
Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepuasan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau terhadap sistem digitalisasi akademik melalui Portal Satu UNRI. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan dukungan data wawancara untuk menjelaskan kendala yang dirasakan pengguna. Populasi penelitian berjumlah 6.403 mahasiswa FKIP Universitas Riau, dengan sampel sebanyak 100 mahasiswa angkatan 2021–2025. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert lima tingkat yang terdiri atas 26 butir pernyataan. Validitas instrumen diuji menggunakan korelasi Product Moment Pearson, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan Cronbach’s Alpha. Seluruh butir dinyatakan valid dengan r tabel 0,169 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,962 sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan keseluruhan sebesar 64,33% dengan kategori cukup puas. Indikator tertinggi adalah tampilan yang mudah dan familiar serta informasi yang beragam, masing-masing sebesar 68,93%. Sementara itu, indikator terendah adalah kemudahan akses ke situs atau website sebesar 53,00%. Kecepatan memperoleh informasi sebesar 58,53% dan kecepatan tampilan antarhalaman sebesar 57,73%. Temuan menunjukkan bahwa Portal Satu UNRI cukup mendukung kebutuhan akademik mahasiswa, tetapi aspek aksesibilitas dan respons sistem masih perlu ditingkatkan melalui penguatan infrastruktur, pengelolaan data, dukungan pengguna, dan evaluasi sistem secara berkala.
The surviving early twelfth-century manuscripts made at and for Winchcombe abbey in Gloucestershire have long been known as a distinguished group. Neil Ker in particular gave them much attention, but they have never been described as a group, nor have their distinctive palaeographical features been isolated. The purpose of this article is to list all of the known manuscripts and to describe their distinctive features. It will be seen that no single book exhibits all of the features, but that some of the features are found in each. It is hoped that this procedure will enable the identification of more Winchcombe manuscripts of the same period.
A copy of Anthony Munday’s Palmerin of England in two separate volumes is preserved in the Old Library of Christ’s College, Cambridge, with the shelfmark Rouse 17.3-4, and is identified in the online catalogue as belonging to the 1639 edition. The first volume, however, lacks preliminary leaves and contains typographical and bibliographical evidence suggesting that it is from a different edition. This article shows that the first volume in the Christ’s College copy actually belongs to an unrecorded edition of this Iberian book of chivalry printed before 1596. The decorative initials used throughout this volume are associated with the printer John Charlewood, who obtained a licence to print the romance in February 1581. It is argued that in 1581 Charlewood printed the edition to which the first volume in Christ’s College belongs and that this copy represents the only extant witness of the editio princeps of Munday’s Palmerin of England .
While scholars have mined English printed books of hours for decades as sources for important research, a small proportion remain almost without study. Neither manuscript nor standard print, the present article examines books of hours that were printed on parchment and decorated for the English market. This study uncovers a small but persistent early Tudor parchment-printing industry that furnishes evidence for two arguments. First, Henry VII’s collection of Parisian publisher Antoine Vérard’s illuminated, printed-parchment books encouraged importation of these rarities, and also spurred Wynkyn de Worde’s successful entry into parchment-printing. Secondly, examination of the decoration of England’s printed-parchment books of hours shows that the English customer base may have been encouraged by their king’s interest, but they did not fully adopt his French aesthetic taste. Instead, English printed-parchment buyers preferred a different, characteristic decoration pattern that derived from a longstanding English tradition of tinted pen-drawing.
James Campbell’s A Treatise of Modern Faulconry appeared in 1773, accompanied by an anonymous Preface and a long, anonymous Introduction. The Preface ignores the Treatise and offers a burlesque of the first volume of Lord Monboddo’s The Origin and Progress of Language ; the Introduction offers fantastic tales of falconry that scarcely resemble the actual practice. This essay argues that the Preface was written by Alexander Gillies, a Presbyterian minister, and the Introduction by William Smellie, the printer and natural historian. However, authorial attribution is but one portion of the story. It is shown that both men had some antipathy to falconry, that Gillies held deep reasons for challenging the thought of Monboddo, and that Smellie maintained long-standing concerns about the treatment of animals. In this way, these paratexts also enter eighteenth-century debates on the status of the human and the animal.
This article examines the evidence of surviving copies of William Caxton’s [1483] edition of John Gower’s Confessio amantis . It suggests the difficulties in earlier attempts to compile such a record and provides a more detailed and extensive record than hitherto of both copies and fragments.
Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Komunitas Malang Book Party dalam membangun karakter gemar membaca masyarakat melalui perspektif Teori AGIL Talcott Parsons serta Library and Information Science (LIS), khususnya dalam kaitannya dengan kemitraan antara komunitas literasi dan perpustakaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komunitas Malang Book Party berperan membangun karakter gemar membaca melalui penyelenggaraan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kolaborasi literasi yang bersifat partisipatif. Analisis AGIL menunjukkan bahwa komunitas menjalankan fungsi adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan nilai secara terpadu dalam mendukung keberlanjutan gerakan literasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa kemitraan melalui program Pusreng (Perpustakaan Bareng) bersama Perpustakaan Malang Creative Center dan Perpustakaan Bank Indonesia Malang memperlihatkan hubungan yang saling melengkapi antara komunitas dan perpustakaan dalam memperluas akses informasi, meningkatkan pemanfaatan layanan perpustakaan, serta memperkuat budaya membaca masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa komunitas literasi dapat diposisikan sebagai mitra strategis perpustakaan dalam membangun ekosistem literasi berbasis masyarakat melalui pendekatan community engagement.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan pendidikan tinggi menimbulkan berbagai tantangan etika yang membutuhkan perhatian serius. Artikel ini bertujuan untuk mengembangkan model konseptual penggunaan etis AI di institusi pendidikan tinggi melalui pendekatan studi literatur konseptual. Analisis dilakukan pada berbagai artikel ilmiah terindeks dan dokumen kebijakan internasional yang relevan dengan topik literasi digital, etika teknologi, dan peran institusi dalam tata kelola AI. Hasil penelitian mengidentifikasi empat elemen utama yang membentuk kerangka etika penggunaan AI: (1) literasi digital etis yang mencakup kompetensi kognitif, reflektif, dan etis; (2) kontribusi strategis perpustakaan dalam mendidik pengguna, merumuskan kebijakan, dan mengawasi penerapan AI yang bertanggung jawab; (3) perlunya kebijakan kelembagaan adaptif dan berbasis nilai; dan (4) pentingnya kolaborasi multi-pemangku kepentingan dalam pengembangan pedoman dan pengawasan integrasi AI. Studi ini berkontribusi pada pengembangan tata kelola AI yang inklusif dan bertanggung jawab di sektor pendidikan, serta merekomendasikan strategi implementasi yang dapat diadopsi oleh perguruan tinggi di Indonesia.
This note concerns a copy of Erasmus’ Enarratio in Psalmum XXXIII at the British Library. While this book has long been associated with the library of Thomas Cranmer, archbishop of Canterbury, an analysis of the handwritten marginalia in this volume reveals it to have also passed through the hands of Cranmer’s king, Henry VIII. These marginalia open a window on to Henry’s devotional reading practices and his efforts to cultivate a piety fit for kings.
This article reattributes to Daniel Defoe one pamphlet and confirms his authorship of three works currently listed as ‘probable’ attributions. More generally, it proposes refinements to authorship attribution methods with reference to Defoe’s widely disputed canon, a canon recognized as a special case which has implications for how the assignment of authorship of anonymous topical material from the period more generally. It contends that impressionistic evaluation should be discounted and that close parallels with securely ascribed works, sometimes amounting to self-borrowing, should be given greater evidentiary weight. The article reappraises the evidence for Defoe’s authorship of a pamphlet, The Justice and Necessity of a War with Holland (1712), and a book, The Present State of the Parties in Great Britain (1712), proving Defoe’s authorship of both. The article ends with a summary and assessment of changes to the Defoe canon since the publication of Furbank and Owens’s Critical Bibliography (1998).
The publication of C.P. Courtney's Bibliographie des & eacute;ditions de Guillaume-Thomas Raynal 1747-1843 (2021) marked a new stage in the bibliographical study of this work. This article deals with the counterfeit edition numbered H-1773:08 in the Bibliographie, which was published with the address 'Amsterdam' in 1773 and has six volumes. The printing is found to have been a collaboration between the bookseller-printer Jean-Edme Dufour (1728-1789), established in Maastricht, and his colleague Cl & eacute;ment Plomteux, in Li & egrave;ge. The discussion focuses on elements concerning the engraved and compound tailpieces and headpieces, the drop caps, and the spelling, types of rods, ampersands, fonts and swashes. The respective typographic styles of Dufour and Plomteux are linked to the places where each carried out his activity, and to their careers. Plomteux's output in an ecclesiastical principality like Li & egrave;ge was different from that permitted to Dufour by the more modern Protestant regime in Maastricht.
This essay identifies the author of the florid inscription ‘Will and Walke aright. Will: Walker’, in new detail, analyzes the motto, and reconstructs William Walker’s small but unquestionably significant personal library.
Graham Pollard spent his research career collecting evidence of the medieval book-trade in Oxford. While he never managed to reduce to publishable form his elaborate notes on local bookmen, most of his general studies, largely material from his Lyell Lectures, did see print. This essay reproduces the exception, an important and intensely detailed presentation of the loan-chest system in Oxford.
John Owen (1564-1622) was the most widely circulated Anglo-Latin poet of the seventeenth century. Between 1606 and 1612, he published ten books of Latin epigrams. From 1615, a spurious eleventh book, in fact by Michele Verino, was often added. From 1628 an appendix or twelfth book attributed to Owen began to appear. Although this twelfth book has largely been ignored by scholars and excluded from authoritative editions, this article uses surviving manuscripts to demonstrate that twenty-seven of the epigrams are certainly by Owen. This demonstrates the importance of considering manuscript as well as print evidence when attributing authorship of early-modern Latin verse. Owen has usually been treated only as a poet of print. This article is the first full consideration of the role of Owen's surviving presentation manuscripts, and as such, casts his literary career in a new light.
