Eco-enzyme merupakan salah satu teknologi yang menjanjikan dimasa mendatang dalam pengolahan sampah organik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi kelompok masyarakat dalam mengelola limbah organik yang dihasilkan rumah tangga menjadi produk pupuk cair yang bernilai ekonomis. Metode pelaksanaan dilakukan secara tatap muka dengan menyampaikan materi dan brosur serta demonstrasi pembuatan eco-enzyme secara langsung. Bahan yang digunakan yaitu limbah rumah tangga seperti sayur dan buah yang tidak layak konsumsi, gulan/molase dan air dengan perbandingan 3:1:6. Hasil dari kegiatan ini yaitu meningkatnya pemahaman peserta dalam pengelolaan limbah organik yang berasal dari rumah tangga. Peserta menunjukkan respons, penerimaan dan partisipasi yang baik selama kegiatan berlangsung. Peserta mampu memproduksi sendiri eco-enzyme sebagai disinfektan alami yang dapat digunakan untuk rumah tangga, pertanian ataupun peternakan
Kecamatan Cengal Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan wilayah pesisir yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar karena dikelilingi oleh perairan umum daratan dan pesisir laut. Akses lokasi yang sulit menyebabkan distribusi bahan baku perikanan ke luar wilayah menjadi kendala masyarakat mengingat masa simpan yang terbatas. Penggunaan bahan pengawet pada produk perikanan seperti formalin sering ditemukan dipasaran yang sangat berbahaya apabila dikonsumsi manusia secara terus menerus dalam jumlah sedikit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat melalui peran siswa serta guru Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Sungai Lumpur tentang bahaya mengkonsumsi produk hasil perikanan yang mengandung bahan pengawet berbahaya seperti boraks dan formalin. Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan metode pengujian secara langsung beberapa produk hasil perikanan yang melibatkan para siswa dan guru. Pengujian kandungan formalin dalam produk hasil perikanan secara sederhana dengan menggunakan tes kit formalin. Sampel uji dapat diamati secara langsung melalui perubahan warna hasil reaksi kimiawi sampel uji. Hasil kegiatan ini secara langsung menambah pengetahuan siswa tentang bahaya mengkonsumsi produk hasil perikanan yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, siswa dapat membedakan secara fisik produk hasil perikanan yang menggunakan bahan berbahaya serta dapat melakukan pengujian secara langsung kandungan berbahaya dalam produk hasil perikanan. Melalui kegiatan pengabdian ini masyarakat dapat mengurangi penggunaan bahan berbahaya sebagai pengawet makanan serta terhindar dari mengkonsumsi berbagai produk olahan hasil perikanan yang kurang sehat.
Keberadaan ikan putak di perairan semakin langka, akibat dari penangkapan ikan putak yang berlebihan di alam, sedangkan kegiatan domestikasi ikan putak belum banyak dilakukan, salah satu kendala dalam domestikasi ikan putak adalah adanya hama penyakit yang menyerang ikan putak. Upaya dalam pengelolaan hama penyakit ikan putak adalah ketersediaan informasi tentang infeksi ektoparasit yang menyerang ikan putak sehingga dapat ditemukan cara atau metode untuk mengatasinya. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis ektoparasit, menganalisis indeks prevalensi dan tingkat serangan ektoparasit pada ikan putak sebagai data awal bagi upaya pengelelolaan dan domestikasi ikan putak di Sumatera Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif, menggunakan metode purposive sampling dengan 3 stasiun pengamatan, yaitu stasiun 1 penampungan ikan putak di Desa Epil Kecamatan Lais Kabupaten Musi Banyuasin, stasiun 2 penampungan ikan putak di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan stasiun 3 penampungan ikan putak di Sianjur 3 Kota Palembang. Hasil penelitian diperoleh 2 jenis ektoparasit yaitu Dactylogyrus sp dan Trichodina sp yang ditemukan pada organ sirip, insang dan lendir. Indeks prevalensi tertinggi ditemukan pada stasiun 1 yaitu Dactylogyrus sp (insang 43,33%, lendir 10%), Trichodina sp (insang 10%, lendir 10%) dan terendah pada stasiun 3 dengan tidak ditemukan ektoparasit. Tingkat serangan ektoparasit tertinggi pada stasiun 1 yaitu Dactylogyrus sp (insang 5,61 ind/ekor, lendir 8 ind/ekor), Trichodina sp (insang 6 ind/ekor, lendir 11 ind/ekor).
Pengelolaan kegiatan budidaya ikan nila merah secara intensif yang dilakukan oleh pembudidaya dengan padat tebar yang tinggi dan pemberian pakan yang berlebih memicu penurunan kualitas air. Penggunaan tumbuhan yang memiliki potensi untuk pengobatan adalah solusinya. Salah satunya adalah daun kelor (Moringa oliefera). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efektifitas ekstrak daun kelor (Moringa oliefera) terhadap mortalitas benih ikan nila merah (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 5 taraf perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi pada perlakuan P4 (5,5 gr/L) sebesar 85% dan terendah pada perlakuan P0 (kontrol) sebesar 0%, sedangkan hasil analisis kualitas air menunjang kehidupan ikan.
