Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan strategi rebranding e-commerce Blanja.com melalui televisi dalam meningkatkan Brand Awareness. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif . Dalam penelitian ini digunakan metode studi kasus dimana fokus penelitian ini adalah 3 strategi rebranding e-comerce Blanja.com melalui iklan di televisi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor rebranding yang dilakukan Blanja.com karena adanya perubahan pada strategi perusahaan. Sedangkan tujuan rebranding tersebut ialah untuk meningkatkan brand awareness pada stakeholders. Proses Rebranding yang dilakukan Blanja.com melalui 4 tahapan yaitu, repositioning berdasarkan keaslian produk, redesigning logo dengan menggunakan warna light ruby dengan font FS Hackney serta tampilan website yang banyak menampilkan promo, renaming dengan mengubah tagline “Blanja Tanpa Batas”, dan relaunching yang dilakukan dengan cara internal launching serta eksternal launching dengan bentuk media gathering yang mengundang media dan stakeholders.
Penggunaan media sosial yang semakin intensif di kalangan remaja memberikan dampak positif sekaligus negatif terhadap kesehatan mental. Salah satu fenomena yang muncul akibat penggunaan media sosial secara berlebihan adalah brain rot, yaitu kondisi kelelahan kognitif dan emosional akibat paparan konten digital yang terus-menerus. Generasi Z sebagai kelompok yang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial menjadi kelompok yang rentan mengalami gangguan seperti kecemasan, stres, penurunan konsentrasi, hingga kehilangan motivasi belajar. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan mengonsumsi konten hiburan instan dalam durasi panjang yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis dan keseimbangan emosional remaja. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan edukasi dan meningkatkan literasi digital mengenai fenomena brain rot serta dampaknya terhadap kesehatan mental generasi Z pada siswa MTs Al Falah Jatiasih Bekasi. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, dan pemberian pemahaman mengenai penggunaan media sosial yang sehat dan bijak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bahaya penggunaan media sosial secara berlebihan serta pentingnya mengatur waktu penggunaan media digital untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan aktivitas sehari-hari.
Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui upaya-upaya Scottish National Party (SNP) dalam memperjuangkan referendum Skotlandia terhadap Britania Raya tahun 2014. Metode Penelitian: Kualitatif Deskriptif. Hasil Penelitian: Hubungan Skotlandia dengan Britania Raya sebagai persekutuan dimulai pada tahun 1707 melalui Act of Union 1707. Britania Raya terdiri dari empat bangsa yaitu Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia dan Wales. SNP berdiri pada tahun 1934 sebagai partai dengan aliran nasionalis dan meraih kekuasaan di eksekutif dari tahun 2007 sejak pemerintahan Skotlandia kembali berdiri pada tahun 1998. Penelitian ini dikaji dari sudut pandang konstruktivisme dengan norma insternasional self-determination . SNP bertindak dipengaruhi oleh norma self-determination yang membentuk identitas SNP yaitu nasionalisme. Kemudian identitas itu membentuk kepentingan SNP untuk memisahkan Skotlandia dari Britania Raya. Untuk mencapai kepentingan tersebut SNP melakukan empat upaya yaitu mengajukan proposal perubahan Scotland Act 1998 ke pemerintah Britania Raya, mengajukan proposal penyelenggaraan referendum ke parlemen Skotlandia, framing issues kemerdekaan Skotlandia dan kampanye pemisahan skotlandia dari Britania Raya. Namun, SNP gagal mencapai kepentingannya dengan hasil hanya 44.7% yang mendukung SNP dalam referendum pada tanggal 14 September 2014. Dengan demikian referendum ini bukanlah realitas sosial yang given namun hasil dari konstruksi SNP.
Penelitian ini membahas tentang Pengaruh Experiential Marketing dalam membangun Experiential Value dan Relationship Quality yang berdampak bagi Loyalty. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Experiential Marketing terhadap Expetiential value, Experiential Marketing Terhadap Relationship Quality, Experiential Value terhadap Loyalty, dan Relationship quality terhadap Loyalty. Metode Penelitian menggunakan Metode Survey, jenis penelitian ini yaitu Kuantitatif, dengan Metode Analisis Data Structural Equation Modeling (SEM). Hasil Penelitiannya yaitu Experiential Marketing berpengaruh positif sebesar 0,96 terhadap terbentuknya Experiential Value, Experiential Marketing berpengaruh positif sebesar 0,99 terhadap terbentuknya Relationship Quality, Experiential Value berpengaruh positif sebesar 0,33 terhadap terbentuknya Loyalty, Relationship Quality berpengaruh positif sebesar 0,64 terhadap terbentuknya Loyalty. Kesimpulan Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada Happiness Kitchen and Coffee, Ciganjur-Jakarta untuk dapat meningkatkan Experiential Marketing yang akan mempengaruhi peningkatan Experiential Value dan Relationship Quality sehingga konsumen Loyal dan memberikan penilaian yang positif kepada Happiness Kitchen and Coffee, Ciganjur – Jakarta Tahun 2018
Developing effective vaccines against some diseases remains a global health priority. However, targeting immunity against a specific disease-related antigen requires efficient adjuvant systems that adequately promote vaccination efficacy. Extracellular vesicles have been identified as a potential adjuvant platform technology but are still limited in their reproducibility and safety. Here, we present a synthetic extracellular vesicle mimetic (EVM) platform that enhances antigen immunogenicity by incorporating the large extracellular loop (LEL) of the tetraspanin CD9, a protein abundant on natural extracellular vesicles. Liposomes with defined lipid composition were functionalized with recombinant CD9-LEL and pathogen antigens—KMP-11 from Leishmania and the SARS-CoV-2 Spike (S) protein.BALB/c mice were immunized intraperitoneally with nanovesicles carrying CD9-LEL, the pathogen antigens alone, or both. Antigen-specific IgG responses were measured by ELISA, and vesicle uptake by immune cells was assessed via flow cytometry. CD9-LEL alone did not elicit an immune response, but its co-presentation with antigens significantly enhanced specific anti-pathogen IgG titers. Notably, KMP-11 alone failed to induce detectable antibodies, while nanovesicles carrying both CD9-LEL and KMP-11 triggered strong IgG1 and IgG2b responses. Similarly, nCD9 + S induced higher IgG titers than S alone. CD9-LEL promoted uptake of nanovesicles by peritoneal macrophages, suggesting improved antigen presentation.Combining EVMs with classical adjuvants further modulated the immune profile: alum favored IgG1 (Th2 bias), while CpG ODNs enhanced IgG2a and IgG2b (Th1 bias), crucial for intracellular pathogen clearance. The platform demonstrated safety and adaptability.In conclusion, CD9-LEL-decorated EVMs represent a promising, scalable vaccine strategy capable of boosting antigen immunogenicity and directing immune polarization, offering a versatile tool for combating challenging or emergent infectious diseases.