Pertanian berkelanjutan merupakan upaya menghasilkan produk pertanian yang aman dalam segi kuantitas, kualitas dan kontiniutas. Pupuk organik cair dan pestisida nabati yang dapat dibuat dari vegetasi sekunder yang ada di Kecamatan Poasia sebagai penerapan pertanian berkelanjutan. Tujuan program pengabdian kepada masyarakat terintegrasi KKN-Tematik adalah meningkatkan partisipasi masyarakat menggunakan pupuk organik dan pestisida nabati yang berbahan dasar vegetasi sekunder. Kegiatan terdiri dari tiga tahapan yaitu survei lokasi, identifikasi masalah dan pelatihan. Petani antusias dan mampu membuat pupuk organik cair dan pestisida nabati dari bahan dasar vegetasi sekunder. Aplikasi pupuk organik cair dan pestisida nabati dapat mengurangi ketergatungan terhadap pupuk anorganik dan pestisida kimia sintetis.
This study aims to identify and describe the types of cassava in Tomia Timur District, Wakatobi Regency. The research was carried out in Tomia Timur Subdistrict, Wakatobi Regency, in December 2021 January 2022. This research is a survey research that is analyzed descriptively by statistics that is describing, describing, and describing the object being studied. The variables observed were stem color, branched and unbranched, stem height, stem diameter, distance between stem segments, leaf color, petiole color, leaf lobe length, tuber shape, wet tuber weight per tree, outer skin color of tuber, color inner skin of tubers, tuber flesh color, benefits of cassava plants, cultivation techniques, and soil conditions. The results showed that there were 10 types of cassava in Tomia Timur District, Wakatobi Regency, namely Kalambe cassava, Kalambe Fanse cassava, Ndoke cassava, Bogoro cassava, Bogoro Mohoro cassava, Makuri cassava, Andapatua cassava, Salbia cassava, cassava English wood, and Andabula cassava.
Penelitian bertujuan untuk mengkaji kemampuan dua isolat azotobacter yang di eksplorasi dari rizosfer tanaman padi gogo (isolat MP3c) dan rumput liar (isolat RR8a) asal Sulawesi Tenggara dan pupuk organik padat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi putih ((Brassica rapa Subsp. pekinensis) yang dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Fakultas Pertanian dan Laboratorium Unit Agronomi dan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari Sulawesi Tenggara. Rancangan penelitain yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama Isolat azotobakter indigenous yaitu: (IO)=Kontrol/tanpa isolat azotobakter); (I1) = Isolat azotobakter MP3c dan (I2) = Isolat azotobakter RR8a. Faktor kedua yaitu pupuk organik padat yang terdiri atas: (BO)=Kontrol/tanpa pupuk organik; (B1)= pupuk organik/pupuk kandang sapi dan (B2)= pupuk organik/pupuk kandang kambing. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman dan jumlah daun masing-masing pada umur 30 HST dan berat segar krop (saat panen). Hasil penelitian menunjukkan interaksi perlakuan isolat azotobacter indigenous dan pupuk organik/kandang kambing merupakan perlakuan terbaik terhadap berat segar krop sawi putih dengan nilai produksi rata-rata (62 g tanaman-1) setara dengan (6.888,89 ton ha-1).
Mitra pengabdian ini terdiri dari RT 05 dan RT 06. Kedua mitra ini terletak di Jl. Chairul Anwar,Lorong Durian Dalam, Kelurahan Wuawua, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari. Permasalahanpermasalahanmitrasebagaiberikut:(1)keterampilanmembangunparatukangbangunandiwilayahRT05 dan RT 06 masih bersifat konvensional; (2) para tukang bangunan di wilayah ini hanyamampu membuat bahan-bahan bangunan seperti kusen pintu, kusen jendela, dan konstruksi rangkaatap. Permasalahan-permasalahan ini dikhawatirkan pengetahuan tukang lokal mandeg dan dapatmempengaruhi pendapatan para tukang. Kegiatan pengabdian ini ditujukan untuk memberikanbimbingan teknis pembuatan paving block kepada para tukang bangunan lokal. Metode pelaksanaankegiatan ini dilakukan dengan cara penyuluhan dan praktik. Hasil dari kegiatan ini adalahpengetahuan pembuatan paving block para tukang bangunan meningkat setelah mengikuti bimbinganteknis.Kata Kunci: Tukang bangunan, paving block.