Rumput Laut (Eucheuma spinosum) merupakan alga golongan coklat yang memiliki nilai ekonomis dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat pesisir di Indonesia. Jenis ini banyak dibudidayakan karena mudah dan murah serta prospek pasar yang cukup baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan harian dan pertumbuhan mutlak rumput laut dengan jarak tanam berbeda menggunakan metode long line berbingkai. Penelitian dilakukan selama 50 hari, menggunakan 3 perlakuan yaitu jarak tanam 20cm, 40cm dan 60cm serta pengulangan sebanyak 3 kali, dengan berat awal rumput laut berkisar 50 gram. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini yaitu pertumbuhan harian (DGR), pertumbuhan mutlak (AGR) dan parameter kualitas air. Hasil yang diperoleh untuk pertumbuhan harian dan pertumbuhan mutlak rumput laut tertinggi adalah perlakuan P3 dengan jarak tanam 60 Cm sebesar 6,36%/hari dan seberat 1053,9gr, dan kualitas air pada lokasi penelitian masih terbilang baik untuk pertumbuhan rumput laut (Eucheuma spinosum).
This study aimed to evaluate the effect of dietary curcuma infusion supplementation on growth performance and survival rate in giant gouramy. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications. The treatments tested were giving different doses of curcuma infusion, 0.2 g (P1), 0.4 g (P2), 0.6 g (P3), 0.8 g (P4). The experimental fish used were giant gourami with an average body weight of 0.28 ± 0.01 g which were reared for 30 days in 40x30x25 cm3 sized plastic box containing 20 L of water. Feed was given at satiation method twice a day, at 08.00 and 16.00 pm. The research parameters observed include Weight and Length Growth Rate, Survival Rate, and water quality. The results showed that the dietary curcuma infusion supplementation was able to increase the growth performance and survival rate of giant gouramy. Curcuma infusion dose of 0.8 g resulted in the best growth performance and survival which was not significantly different between treatments. Water quality parameters during maintenance are still in optimal conditions for fish growth.
Fish disease is a serious problem faced in the aquaculture business. One of the diseases that attack cultured fish is saprolegniasis caused by the fungus Saprolegnia sp. The use of chemical drugs tends to be environmentally unfriendly and has other negative effects on these fish and humans. For this reason, a safer alternative treatment is needed to control fish disease caused by the fungus Saprolegnia sp. One of the plants that have the potential to treat disease caused by the fungus Saprolegnia sp. is basil (Ocimum basilicum L). This research aims to determine the effectiveness of basil extract against the fungus Saprolegnia sp. in vitro. This research was conducted from May to June 2019. The research method used was a completely randomized design (CRD) with 5 treatment levels and 3 replications including 0 ppm (control), 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, and 80 ppm treatments. The test parameter observed was the inhibition zone diameter. In this study, 200 grams of basil extract were produced with 16.67% yield, the conclusion is that basil extract with a concentration of 60 ppm has the largest inhibition zone diameter of 22 mm in inhibiting the growth of the fungus Saprolegnia sp in vitro compared to other ethanol extract concentrations of basil.Keywords: Basil extract, antifungal, saprolegnia sp, in vitro
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan Gurame dengan padat tebar yang berbeda dalam sistem Resirkulasi. Perlakuan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu padat tebar 10 ekor , 15 ekor dan 20 ekor serta 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa peningkatan padat penebaran pada sistem resirkulasi dari 10 ekorhingga 20 ekor memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap pertumbuhan panjang dan bobot harian, pertumbuhan panjang dan bobot mutlak Ikan Gurami. Namun penambahan padat tebar tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup Ikan Gurami hasil penelitian menunjukkan, bahwa peningkatan padat penebaran dari 10 hingga 20 ekor memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadapa pertumbuhan panjang dan berat mutlak 3,93(cm), 3,34(cm), 3,09(cm) dan 8,44(g), 7,54(g), 6,78(g), efisiensi pakan 59,89(%), 53,41(%), 38,42(%) namun tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup 86,67(%), 82,22(%), 78,33(%).