Pembelajaran di perguruan tinggi menuntut mahasiswa tidak hanya menguasai konsep teoretis, tetapi juga memiliki kompetensi praktis yang relevan dengan dunia kerja. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dinilai mampu menjawab tuntutan tersebut adalah Project Based Learning (PJBL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan Pameran Mini Library Festival Tahun 2025 serta pengalaman mahasiswa dalam kegiatan tersebut sebagai implementasi PJBL pada matakuliah Manajemen Lembaga Informasi Non Perpustakaan di Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto. Pada konteks Pendidikan Perpustakaan dan Sains Informasi, masih belum banyak penelitian yang membahas tentang model pameran sebagai luaran matakuliah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan lima mahasiswa sebagai informan yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pameran Mini Library Festival diselenggarakan melalui kerja kelompok dengan menampilkan informasi mengenai potensi daerah, meliputi makanan khas, kebudayaan lokal, dan wisata daerah. Kegiatan ini mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan kemas ulang informasi, kreativitas, serta pemahaman peran lembaga informasi non perpustakaan dalam diseminasi informasi. Dari sisi pengalaman mahasiswa, pameran memberikan pembelajaran yang aplikatif dan bermakna, meskipun masih dihadapkan pada kendala tenaga dan biaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pameran mini berbasis PJBL efektif sebagai sarana pembelajaran kontekstual dalam pendidikan perpustakaan dan sains informasi.
Kemajuan teknologi telah mengubah signifikan dunia pendidikan di Indonesia, termasuk dalam praktik pembelajaran dan pengelolaan sumber informasi, seperti perpustakaan. Salah satu bukti dari kemajuan tersebut dengan munculnya kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI). Artificial Intelligence (AI) tidak hanya berfungsi sebagai inovasi teknologi, tetapi juga berperan dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, personalisasi materi ajar, kualitas asesmen, literasi digital, serta penguatan layanan informasi dan sumber belajar melalui perpustakaan. Meskipun memiliki potensi besar, pemanfaatan AI dalam pendidikan dan perpustakaan masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur teknologi, rendahnya literasi digital dan literasi AI, serta isu etika dan privasi data. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam proses pembelajaran dan layanan perpustakaan di Indonesia berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, serta mengidentifikasi model dan strategi pembelajaran yang didukung oleh AI. Penelitian ini merupakan studi literatur terhadap artikel-artikel ilmiah yang dapat diakses secara terbuka terkait tentang pemanfaatan AI dalam pembelajaran dan perpustakaan. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen dari artikel jurnal yang relevan, kemudian dianalisis berdasarkan fokus pemanfaatan AI, manfaat, serta tantangan implementasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI telah dimanfaatkan dalam berbagai aspek pembelajaran dan layanan perpustakaan, seperti asesmen pembelajaran, pembelajaran berdiferensiasi, learning analytics, otomasi layanan informasi, layanan referensi virtual, serta temu kembali dan penyebaran informasi digital. Namun demikian, implementasi AI di Indonesia masih bersifat terbatas dan belum terintegrasi secara holistik antara pembelajaran dan perpustakaan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan pendidikan, pengembangan kompetensi pendidik dan pustakawan, serta pemerataan akses teknologi agar AI dapat menjadi komponen strategis dalam membangun pendidikan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.
Kemampuan literasi membaca siswa pada jenjang sekolah menengah pertama masih menunjukkan capaian yang belum optimal, sehingga memerlukan intervensi yang terstruktur melalui lingkungan sekolah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) melalui kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan kegiatan literasi 15 menit, mengkaji efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya di SMP Negeri 2 Salimpaung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru, dan siswa. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta diuji menggunakan triangulasi sumber dan waktu untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan literasi 15 menit dilaksanakan secara rutin dua kali dalam seminggu sebelum pembelajaran dimulai, yaitu pada hari Selasa dan Rabu, dengan pendampingan guru dalam suasana yang tertib dan kondusif. Siswa diberikan kebebasan memilih bahan bacaan nonpelajaran sesuai minat, serta melakukan kegiatan lanjutan seperti merangkum dan membuat karya sederhana. Program ini menunjukkan efektivitas yang cukup baik dalam meningkatkan minat baca, membentuk kebiasaan membaca, serta meningkatkan kemampuan memahami teks dan penguasaan kosakata siswa. Selain itu, kegiatan literasi juga berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi dan kesiapan belajar. Keberhasilan program didukung oleh komitmen guru, kebijakan sekolah, dan ketersediaan fasilitas literasi, sedangkan kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan siswa, serta distraksi penggunaan gawai. Oleh karena itu, diperlukan penguatan strategi pelaksanaan dan inovasi program untuk meningkatkan efektivitas literasi secara berkelanjutan.