Kursi merupakan tempat duduk yang pada umumnya dibuat dengan rangka yang keras, bisa berupa material kayu, besi, karet atau bahan lain. Dalam pelatihan yang dilakukan kepada mahasiswa tentang desain produk. Mahasiswa diminta membentuk kelompok untuk mendiskusikan desain kursi yang akan mereka buat. Mahasiswa bukan hanya mendesain namun memikirkan pula material, proses pembuatan, teknik sambungan, serta fungsinya. Metode pelatihan yang dilakukan menggunakan tiga tahapan yaitu: 1) Diskusi; 2) Desain; Proses produksi. Ketiga tahap ini dilakukan dalam konsep pelatihan yang menerapkan kemampuan tim dalam menghasilkan produk. Instruktur menjadi anggota tim yang bertujuan untuk memberikan masukan atau usulan pada saat tim mahasiswa mengalami kebuntuan dalam diskusi. Hasil yang diperoleh dari pelatihan ini adalah sebuah kursi tanpa sandaran dengan lengan tangan pada sisi kanan dan kiri. Kursi tersebut menggunakan material triplek yang dilengkungkan melalui teknik laminasi dan bending triplek. Kesimpulan dari pelatihan ini menunjukan bahwa metode pelatihan yang diterapkan mampu memberikan stimulus pada tim mahasiswa untuk melanjutkan pemikiran yang buntu atau tanpa solusi. Kebuntuan pada tim mahasiswa diakibatkan kurang pengetahuan, pengalaman serta literasi pada proses pembuatan kursi.
Injection molding machines play a crucial role in achieving production targets at PT XYZ, a footwear manufacturing company located in East Java, Indonesia. However, operational inefficiencies have contributed to decreased machine effectiveness and overall productivity. This study aims to evaluate the performance of Injection Machine 7 by applying the Overall Equipment Effectiveness (OEE) method as a key performance indicator. OEE is measured through three main components: availability, performance, and quality, using operational data collected between June 2023 and October 2024. The results show that the average OEE value of Injection Machine 7 is 81.64%, which is below the world-class benchmark of 85% established by the Japanese Institute of Plant Maintenance (JIPM). The analysis indicates that relatively low performance and quality rates are the primary factors contributing to the reduced level of machine effectiveness. To identify the root causes of these issues, a cause-and-effect (fishbone) diagram based on the 4M framework (Man, Machine, Material, and Method) was employed. The findings reveal that human and machine factors are the dominant contributors to the observed inefficiencies. Key issues include operator negligence, inadequate adherence to maintenance procedures, machine breakdowns, and improper machine parameter settings. Based on these findings, several improvement strategies are proposed, including strengthening operator training programs, implementing more rigorous preventive maintenance practices, and conducting periodic machine calibration. The implementation of these corrective actions is expected to enhance machine effectiveness, improve production efficiency, and support sustainable manufacturing performance.
Latar belakang kegiatan masyarakat Prodi Arsitektur Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) di Gereja Katolik St. Yusuf stasi Kampunganyar Blitar ini didasarkan atas kebutuhan akan ruang komunal. Ruang komunal dibutuhkan oleh Wargastasi Kampunganyar untuk melakukan berbagai kegiatan rohani maupun sosial. Kondisi saat ini, ruang komunal sudah tidak mampu menampung Warga, kolom maupun atap sudah keropos dan bocor. Oleh karena itu, Wargasetempat bergotong royong membangun ruang komunal yang lebih luas, mengganti material kolom dan atap dari bahan yang lebih kuat serta awet. Mengingat Kampunganyar berada di daerah yang rawan semburan abu vulkanik gunung Kelud. Kearifan lokal mengajarkan kepada warga setempat beradaptasi dengan lingkungan alam sekitarnya. Kemiringan atap yang curam membuat timbunan abu vulkanik langsung jatuh ke bawah, sehingga atap tidak mudah rusak dan menimpa penghuninya. Kendala dana membuat atap ruang komunal belum bisa direalisasikan. Ada pun, tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini membantu Wargamenyelesaikan atap ruang komunal. Metoda pelaksanaan meliputi: 1) Diskusi dengan Romo Kepala Paroki dan WargaGereja Katolik St. Yusup stasi Kampunganyar, 2) Survei lapangan ke Dusun Kampunganyar, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, 3) Tahap pelaksanaan melibatkan Wargasetempat, LPPM, Prodi Arsitektur, PT Kencana Maju Bersama, dan paroki Gereja Katolik St. Yusuf Blitar. Harapan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, ruang komunal Gereja Katolik St. Yusuf stasi Kampunganyar menjadi ruang yangnyaman dan aman ketika melaksanakan kegiatan-kegiatan rohani maupun sosial.
Harga berlian di pasar memang sangat gampang berubah-ubah dan sangat terpengaruh oleh kondisi fisiknya. Hal ini bikin urusan menebak harganya jadi tantangan tersendiri buat banyak orang, apalagi kalau cuma pakai tebakan biasa. Masalah utamanya adalah orang-orang sering kesulitan menaksir harga yang pas secara manual, dan ini bisa bikin rugi besar kalau tebakannya meleset jauh. Nah, lewat studi ini, peneliti punya tujuan pengen melihat sekaligus mengadu langsung kemampuan dua program komputer pintar, yakni algoritma Machine Learning Random Forest dan LightGBM, saat dipakai buat meramal harga biar lebih akurat dan nggak asal tebak. Untuk cara kerjanya, ada sekitar 53.940 riwayat penjualan berlian yang digunakan sebagai bahan belajar. Data ini sudah lengkap dengan sembilan ciri utamanya, semisal berat karat, kualitas potongan, pigmen warna, sampai ukuran fisiknya. Sebelum mulai dihitung oleh komputer, baris data yang isinya aneh atau nggak masuk akal langsung dihapus bersih. Habis itu, keterangan yang masih berupa tulisan diganti ke dalam wujud angka biar gampang diproses. Selanjutnya, keseluruhan data ini dipecah dengan porsi 80 persen untuk bahan belajar si program, dan 20 persen sisanya disimpan murni cuma buat alat tes seberapa pintar tebakan mereka. Buat ngukur ketepatan tebakannya, peneliti pakai tiga patokan hitungan, yaitu R-squared (R²), Mean Absolute Error (MAE), dan Root Mean Squared Error (RMSE). Dari hasil tesnya, Random Forest ternyata jauh lebih jago dengan skor akurasi R² yang tembus angka 0.9835, serta rata-rata tebakan meleset (MAE) yang sangat kecil, cuma di kisaran $38.89 dan RMSE $77.24. Kemampuan ini sukses telak mengalahkan program LightGBM yang cuma dapat skor R² 0.9830, tebakan meleset (MAE) $41.28, serta RMSE $78.27. Intinya, hasil penelitian ini membuktikan dengan jelas kalau sistem kerja bareng-bareng atau ensemble milik Random Forest jauh lebih awet, stabil, dan paling akurat buat urusan nebak harga berlian di pasaran.