
Anak-anak dengan GPPH merupakan gangguan neuropsikiatrik kronis mungkin jauh lebih aktif dan/atau impulsif daripada anak-anak biasanya. Sekitar 40-66% kasus GPPH dapat berlanjut dari masa kanak-kanak sampai usia dewasa. Jika gangguan ini tidak mendapatkan intervensi sejak dini maka dapat menimbulkan masalah psikososial yang lebih buruk, misalnya kesulitan belajar yang akan berakibat buruk pada prestasi akademik, penyalahgunaan narkotika, alkohol, dan zat adiktif lain, gangguan tingkah laku seperti kenakalan, kekerasan, dan perbuatan kriminal, kesulitan penyesuaian diri. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hyperaktif (GPPH) Pada Anak Usia Sekolah, mendeteksi anak dengan GPPH sejak dini, dan dapat mengatasi anak yang GPPH sejak dini. Penelitian ini dilakukan diagnosis GPPH ditegakkan dengan anamnesis. Tenaga kesehatan harus mendapatkan riwayat penyakit melalui anamnesis menggunakan pertanyaan terbuka yang terfokus pada perilaku-perilaku spesifik dengan fase-fase: 1) pemeriksaan fisik, 2) anamnesis menggunakan pertanyaan terbuka, 3) Skala penilaian GPPH sensitif dari spesifik untuk mengdiagnosiskan GPPH dan skrining GPPH menggunakan Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktif Indonesia (SPPAHI) kepada guru dan orang tua, 4) siswa/siswi berisiko GPPH dan tidak berisiko GPPH. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Subyek uji coba penelitian ini adalah Siswa/siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Lhoksukon. Hasil yang akan dicapai dapat mengetahui Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hyperaktif (GPPH) Pada Anak Usia Sekolah Dasar sehingga dapat segera melakukan penanganan agar tidak berdampak sampai dewasa. Hasil penelitian didapatkan bahwa Deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hyperaktif (GPPH) Pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Lhoksukon pada pemeriksaan orang tua dominan berada pada kategori tidak hiperaktif yaitu sebanyak 188 responden (84%), dan yang berisiko berjumlah 36 responden (16%). Hasil pemeriksaan GPPH pada guru didapatkan dominan berada pada kategori tidak berisiko yang berjumlah 190 responden (85%), dan yang berisiko berjumlah 34 responden (15%). Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hyperaktif Pada Anak Usia Sekolah (GPPH) di SD pada Kecamatan Lhoksukon dominan berada pada kategori tidak hiperaktif menggambarkan bahwa prevalensi hiperaktif tidak terlalu tinggi, namun perlu terus diwaspadai dan dilakukan penelitian-penelitian lanjutan guna mendeteksi seluuruh anak dengan resiko GPPH untuk penanganan lebih lanjut. GPPH pada anak di Kecamatan Lhoksukon lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Saran dalam penelitian ini diharapkan ibu-ibu yang mempunyai anak usia sekolah lebih proaktif memantau perkembangan anaknya, baik disekolah maupun dirumah serta melihat kemungkinan-kemungkinan GPPH pada anak dan segera melakukan penanganan pada anak GPPH
Nyeri adalah perasaan tidak nyaman yang betul-betul subyektif dan hanya orang yang menderitanya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasinya.Salah satu tindakan peredaan nyeri pada pasien yang mengalami nyeri arthritis rheumatoid adalah dengan terapi kompres air hangat dimana dapat menyebabkan vasodiltasi sehingga dapat meningkatkan aliran darah dan rasa nyeri pun bisa berkurang dan berhenti. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas kompres air hangat dan kompres dingin terhadap intensitas nyeri pada lansia yang mengalami reumatoid artritis di Desa Gampong Jalan Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah pre-experimental design dengan rancangan one group pretest-postest design. Peneltian ini dilakukan mulai bulan Februari s/d Oktober 2019 dengan jumlah sampel 35 orang lansia dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas nyeri responden sebelum diberikan terapi kompres air hangat dan dingin mayoritas berada pada kategori nyeri ringan sebanyak (34,3%) dan minoritas berada pada katagori nyeri paling berat sebanyak (11,4%). Setelah diberikan terapi kompres air hangat mayoritas berada pada kategori tidak nyeri sebanyak (48,6%). Hingga terlihat bahwa adanya penurunan intensitas nyeri dari katagori ringan menjadi tidak ada nyeri. Disarankan kepada keluarga lansia mendapatkan informasi tentang mengurangi nyeri dengan melakukan kompres air hangat dan kompres dingin bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari
