Children are very susceptible to TB infection. One of the causes of TB in children is nutritional status. Poor one causes a weak immune system, making contracting tuberculosis easier. In addition, living conditions can spread to children due to contact with active pulmonary TB in one household. This study aims to determine the relationship between nutritional status and living conditions with TB incidence in children. This case-control study involved 76 samples consisting of 38 cases and 38 controls. Research subjects were taken using the purposive sampling method. The subjects were children aged 0-18 years diagnosed with TB based on anamnesis, physical examination, tuberculin skin test, and chest X-ray. This study was conducted at Bhakti Medicare Sukabumi Hospital from July to December 2019. The results of the Chi-square test found that there was a relationship between nutritional status (p=0.023), ventilation area (p=0.043), and humidity (p=0.001). There is no relationship between age (p=0.639), gender (0.490), parental education (p=0.803), lighting (p=0.200), temperature (0.260), density (p=1.000), and type of floor (p=0.240).
Background: Long COVID presents a significant challenge in the management of COVID-19 patients, necessitating risk stratification and early intervention to mitigate its impact.Objective: This retrospective cohort study aimed to establish a predictive link between initial clinical assessments and imaging findings upon COVID-19 diagnosis and the subsequent development of long COVID symptoms at 6-8 weeks post-treatment.Methods: The study analyzed chest radiography images utilizing the Brixia Score and chest CT scans employing the Severity Score at the time of COVID-19 diagnosis. These findings were then compared with the presence of long COVID symptoms.Results: Among 54 study participants, 63% were non-elderly and 37% were elderly, with a nearly equal gender distribution. Notably, 74.1% of patients developed long COVID symptoms. The Brixia Score identified 38.9% as mild, 37% as moderate and 24.1% as severe lung involvement. Correspondingly, the Severity Score from chest CT scans revealed 33.3% with mild, 53.7% with moderate, and 13% with severe lung abnormalities. Statistical analysis confirmed strong correlations between both the Brixia Score (r = 0.553) and the Severity Score (r = 0.733) with the development of long COVID symptoms (p = 0.000).Conclusion: This study underscores the significant predictive value of both the Brixia Score and the Severity Score in identifying COVID-19 patients at risk of developing long COVID. These findings have critical implications for early risk stratification and targeted intervention strategies to prevent long COVID's debilitating effects.
Pandemi Covid-19 banyak memberikan pengaruh pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya pada orang yang sempurna jasmaninya tapi juga sangat memberikan dampak berat bagi penyandang disabilitas. Tunanetra yang pekerjaannya hanya memijat, maka dengan pandemi ini mereka tidak bisa memijat lagi dan sehingga banyak diantara mereka berdagang keliling. Pengabdian ini bertujuan untuk membagikan masker dan kebutuhan pokok pada tunanetra yang terkena dampak pandemi Covid-19 secara ekonomi di Kecamatan Pondok Gede Bekasi. Metode pelaksanaan pengabdian dimulai dengan melakukan kerjasama dengan paguyuban tunanetra untuk mendapatkan informasi jumlah tunanetra dan kegiatan yang dijalankan selama pandemi. Kemudian menyalurkan bantuan sosial dalam bentuk pembagian masker dan kebutuhan pokok pada 30 orang tunanetra. Pengabdian ini membantu masyarakat khususnya tunanetra dalam mendapatkan kebutuhan pokoknya dengan keterbatasan kondisi saat kondisi pandemi dan pemberian masker dalam pencegahan terhadap penularan Covid-19.
Background:Pneumonia is one of the most common infections caused by the bacterium Klebsiella pneumoniae. During the initiation of an infection, the immune system recognizes the pathogen through the release of high mobility group box 1 (HMGB1), thereby triggering the inflammation process. Miana has demonstrated potent inhibitory effects on the inflammatory process during infection in animal models. The aim of this study was to determine the effect of Miana leaf extract on mRNA HMGB1 expression in Balb/c mice infected with K. pneumoniae. Methods:This study comprised a cohort experiment using 20 Balb/c mice divided into four groups. Balb/c mice in each group were intraperitoneally injected with K. pneumoniae. Group 1 was given a placebo; Group 2 was given Miana; Group 3 was given levofloxacin; and Group 4 was given both levofloxacin and Miana. The levels of mRNA HMGB1 expression were measured using real-time PCR before, during, and after the infection as well as after the treatments. Results:The initial examination results showed that the average level of mRNA HMGB1 expression was 5.51 fc. The mRNA HMGB1 expression in mice after being challenged with K. pneumoniae was 9.64 fc. Group 1 that was given a placebo had a mean mRNA HMGB1 expression level of 14.99 fc. Group 2 that was given Miana had a mean mRNA HMGB1 expression level of 13.95 fc. Group 3 that was given levofloxacin had an average mRNA HMGB1 expression level of 6.45 fc, and Group 4 that was given levofloxacin and Miana together had an average mRNA HMGB1 expression level of 5.59 fc. Conclusion:Miana (Coleus scutellarioides (L.) Benth) increased mRNA HMGB1 expression at the initial administration via regulation of the immune system. Administration of Miana following K. pneumoniae infection inhibited the increase in mRNA HMGB1 expression. Treatment with levofloxacin reduced the level of mRNA HMGB1 expression, and the effect was optimized by the administration of Miana leaf extract as a supplement.
