Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh intimate friendship dan humility terhadap self disclosure pada suku paser usia dewasa awal pengguna media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analisis regresi linear berganda. Sampel penelitian berjumlah 97 suku paser, dan peneliti sampel menggunakan rumus Lemeshow, berusia 18-40 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan 3 jenis skala yaitu Intimate Friendship Scale (IFS), teori relational humility, awalnya berbentuk other report kemudian di adaptasi menjadi self report dapat diisi individu, dan skala psikologi yakni skala self disclosure dikembangkan oleh Devito (1997). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terdapat pengaruh positif intimate friendship dan humility terhadap self disclosure pada dewasa awal suku paser. Berdasarkan interpretasi koefisien korelasi (r hitung), maka ketiga variable intimate friendship (X1) adalah 0,100 bernilai positif, nilai koefisien regresi humility (X2) adalah 0,246 bernilai positif. Terdapat pengaruh humility terhadap self disclosure pada dewasa awal suku Paser. Hasil uji linearitas self disclosure dan humility mendapatkan hasil nilai sig dari F linearity sebesar 1.348 di mana ini berarti nilai p>0,05 maka ada hubungan pengaruh yang linear antara self disclosure dan humility. Variable intimate friendship, humility dan self disclosure mempunyai pengaruh signifikan terhadap suku paser dewasa awal pengguna media sosial instagram. Persamaan hasil regresi linear berganda bernilai positif. Berdasarkan hasil bahwa (F hitung) 11.465 hal ini menujukkan bahwa ada pengaruh signifikan secara simultan antara intimate friendship dan humility terhadap self disclosure.
Toxic relationship merupakan hubungan tidak sehat yang ditandai oleh perilaku merugikan, dominasi, serta ketidaknyamanan yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental individu. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan keduanya saling berhubungan. Jika seseorang mengalami masalah fisik, dia mungkin juga mengalami masalah mental atau psikologis, begitu pula sebaliknya. Kesehatan dan penyakit adalah kondisi biopsikososial yang melekat dalam kehidupan manusia. Individu yang pernah mengalami toxic relationship rata - rata sering terjadi pada di usia dewasa awal, tetapi tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi pada remaja. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengetahui lebih lanjut pengaruh toxic relationship terhadap kesehatan mental pada individu. Penelitian ini berjenis kuantitatif, dengan teknik pengambilan sample menggunakan purpossive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah individu yang pernah mengalami toxic relationship yang berjumlah total 112 orang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa toxic relationship tidak berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental pada individu yang pernah mengalami, berdasarkan hasil uji hipotesis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara help-seeking behavior dan kesehatan mental pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 211 mahasiswa aktif di Kota Samarinda berusia 18–46 tahun yang berasal dari berbagai perguruan tinggi. Sampel penelitian diperoleh menggunakan teknik non-probability sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala help-seeking behavior dan skala kesehatan mental, kemudian dianalisis menggunakan bantuan SPSS 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat help-seeking behavior pada kategori sedang (39%) dan kesehatan mental pada kategori sedang (41%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara help-seeking behavior dan kesehatan mental mahasiswa (p = 0,599 > 0,05). Nilai koefisien determinasi (R² = 0,001) menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel sangat lemah. Temuan ini mengindikasikan bahwa kesehatan mental mahasiswa kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Ketidakjujuran akademik menjadi masalah serius yang cukup sering terjadi bahkan menjadi masalah global hampir di seluruh lembaga pendidikan. Tujuan dari penelitian adalah untuk melihat pengaruh efikasi diri akademik terhadap ketidakjujuran akademik dengan melibatkan prokrastinasi akademik sebagai variabel mediator. Penelitian ini melibatkan 255 responden dengan latar belakang mahasiswa yang berasal dari universitas negeri dan swasta di wilayah Kalimantan Timur. Responden dalam penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik non-probablilty sampling, dengan jenis accidental sampling. Data penelitian dianalisis menggunakan regresi dengan mediasi yang diperkuat dengan sobel test. Hasil analisis menunjukkan bahwa efikasi diri akademik tidak berpengaruh langsung terhadap ketidakjujuran akademik. Namun prokrastinasi akademik terbukti berhasil menjadi mediator yang signifikan dalam pengaruh efikasi diri akademik terhadap ketidakjujuran akademik. Dengan kata lain, efikasi diri akademik dalam penelitian ini tidak menjadi penyebab langsung terjadinya ketidakjujuran akademik di kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki efikasi diri akademik rendah cenderung menunda-nunda tugas, dan akibatnya lebih rentan melakukan kecurangan akademik untuk menutupi kekurangan waktu atau kesiapan diri dalam menghadapi tanggung jawab akademik.
Studi ini menganalisis tren global dalam penelitian terkait manajemen inovasi dan transformasi digital dari tahun 2019 hingga 2023 melalui pendekatan bibliometrik. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi topik-topik yang berkembang pesat, termasuk digital transformation, innovation, digital health, dan information management. Visualisasi data menunjukkan bahwa inovasi digital, terutama dalam konteks industry 4.0 dan digital economy, memainkan peran penting dalam mendorong kemajuan di berbagai sektor. Selain itu, sektor kesehatan digital, dengan penerapan telemedicine dan peningkatan kualitas hidup, semakin mendapat perhatian, terutama selama pandemi COVID-19. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya aspek data privacy dan sustainability, yang semakin menjadi fokus utama dalam transformasi digital. Temuan ini memberikan wawasan tentang bagaimana teknologi dapat mempengaruhi berbagai sektor, serta pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menciptakan solusi teknologi yang efisien, aman, dan berkelanjutan.