Teknik massage yang umum dilakukan adalah effleurage (bentuk massage dengan menggunakan telapak tangan yang memberi tekanan lembut ke atas permukaan tubuh dengan arah sirkular secara berulang). Menggosok pada bagian tubuh apapun, bahkan diantara kontraksi, mungkin dapat berperan untuk meredakan nyeri. Ini tidak hanya mendorong relaksasi, tetapi percobaan dengan stimulasi kutaneus memperlihatkan bahwa tindakan ini dapat bermanfaat dalam waktu lama setelah penggunaannya untuk pengurangan rasa nyeri persalinan normal kala I fase Aktif pada ibu primigravida. Massage (pijatan) dapat digunakan selama persalinan dan mungkin merupakan tindakan pereda nyeri yang efektif. Penelitian ini bertujuan melihat Efektivitas Pemberian Teknik Massage Effleurage Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Persalinan Normal Kala I Fase Aktif Pada Ibu Primigravida di BPM Martini, Amd, Keb dan BPM Santi Yosina, Amd, Keb Kabupaten Aceh Utara Tahun 2019. Desain penelitian bersifat quasi experimental design dengan metode pendekatan the posttest only control group design. Populasi pada penelitian ini adalah ibu bersalin kala I fase aktif yang berjumlah 32 orang. Hasil penelitian ini adalah terdapat 16 responden ibu yang dilakukan penelitian dan interprestasi dari hasil uji Mann Whitney didapatkan nilai α < P Value (0,003 < 0,005) hasil ini berarti terdapat pengaruh atau keefektifan antara Teknik Massage Efeleurage Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Persalinan Pada Ibu Primigravida.
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan bayi dan anak di Indonesia dan merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kejadian penyakit campak dan keparahan penyakit campak pada anak usia 1-2 tahun yang diimunisasi campak dengan yang tidak diimunisasi campak di Puskesmas Baktiya Kabupaten Aceh Utara. Jenis penelitian ini bersifat observational analitik dengan desain case control, dengan sampel sebanyak 30 orang kelompok kasus yaitu anak yang di imunisasi campak dan 30 orang kelompok kontrol yaitu bayi yang tidak diimunisasi campak dengan cara accidental sampling yaitu ibu yang mempunyai anak usia 1-2 tahun yang kebetulan ada/tersedia di Puskesmas Baktiya Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 26 Agustus sampai dengan 7 September 2018 dengan metode penyebaran kuesioner Pengolahan data dilakukan proses editing, coding, tabulating, processing dan cleaning secara univariat dan bivariat menggunakan uji t-test dependent. Hasil analisis univariat diperoleh bahwa sebagian besar kejadian penyakit campak pada anak yang diimunisasi campak sebesar 22 orang (73%) sedangkan pada anak yang tidak diimunisasi campak sebesar 20 orang (67%) dan sebagian besar keparahan penyakit campak pada anak yang diimunisasi campak sebesar 22 orang (73%) sedangkan pada anak yang tidak diimunisasi campak sebesar 15 orang (50%) Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa terdapat perbedaan antara kejadian penyakit campak pada anak usia 1-2 tahun yang diimunisasi campak dengan yang tidak diimunisasi campak dengan nilai t value 0.000 dan terdapat perbedaan antara keparahan penyakit campak pada anak usia 1-2 tahun yang diimunisasi campak dengan yang tidak diimunisasi campak dengan nilai t value 0.001. Diharapkan kepada ibu agar dapat memperbanyak informasi khususnya ibu yang mempunyai anak mengenai penyakit campak dan cara pencegahannya.
Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara komulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi lingkungan sehingga individu mampu berfikir dan bertindak sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan kemampuan pemberian stimulasi dengan kemandirian pada anak usia prasekolah. Desain penelitian ini deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang tua yang mempunyai anak usia prasekolah dan semua anak usia prasekolah yang berjumlah masing-masing 46 orang, dengan teknik total sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah orang tua yang mempunyai anak usia prasekolah sebanyak 46 anak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2013. Analisis yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua responden memiliki kemampuan pemberian stimulasi kategori baik sebanyak 63,0%, sedangkan untuk kemandirian anak sebagan besar responden memiliki kemandirian dalam kategori baik sebanyak 58,7%. Hasil analisa uji statistik di ketahui p value sebesar 0,000 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan pemberian stimulasi dengan kemandirian anak usia prasekolah di Kelurahan Tlogomas Malang. Disarankan pada orang tua untuk mempertahankan kemampuan pemberian stimulasi pada anak, atau lebih meningkatkan lagi dengan cara mengikuti pelatihan dan banyak membaca tentang stimulasi perkembangan anak. Kata kunci: Kemampuan, Kemandirian, Pemberian Stimulasi
Tingginya limbah domestik, terutama tinja yang memasuki badan air menyebabkan berbagai penyakit seperti tifus, disentri, kolera dan diare. Air merupakan media transmisi penyebaran penyakit apalagi dalam keadaan kotor. Maka untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat perlu melakukan pengolahan limbah domestik, yakni menggunakan pengurai limbah EM-4 (Effective Microorganism-4) dan Starbio Plus. Tujuan penelitian untuk menentukan efektivitas pengurai limbah EM-4 dan Starbio Plus; menentukan perbedaan konsentrasi serta mengetahui interaksi antara pengurai limbah dan konsentrasi dalam menurunkan jumlah bakteri indikator pencemaran air pada efluen tanki septik. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Sampel sebanyak 250 ml efluen diambil secara purposive random sampling. Pemeriksaan bakteri dengan Metode JPT (Jumlah Perkiraan Terdekat). Hasil dianalisis menggunakan ANOVA 2 faktor, dilanjutkan uji perbandingan Duncan 5%. Penelitian memberikan hasil bahwa tidak ada perbedaan efektivitas EM-4 dan Starbio Plus dalam menurunkan jumlah bakteri indikator pencemaran air, konsentrasi yang berbeda menurunkan jumlah bakteri indikator pencemaran air yang berbeda pula, serta tidak ada interaksi antara pengurai limbah dan konsentrasi dalam menurunkan jumlah bakteri indikator pencemaran air pada efluen tanki septik. Konsentrasi yang paling optimal dalam penurunan bakteri indikator pencemar air adalah 0,35 gr/100 ml. Pada Analisis Regresi untuk penurunan jumlah bakteri Koliform total dan Koliform tinja hingga 0/100 ml dicapai pada konsentrasi 1,66 g / 100 ml dan 0,98 g / 100 ml.
Tujuan MDGs pada poin 5 sejalan dengan tujuan Pregnancy Risk Assessment Monitoring System (PRAMS) yaitu memperbaiki dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil. Kesehatan gigi dan mulut yang buruk pada ibu hamil dapat memberi efek terhadap janin seperti bayi prematur dan berat badan lahir rendah disamping terhadap kesehatan gigi dan mulut bayi nantinya. Banyak faktor yang juga dikaji sebagai faktor yang mempengaruhi berat badan lahir antara lain umur, paritas, pekerjaan, kadar hemoglobin( Hb) , status KEK dan frekuensi pemeriksaan kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karies dentis pada ibu hamil dengan berat badan lahir di Puskesmas Larangan. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan kohort retrospektif/.Populasi adalah seluruh ibu yang melahirkan di Puskesmas Larangan bulan Januari sampai dengan Desember 2013, dengan sampel sejumlah 32 orang.Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Analisa data dengan uji independent t test. Hasil diketahui sebagian besar ibu hamil tidak mengalami karies gigi yakni 21 orang ( 61,8%) ; berat badan bayi normal yaitu 26 ( 76,5%);dan simpulkan bahwa tidak ada hubungan antara karies dentis dengan berat badan lahir serta kadar Hb mempunyai hubungan erat dengan badan lahir. Direkomedasikan melakukan pemantauan kadar Hb sebagai upaya mencegah kejadian berat badan lahir rendah.