Tuberculosis (TB) is the most common cause of death in children. Prevention of TB through Bacille Calmette–Guérin (BCG) vaccination is an action to produce immunity against TB disease. After vaccination, a scar forms from the boil, which indicates a successful vaccination. This study aims to determine the factors associated with BCG Scar in pediatric TB patients. A cross-sectional design was conducted at the Pisangan and East Ciputat Community Health Centers in January-September 2020. Data collection using medical records and telephone interviews on 35 samples was taken using the probability sampling technique, simple random sampling. With inclusion criteria for pediatric TB patients (0-18 years) and exclusion criteria that do not include telephone numbers and addresses. Bivariate analysis was used with the chi-square test. The results showed a significant relationship between contact history and BCG scars in pediatric TB patients. Age, gender, nutritional status, exclusive breastfeeding, immunization, mother's education, parent's occupation, family income, and smoking history were not significantly related to BCG scar. Contact history related to BCG scar. Parents should pay more attention to and protect their children from the people around them to cut off the possibility of contact with TB sufferers even though the child has been vaccinated.
Infeksi virus Covid 19 menyebabkan krisis kesehatan dan sosial ekonomi di seluruh dunia. Mudahnya transmisi virus melalui erosol maupun droplet yang keluar dari hidung atau mulut penderita saat batuk, bersin atau kontak dengan benda yang terkontaminasi, akan dengan cepat menular kepada orang lain. Salah satu upaya pencegahan COVID-19 yang perlu dilakukan yaitu selalu menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Rumah ibadah seperti masjid, gereja, kuil, merupakan salah satu tempat yang perlu mendapatkan sosialisasi mengenai protokol kesehatan agar masyarakat dapat beribadah dengan tenang sesuai protokol kesehatan, tanpa khawatir terinfeksi Covid 19
Latar Belakang: Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. WHO Global Tuberculosis Report tahun 2018, terdapat kasus TB baru sebanyak 6,4 juta, dimana setara dengan 64% dari insiden TB yaitu 10,0 juta kasus. Pada akhir tahun 2018 terdapat 32.570 kasus TB paru anak. Banyak faktor yang menyebabkan TB pada anak. Tujuan: untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi kejadian Tuberculosis pada anak di Puskesmas Pamulang bulan desember 2019 – januari 2020. Metode: Jenis Penelitian ini adalah penelitian Deskriptif Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel yang diambil adalah 22 responden yang dihitung dengan rumus Slovin. Data penelitian diperoleh dari data primer dan data sekunder. Hasil: Jenis kelamin terbanyak pada total jumlah responden adalah laki-laki 54,5% diikuti perempuan 45,5%. Usia sama banyak pada 0–5 tahun berjumlah 50,0% dan 6–10 tahun 50,0%. Status imunisasi lengkap terbanyak pada total jumlah responden 72,7%, Status gizi baik terbanyak pada jumlah responden 63,6%. Nilai Skoring TB >6 terbanyak pada jumlah responden 63,6%. Pendidikan terakhir SMA pada orang tua terbanyak dari jumlah responden 81,8%. Anak dengan riwayat kontak TB positif 68,2%. Orang tua dengan pengetahuan baik 86,4%, Sikap baik 95,5% dan perilaku baik 18,2%. Lingkungan yang memenuhi syarat suhu kamar 22,7%, pencahayaan 63,6%, ventilasi 72,7%, kepadatan hunian 77,3%, kelembaban rumah 68,2%, dan jenis lantai 95,5%. Kesimpulan: kejadian TB anak laki laki lebih banyak dengan riwayat kontak penderita positif, nilai skoring tinggi. Untuk faktor lingkungan suhu yang tidak memenuhi syarat dengan perilaku orang tua pasien yang kurang baik.