Ikan Botia (Chromobotia macracanthus) merupakan salah satu ikan hias air tawar asli dari provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan yang paling banyak di ekspor keluar negeri. Serangan penyakit ikan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan usaha sebagai ekspotir ikan hias Botia.Salah satu jenis penyakit yang menyerang yaitu parasit. Parasit dapat didefinisikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang disebut inang dan mendapat keuntungan dari inang yang ditempatinya hidup, sedangkan inang menderita kerugian. Penelitian tentang indeks prevalensi dan intensitas ektoparasit pada ikan Botia di Sumatera Selatan, telah dilaksanakan pada bulan Maret - April 2018. Bertempat di penampungan ikan hias eksportir di provinsi Sumatera Selatan, sedangkan untuk pengamatan ektoparasit dilakukan di Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Palembang. Tujuan penelitian mengidentifikasijenis ektoparasit, menentukan nilai prevalensi dan nilai intensitas yang menyerang ikan Botia siap ekspor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif. Untuk penentuan pengambilan sampel dilakukan secara purposive random sampling.sebanyak 3 stasiun yaituKelurahan 18 Ilir, Kelurahan Sukabangun dan Kelurahan Sukajadi Banyuasin. Hasil pengamatan selama penelitian mengenai indeks prevalensi dan intensitas ektoparasit pada ikan Botia di Sumatera Selatan yang siap untuk di ekspor hanya ditemukan satu jenis ektoparasit yaitu Trichodina sp.Nilai prevalensi parasit pada ikan Botia di Stasiun I 18 Ilir adalah 100 %, staSiun II Sukabangun adalah 100 % dan Stasiun III Sukajadi adalah 100 %. Sedangkan nilai intensitas serangan parasit pada masing-masing lokasi adalah stasiun I 18 Ilir 152,13 ind/ekor, stasiun I Sukabangun 33,1 ind/ekor dan stasiun III Sukajadi112 ind/ekor.Kata Kunci: Ektoparasit, Ikan Botia, Intensitas, Prevalensi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan, komposisi ukuran dan pola pertumbuhan udang galah (Macrobrachium resenbergii) pada habitat perairan Sungai Ogan yang terletak di Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi dengan metode survei. Data primer utama dalam penelitian ini adalah ukuran panjang total dan bobot udang galah. Hasil penelitian didapatkan jumlah total udang galah sebanyak 127 ekor yang didominasi oleh udang galah betina sebanyak 83 ekor dan 44 ekor jantan. Ukuran sebaran bobot dan panjang udang galah betina terdapat 8 kelas dengan nilai tertinggi yaitu 53 gram dan 18,2 cm. Sedangkan sebaran bobot dan panjang udang galah jantan terdapat 7 kelas dengan nilai tertinggi 297 gram dan 27 cm. Hubungang panjang dan bobot menunjukkan bahwa pola pertumbuhan udang galah pada habitat Sungai Ogan yaitu bersifat alometri negatif (b <3) yang artinya pertumbuhan panjang lebih cepat dari pertumbuhan bobot. Secara keseluruhan hasil tangakapan udang galah didominasi oleh udang muda yang seharusnya dapat tumbuh lebih besar lagi. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian populasi udang galah di perairan Sungai Ogan, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan diperlukan pemahaman pada nelayan sekitar tentang ukuran udang galah layak tangkap.
ABSTRACT As stocking density is known as a stress factor in fish. This study aimed to evaluate the effect of dietary astaxanthin supplementation on growth performance and antioxidant status in giant gourami under normal (100 fish/m3) and high (400 fish/m3) stocking density. Addition of astaxanthin in the feed was done by coating method. The experimental fish used were giant gourami with average body weight of 3.0±0.12 g. Fish were reared for 60 days in 100×50×50 cm3-sized-aquariums containing 150 L of water. Feed was given at satiation method twice a day at 09.00 and 17.00 pm. Results showed that fish reared in high stocking density and fed on the diet supplemented with astaxanthin 100 mg/kg diet produced the best growth performance. Addition of astaxanthin did not affect the antioxidant activity of giant gourami. Keywords: giant gourami, astaxanthin, growth performance, antioxidant status ABSTRAK Padat tebar tinggi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan stres pada ikan budidaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penambahan astaxanthin melalui pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan status antioksidan ikan gurami pada pemeliharaan kepadatan normal (100 ekor/m3) dan kepadatan tinggi (400 ekor/m3). Penambahan astaxanthin pada pakan dilakukan dengan metode pelapisan (coating). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan gurami berukuran bobot rata-rata 3,0±0,12 g. Ikan dipelihara selama 60 hari dalam akuarium berukuran 100×50×50 cm3 berisi air 150 L. Pakan diberikan secara at satiation dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali sehari pada pukul 09.00 dan 17.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang dipelihara pada kepadatan tinggi dan diberi pakan dengan penambahan astaxanthin sebesar 100 mg/kg pakan menghasilkan kinerja pertumbuhan yang optimal. Penambahan astaxanthin sebesar 100 dan 200 mg/kg pakan tidak mempengaruhi status antioksidan pada ikan gurami. Kata kunci: ikan gurami, astaxanthin, pertumbuhan, status antioksidan