Pengaruh teman sebaya bagi anak pra sekolah sangat besar. Apapun yang dilakukan maupun dikonsumsi temannya,akan menjadi kebiasaan baru bagi dirinya,termasuk dalam hal ini jajanan. Jajanan merupakan salah satu makanan yang sangat disukai anak pra sekolah dikarenakan rasanya yang manis. Perilaku anak pra sekolah dalam mengkonsumsi makanan /minuman manis, namun tidak diiringi perilaku membersihkan gigi menyebabkan terjadinya karies gigi.Anak karies gigi akan mengalami ngilu pada lubangnya, sehingga diduga akan menurunkan konsumsi makannya.Penurunan konsumsi makan dalam waktu lama,berdampak pada status gizi anak yang kurang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karies gigi dengan status gizi anak pra sekolah.Desain penelitian menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di RA Pesantren Al Madaniyah. Populasi adalah semua anak pra sekolah di RA Pesantren Al Madaniyah yang berjumlah 52 anak. Sampel sejumlah 42 anak didapatkan melalui teknik accidental sampling..Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan berat badan digital,microtoice, lembar pengukuran dan observasi. Analisa data dengan uji rank spearman.Hasil penelitian didapatkan hampir seluruh anak mempunyai status gizi normal yakni 39 anak(92,9%), namun sebagian besar anak mengalami karies gigi yakni 27 anak(64,3%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara karies gigi dengan status gizi. Direkomendasikan bagi orang tua pentingnya dalam pemilihan makanan dan minuman jajanan yang rendah gula serta pendampingan menggosok gigi anak yakni dengan cara selalu mengingatkan anak, menemani dan mengajari anak menggosok gigi dengan baik dan benar.
Persalinan merupakan kejadian fisiologi yang normal. Perasaan positif dan partisipasi aktif ibu bersalin membuat kondisi kejiwaan ibu lebih tenang yang sangat mendukung kelancaran persalinan dan tidak menyebabkan stres pada bayi. Hal ini dapat difasilitasi melalui dukungan dari suami dan bidan yang membantu saat proses persalinan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan senam hamil, dukungan suami dan dukungan bidan dengan tingkat kecemasan ibu menjelang persalinan di BPS Ny. Hj. M. Indriyati Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel dependent dengan variabel independent (Notoatmojo, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang berada di BPS Ny. Hj. M. Indriyati Malang dengan sampel sejumlah 36 orang diambil dengan teknik sampel purposive sampling.Instrumen dengan menggunakan kuesioner,lembar observasi, dan lembar wawancara.Analisa data menggunakan persamaan regresi linier berganda.Untuk menguji pengaruh variabel bebas dan terikat secara bersama-sama digunakan pendekatan analisis ragam regresi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara senam hamil dengan tingkat kecemasan ; ada hubungan dukungan suami dengan tingkat kecemasan, ada hubungan dukungan bidan dengan tingkat kecemasan; variabel dukungan suami mempunyai hubungan yang lebih dominan terhadap tingkat kecemasan Direkomendasikan untuk peneliti selanjutnya melakukan penelitian tentang cara mengatasi tingkat kecemasan menghadapi persalinan pada ibu hamil, dengan tehnik relaksasi.
