaling low Eco-efficiency. The novelty of this study lies in combining GP and EPI within MSMEs using actual emissions-based indicators to identify inefficiencies and propose green strategies. Implications include a structured assessment model for MSMEs, informing green policy support, and contributing to sustainable operations. Recommended improvements include energy-efficient technologies, waste composting, water reuse, and staff training. This study highlights the critical role of environmental indicators in enhancing the green competitiveness of MSMEs in traditional sectors.
Penelitian ini menganalisis preferensi konsumen terhadap keripik pisang Bu Sami di Kabupaten Pasuruan. Metode survei menggunakan kuesioner pada 50 responden dipilih secara accidental sampling. Data primer dan sekunder dianalisis dengan regresi logistik untuk menguji pengaruh harga, kemasan, rasa, tekstur, dan ukuran terhadap keputusan pembelian. Hasil uji model menunjukkan Nagelkerke R² 0,734 dan Hosmer–Lemeshow p = 0,902, menandakan kecocokan yang baik. Secara parsial, harga dan rasa berpengaruh positif signifikan, sedangkan kemasan signifikan namun berkoefisien negatif, tekstur dan ukuran tidak signifikan. Temuan menegaskan pentingnya penyesuaian rasa dan strategi harga, serta penyempurnaan desain kemasan minimalis agar selaras harapan konsumen. Implikasinya, produsen dapat meningkatkan daya saing melalui inovasi rasa dan promosi tepat terarah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh talent management terhadap retensi karyawan Gen Z dengan employee experience sebagai variabel mediasi pada PT Amerta Indah Otsuka Pasuruan. Fenomena tingginya mobilitas kerja Gen Z dan tuntutan mereka terhadap fleksibilitas, pengembangan karier, serta lingkungan kerja yang bermakna mendorong perusahaan untuk memperkuat strategi pengelolaan talenta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode explanatory research. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada karyawan Gen Z yang bekerja di PT Amerta Indah Otsuka Pasuruan dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa talent management berpengaruh positif terhadap employee experience dan retensi karyawan. Employee experience juga berpengaruh positif terhadap retensi karyawan serta memediasi hubungan antara talent management dan retensi karyawan. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa perusahaan perlu merancang pengelolaan talenta yang terintegrasi dengan pengalaman kerja yang positif agar mampu mempertahankan karyawan Gen Z secara berkelanjutan.
This study aims to analyze the effects of perceived usefulness, trust, and digital financial literacy on the intention to use financial technology (fintech), with perceived risk serving as a moderating variable among Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the food and beverage sector in Pasuruan Regency. This study employed a quantitative approach with an associative research design. A total of 385 respondents were selected using a purposive sampling technique. Primary data were collected through a Google Forms-based questionnaire and analyzed using Moderated Regression Analysis (MRA). The findings indicate that perceived usefulness has a positive and significant effect on the intention to use fintech (β = 0.278; p = 0.000), as does trust (β = 0.228; p = 0.001). In contrast, digital financial literacy does not have a significant effect on the intention to use fintech (β = 0.109; p = 0.093). Furthermore, perceived risk significantly weakens the positive relationship between perceived usefulness and the intention to use fintech (β = −0.057; p = 0.000). However, perceived risk does not moderate the relationships between trust (p = 0.090) and digital financial literacy (p = 0.100) with the intention to use fintech. These findings suggest that perceived usefulness and trust are the primary determinants of fintech adoption among MSMEs, while perceived risk may reduce the influence of perceived usefulness on the intention to adopt fintech. Therefore, fintech service providers should strengthen system security, enhance data protection, and promote digital financial education to encourage sustainable fintech adoption. Keywords: financial technology, perceived usefulness, trust, digital financial literacy, perceived risk, MSMEs.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan Dividend Payout Ratio (DPR) yang tinggi pada PT H.M. Sampoerna Tbk serta implikasinya terhadap perlindungan hak pemegang saham minoritas berdasarkan perspektif Agency theory dan prinsip fairness dalam Good Corporate Governance. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh konsistensi perusahaan dalam membagikan dividen dengan tingkat DPR yang tinggi selama periode 2023-2025, termasuk DPR yang melebihi 100 persen pada tahun 2024. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan, laporan keuangan, laporan tata kelola perusahaan, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan terhadap kebijakan dividen, struktur kepemilikan saham, dan perlindungan hak pemegang saham minoritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT H.M. Sampoerna Tbk mempertahankan kebijakan DPR yang tinggi selama periode penelitian sebagai bentuk distribusi laba kepada pemegang saham. Dalam perspektif teori keagenan, kebijakan tersebut berperan dalam mengurangi konflik keagenan melalui pengurangan free cash flow yang berada di bawah kendali manajemen serta memberikan manfaat ekonomi langsung kepada pemegang saham. Namun, struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi pada pemegang saham pengendali berpotensi menimbulkan konflik antara pemegang saham mayoritas dan minoritas. Meskipun demikian, kebijakan dividen perusahaan secara umum telah mencerminkan prinsip fairness melalui pembagian manfaat ekonomi secara proporsional dan keterbukaan informasi. Implikasi penelitian menegaskan pentingnya penerapan Good Corporate Governance yang efektif untuk memastikan perlindungan hak pemegang saham minoritas secara berkelanjutan.