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan seperangkat alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau seabagian tubuhnya dari kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Petugas cleaning service mempunyai risiko untuk terpajan bahan biologi berbahaya (biohazard). Kontak dengan alat medis sekali pakai (disposable equipment) seperti jarum suntik bekas maupun selang infus bekas, serta membersihkan seluruh ruangan di rumah sakit dapat meningkatkan risiko untuk terkena penyakit infeksi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penggunaan Alat pelindung Diri dalam Penaganan Sampah Medis pada Petugas Cleaning Service di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh petugas cleaning service di RSUD Kab. Bekasi yang berjumlah 50 orang dengan analisis bivariat menggunaka uji chi-square. Penelitian menunjukkan bahwa 33 orang (66%) responden menggunakan APD dengan lengkap, hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan penggunaan APD dengan variabel pengetahuan (pvalue 0.04 dan OR=9,846), sikap (pvalue 0,002 dan OR=7,750), umur (pvalue 0,352 dan OR 1,225), Pendidikan (pvalue 0,767 dan OR 0,498), dan masa kerja (pvalue 0,557 dan OR 0,656). Terdapat hubungan bnermakna penggunaan APD dengan pengetahuan dan sikap dimana pvalue <0,05 dan tidak terdapat hubungan bermakna antara pengunaan APD dengan umur, Pendidikan dan masa kerja dimana pvalue>0,005. Saran : diharapkan kepada pihak Rumah Sakit untuk dapat terus meningkatkan pengetahuan dan sikap cleaning service dalam penggunaan APD, adapun untuk umur, Pendidikan dan Masa kerja perlu menjadi masukan rumah sakit dalam dengan memberikan edukasi dan pelatihan mengenai pentingnya menggunakan APD dengan baik. ABSTRACT Personal Protective Equipment (PPE) is a set of safety equipment used by workers to protect all or part of the body from the possibility of exposure to potential workplace hazards to occupational accidents and diseases. Cleaning service at risk for exposure to hazardous biological substances (biohazard). Contact with disposable medical instruments (disposable equipment) such as used syringes or IV lines used, as well as clean the whole room in a hospital can increase the risk of infectious diseases. Risk of occupational accidents and occupational diseases can occur against officers. This study aims to determine the factors that affect the use of Personal Protective Equipment in Medical Waste Treatment at Cleaning Service Officer at General Hospital Bekasi District In 2016. This study is a quantitative analytical observation that used cross sectional design. The sample in this study is all of cleaning service officer in General Hospital Bekasi District in 2016. This study used univariate analysis to describe of the use Personal protective equipment and the factors that affected it. The result study shows that 33 (66,0%) respondent were used Personal protective equipment complete. The result analysis shows that there were significant relation between knowledge and attitude with the use of personal protective equipment. The variable of age, education, and work period were not significant relation with the use of personal protective equipment. This is may be conclused that respondent who have good knowledge and positive attitude were used personal protective equipment complete than respondent who have bad knowledge and negative attitude. Hopefully to the hospital To give education that the us of personal protective equipment is important and there is impact can be happen if not using personal protective equipment at work.
Latar Belakang: Anak-anak dengan keterlambatan perkembangan secara umum meliputi 10% anak-anak di seluruh dunia. Berdasarkan hasil pelayanan Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) pada 500 anak dari lima wilayah DKI Jakarta, ditemukan 57 anak (11,9%) mengalami kelainan tumbuh kembang. Kelainan yang paling banyak yaitu delayed development (pertumbuhan yang terlambat) 22 anak, 14 anak mengalami global delayed development, 10 anak gizi kurang, 7 anak mikrosefali, dan 7 anak yang tidak mengalami kenaikan berat badan dalam beberapa bulan terakhir. Ukuran lingkar kepala adalah salah satu indikator yang umum diperiksa untuk mengidentifikasi kelainan neurologis dan menyingkirkan penyebab keterlambatan perkembangan.Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif analisis, dengan responden anak usia 12 - 36 bulan di Posyandu RW 03 Kelurahan Mustika Jaya, Bekasi Timur. Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah ”cross sectional study, dengan jumlah sampel sebanyak 73 responden.Hasil: Berdasarkan penelitian, lebih dari setengah reponden yang memiliki lingkar kepala dengan interpretasi tanpa kelainan kepala atau normal memiliki aspek perkembangan motorik kasar yang normal (98,5%), dibandingkan dengan aspek perkembangan motorik kasar yang suspek (1,5%). Reponden yang memiliki lingkar kepala normal memiliki aspek perkembangan motorik halus yang normal (95,6%), dibandingkan dengan yang suspek (4,4%). Reponden yang memiliki lingkar kepala normal memiliki aspek perkembangan bahasa yang normal (92,6%), dibandingkan dengan yang suspek (7,4%). Reponden yang memiliki lingkar kepala normal memiliki aspek perkembangan personal sosial yang normal (97,1%), dibandingkan dengan yang suspek (2,9%). Didapatkan reponden yang memiliki lingkar kepala tanpa kelainan kepala atau normal cenderung memiliki perkembangan yang normal (86,8%) dibandingkan perkembangan yang suspek (13,2%).Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara lingkar kepala dengan interpretasi tanpa kelainan atau normal dengan perkembangan anak yang normal. Lingkar kepala tanpa kelainan mempengaruhi perkembangan anak 9 kali lebih besar.Kata Kunci: Lingkar Kepala, Perkembangan Anak, DDST II.