Ruptur perineum dapat terjadi hampir pada semua persalinan pertama, dan tidak jarang pada persalinan berikutnya. Ruptur perineum pada dasarnya tidak membahayakan namun jika tidak mendapatkan penanganan dan perawatan yang tepat dan baik akan menyebabkan perdarahan yang hebat, infeksi, sehingga dapat menyebabkan kematian ibu post partum.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan posisi setengah duduk dan cara menunjang kerampang dengan kejadian ruptur perineum derajat I dan II di BPS Bidan Maria.Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin pada bulan April-Mei di BPS Bidan Maria Kelurahan Madyopuro Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang sebanyak 20 orang. Sampel sejumlah 20 orang diambil dengan sampel jenuh yakni 10 ibu bersalin dengan posisisi setengah duduk dan 10 ibu bersalin yang dilakukan menunjang kerampang dan mengalami rupture perineum derajat I dan II pada bulan April-Mei tahun 2016. Variabel independent dalam penelitian ini adalah posisi setengah duduk (X1) dan cara menunjang kerampang (X2), sedangkan variabel dependent adalah kejadian ruptur perineum derajan I dan II (Y). Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner,wawancara, observasi serta dokumentasi. Analisa data dengan regresi linier. Hasil penelitian diketahui ada hubungan signifikan posisi setengah duduk (X1) dan cara menunjang kerampang (X2), terhadap ruptur perineum derajat I dan II (Y) serta penatalaksanaan menunjang kerampang yang benar dapat mengurangi robekan perineum derajat I dan II
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pelaksanaan program pengendalian DBD. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah pemantauan jentik rutin oleh jumantik dari kalangan ibu rumah tangga tidak berjalan optimal, sehingga dilakukan intervensi kepada remaja sebagai jumantik secara kelompok dan bergilir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pembentukan MAWAS DBD (Remaja Waspada DBD) terhadap Angka Bebas Jentik di RW II Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Jenis penelitian ini adalah pre-experimental design dengan menggunakan rancangan one group pretest-posttest design. Cara pengambilan sampel adalah stratified random sampling. Jumlah sampel sebanyak 117 remaja. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji t berpasangan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembentukan MAWAS DBD di RW II Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Masyarakat yang bertugas untuk PJR harus berjalan optimal agar warga termotivasi untuk melakukan PSN. Dinas kesehatan dan puskesmas juga diharapkan membuat kebijakan program pengendalian DBD yang melibatkan peran serta masyarakat.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Jumlah DM tipe II hampir 85-95% dari jumlah total kasus yang dilaporkan pada penderita DM. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas umbi porang (Amorphophallus oncophillus) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita DM. Penelitian ini menggunakan desain penelitian murni (rancang acak sederhana) dengan the pretest and posttest control group design dimana pengambilan data dilakukan di awal dan di akhir atau setelah pemberian perlakuan baik pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan. Kadar glukosa darah diukur secara kuantitatif menggunakan alat cek gula darah (Glucometer) merk Easy Touch sebelum dan sesudah penderita DM mengkonsumsi umbi porang (Amorphophallus oncophillus) dalam bentuk olahan mie Shirataki dalam waktu 2 (dua) minggu.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita DM yang ada di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Jabung Kabupaten Malang sejumlah 47 orang. Subyek penelitian sejumlah 32 orang yang memenuhi kriteria inklusi yang terdiri dari 16 orang kelompok kontrol dan 16 orang kelompok perlakuan. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji T berpasangan dan didapatkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan kadar glukosa darah pada hari ke-1 dan hari ke-7 dengan nilai p=0.248 dimana p>0.05, dan tidak ada perbedaan kadar glukosa darah dan pada hari ke-1 dan hari ke-14 dengan nilai p=0.644 dimana p>0.05. Sedangkan pada kelompok perlakuan ada perbedaan kadar glukosa darah pada hari ke-1 dan hari ke-7 dengan nilai p=0.001 dimana p<0.05, dan ada perbedaan kadar glukosa darah pada hari ke-1 dan hari ke-14 dengan nilai p=0.000 dimana p<0.05. Saran bagi penderita DM diharapkan untuk menerapkan pola diit DM dalam pengaturan nutrisinya dengan pemanfaatan umbi porang dalam bentuk olahan mie sebagai pangan fungsional pengganti beras.
Kekurangan zat besi pada wanita hamil dapat menyebabkan gangguan ataupun hambatan pada pertumbuhan janin, baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan. Perdarahan yang banyak menyebabkan kematian ibu.Penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara tingkat anemia dengan kejadian abortus pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Ngadi kecamatan Mojo Kabupaten Kediri.Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik korelasional dengan pendekatan crossectional dengan menggunakan data sekunder. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu hamil di Puskesmas Ngadi kecamatan Mojo Kabupaten Kediri dengan sampel sejumlah 77 orang, diperoleh dengan simple random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar pengumpul data. Analisa data menggunakan rank spearman.Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan tingkat anemia sebagian besar mengalami anemia yaitu 49 orang (63,6%) dan berdasarkan kejadian abortus sebagian besar mengalami abortus yaitu 42 orang (54,5%). Analisis bivariat menggunakan uji spearman rank didapatkan hasil nilai ρ value = 0,000 <α = 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima maka ada hubungan antara tingkat anemia dengan kejadian abortus, dengan nilai coefficient correlation sebesar r=0,812.Diharapkan ibu hamil yang pernah mengalami abortus lebih menjaga kehamilannya dengan menghindari faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya abortus yaitu dengan teratur berkunjung melakukan pemeriksaan kehamilannnya sehingga dapat dimonitor kesehatannnya. Selain itu juga para ibu hamil dapat meningkatkan kualitas hidupnya dengan makan dan gizi seimbang terutama konsumsi zat besi agar tidak terjadi anemia yang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya abortus.
Stroke merupakan kehilangan fungsi otak secara tiba-tiba, yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah di otak (stroke hemoragik). Stroke menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematiandi dunia setelah penyakit jantung dan kanker. Stroke perdarahan intraserebral menghasilkan gangguan yang lebih luas, lebih fatal, dan melumpuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mean arterial pressure dengan kejadian mortalitas pada pasien stroke perdarahan intraserebral. Desain penelitian dengan kohort retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien stroke perdarahan intraserebral di RSUD Mardi Waluyo Blitar tahun 2015 yang di diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan CT scan kepala.Sampel sejumlah 73 responden didapatkan melalui simple random sampling. Stroke PIS ditetapkan berdasarkan klinis dan pemeriksaan CT scan, mortalitas diukur berdasarkan data rekam medis lengkap. Analisis data menggunakan spearman rank (Rho) dengan signifikan α = 0,05. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara mean arterial pressure dengan kejadian mortalitas pada pasien stroke perdarahan intraserebral di RSUD Mardi Waluyo Blitar. Direkomendasikan agar petugas kesehatan memonitor secara ruitn tekanan darah pasien stroke perdarahan intraserebral untuk mengurangi terjadinya kematian pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dari tindakan yang tidak aman oleh kecelakaan pada perawat di rumah sakit PW. Desain penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Ukuran sampel dari 99 perawat dengan teknik simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah Chi Square dengan tingkat signifikansi α 0,05. Pengambilan informasi yang diperoleh melalui kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar (54,5%) responden melakukan tindakan tidak aman dan sebagian besar (54,5%) responden pernah mengalami kecelakaan tempat kerja. Kebanyakan jenis (23,2%) dari tindakan tidak aman yang sering dilakukan adalah mengoperasikan peralatan tidak memenuhi standar. Sebagian besar jenis (30,3%) dari kecelakaan kerja yang MDS karena posisi yang salah saat bekerja. Hal ini disebabkan sikap perawat yang tidak disiplin dan tidak bekerja sesuai SOP yang berlaku di RSPW tersebut. Hasil tes data tindakan tidak aman dengan kecelakaan kerja dengan p=0.231> 0,05. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tindakan tidak aman dengan kecelakaan kerja pada perawat di RSPW. RSPW diharapkan untuk menerapkan K3RS sesuai dengan KEPMENKES RI, membuat SOP pada perilaku kerja yang aman dan melakukan pelatihan K3.
Jajanan adalah salah satu hal yang berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan nutrisi anak usia sekolah setiap harinya. Dalam kondisi ini, jajanan memenuhi kebutuhan energi sebesar 36%, 29% protein dan 52% zat besi (Kusmandayu & Muniroh, 2012). Pemilihan jajan anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam diri anak sekolah, pengaruh keluarga, teman ataupun lingkungan sekitar. Peninjauan dari segi kesehatan, makanan jajanan anak baik disekolah maupun dirumah rata-rata tidak bersih dan kurang terjamin kandungan gizinya. Bahan-bahan makanan atau jajanan yang sudah tercemar dapat terakumulasi pada tubuh anak dan bersifat karsinogenik dalam jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pengaruh teman terhadap pemilihan jajanan anak sekolah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 103 responden yang diperoleh dengan teknik simple random sampling dan diseleksi secara proportional. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pola asuh dan pengaruh teman dengan pemilihan jajanan anak (p value < α). Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan tentang gizi anak sekolah terutama jajanan sangat penting untuk diberikan baik kepada anak sekolah itu sendiri, keluarga, tenaga kesehatan, pihak sekolah serta penjual makanan jajanan sekitar sekolah. Upaya tersebut dapat diberikan melalui optimalisasi kerja sama dan pemberdayaan kepada semua pihak yang terkait dengan kesehatan anak sekolah.
Stroke adalah gangguan fungsional otak akut fokal maupun global akibat terhambatnya aliran darah ke otak karena perdarahan ataupun sumbatan, dengan gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang dapat sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, atau kematian (Junaidi, 2011). Dengan dampak yang ditimbulkan dari penyakit stroke pada pasien, akan menimbulkan dampak psikologis pada keluarga pasien, salah satunya keluarga akan mengalami kecemasan.Untuk menghadapi keadaan stres tersebut keluarga harus beradaptasi dengan stresor. Respon adaptif psikologis dari stresor tersebut disebut sebagai mekanisme koping (Videbeck, 2008). Desain yang digunakan dalam penelitian ini cross sectional.Sampel dalam penelitian ini adalah salah satu keluarga pasien stroke yang berada di ruang rawat inap dewasa Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang sejumlah 26 responden.Uji korelasi spearman ini dilakukan untuk mengetahui hubunganMekanisme Koping Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Stroke.Hasil uji Spearman data mekanisme koping keluarga diperoleh koefisien korelasi -0,529 dengan p value 0,005< 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan (bermakna) antara mekanisme koping keluarga dengan tingkat kecemasan keluarga pasien diruang rawat inap dewasa Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.
Nyeri sendi adalah suatu akibat yang diberikan tubuh karena pengapuran atau akibat penyakit lain. Pada umumnya nyeri sendi dialami oleh seorang lansia. Intensitas nyeri sendi adalah tingkat keparahan nyeri pada sendi yang dirasakan oleh setiap individu. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh fakta bahwa kegiatan olahraga mempengaruhi intensitas nyeri pada Lansia di Posyandu Permadi Kecamatan Lowokwaru Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survey. Populasinya yaitu seluruh lansia yang berusia 60 tahun ke atas yang mengunjungi Posyandu Lansia Permadi RT 02 Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru Malang, berjumlah 165 lansia. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 33 lansia. Kegiatan olahraga yang dilakukan lansia seperti senam lansia, lari pagi dan aktivitas ringan seperti mencuci piring serta memasak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara. Data kemudian dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dengan tingkat signifikan ≤ 0,05. Responden yang tidak pernah olahraga mengakibatkan intensitas nyeri sendi berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 14 responden (43%), sebanyak 6 responden (18%) jarang melakukan olahraga dengan intensitas nyeri sendi berada pada kategori sedang, dan sebanyak 2 responden (6,1%) sering olahraga dengan intensitas nyeri sendi pada kategori ringan. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa olahraga memiliki kontribusi terhadap intensitas nyeri sendi pada lansia. Lansia yang melakukan olahraga teratur bermanfaat memperbaiki kondisi kekuatan dan kelenturan sendi serta memperkecil resiko terjadinya kerusakan sendi akibat radang sendi.
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan individu. Adanya dukungan keluarga yang positif, juga akan membantu individu dengan mudah menghadapi setiap problem yang ada, termasuk mekanisme koping. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme koping lansia di wilayah RT 04 RW 01 Guyangan Tlogomas Malang.Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif model cross sectional study, dengan populasi seluruh lansia dan keluarga lansia berjumlah 60 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara simpel random sampling berjumlah 52 keluarga dan lansia serta teknik analisa data spearman rank.Hasil didapatkan sebagian besar 29 (56%) keluarga dapat melaksanakan pemeliharaan terhadap lansia secara baik, sebagian besar 38 (73%) lansia dapat melakukan mekanisme koping secara adaptif dan terdapat hubungan yang signifikan antara tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan dengan mekanisme koping Lansia. Saran perlu dikaji dengan menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi skor tugas keluarga dengan mekanisme koping