Universitas Halu Oleo telah menetapkan sasaran yang ingin dicapai pada periode 2015-2019 dalam bentuk analisis capaian kinerja. Di sisi lain, pendidikan berkelanjutan yang berbasis kearifan lokal tepat diterapkan pada periode kekinian. Penelitian ini penting dilaksanakan sebagai berikut: (1) Data dalam penelitian ini menginformasikan ke masyarakat tentang target analisis capaian kinerja UHO; (2) Target analisis capaian kinerja UHO terdapat produk-produk unggulan yang berbasis kearifan lokal setempat. Produk-produk unggulan tersebut adalah prototipe industri berbasis kearifan lokal seperti gracilla dan prototipe inovatif berbasis kearifan lokal seperti jaring kantong apung rumput laut, kapal fiber, lada mega, sate pokea, pupuk organik Gaksi, cokelat sultan, dan pakan ternak limbah pertanian. Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap analisis capaian kinerja UHO yang berkearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi. Data diolah dengan cara tabulasi, data dihitung dan ditafsirkan, serta diolah dengan program komputer Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Penelitian ini disimpulkan bahwa analisis capaian kerja Universitas Halu Oleo yang berkearifan lokal dalam kategori prototipe industri berbasis kearifan lokal sebesar 60% dan prototipe inovatif berbasis kearifan lokal sebesar 80%.
This study aims to determine the effect of local arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) on weed density, growth and yield of sweet corn in marginal soils. This study used a randomized block design with local AMF propagules which consisted of 4 levels: 0 g/planting hole or control (A0), 15 g/planting hole (A1), 30 g/planting hole (A2) and 45 g/planting hole (A3). The research parameters observed were: weed density, plant height, stem diameter, crop yield, and the percentage of AMF infection in the roots of corn plants. The results showed that the highest weed dominance value at the age of 14 DAP was Cyperus rotundus as 36.8% in treatment of AMF 45 g/planting hole (A3), age 56 DAP the highest weed dominance value was Hyptis capitata as 47.1% in the treatment of AMF 30 g/planting hole. The best plant height and stem diameter were found in the treatment of AMF 45 g/planting holes (A3) at 56 DAP, the average plant height reached 234.05 cm and the average stem diameter reached 3.72 cm. Increased production of corn plants that were given local AMF ranged from 2.70 to 3.10 tons ha-1 or an average increase in overall corn crop production of 2.86 tons ha-1. The average percentage of mycorrhiza fungi infections in the highest roots of corn plants in the treatment of AMF 45 g/planting hole (A3) as 94%.  Key words: Arbuscular mycorrhiza fungi; vesicles; hypha; maize; ultisols
Di Jalan Poros Moramo, Kelurahan Tondonggeu, Kecamatan Nambo, Kota Kendari terdapat limbah cangkang kalandue dan pasir Nambo yang cukup tersedia. Oleh karena itu, persoalan ini merupakan tanggung jawab kami sebagai tenaga edukatif Program Pendidikan Vokasi, Universitas Halu Oleo. Kegiatan pengabdian ini ditujukan untuk memberikan bimbingan teknis pembuatan ubin dari bahan cangkang kalandue dan pasir Nambo untuk para siswa SMAN 8 di Kota Kendari. Metode pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa tahap seperti tahap persiapan, tahap rekruitmen peserta, tahap pembekalan, dan tahap pelaksanaan. Kegiatan pengabdian ini disimpulkan bahwa ubin cangkang kalandue dibuat dengan alat-alat kerja sederhana, bahan-bahan kerja cukup tersedia dan ekonomis, tahap-tahap pembuatan mudah dan cepat, serta mudah dimengerti. Hal ini dibuktikan dengan para siswa mampu membuat material ubin sebanyak 10 buah.
This study aimed to determine the response of the growth of sweet corn plants and weed density to the treatment of bio-fertilizer based on arbuscular mycorrhizal fungi and cow manure fertilizer. The study was conducted using a randomized complete block design (RCBD) in a factorial pattern. The first factor was arbuscular mycorrhiza fungi (AMF) consisting of four doses, namely without AMF (A0), AMF 5 g/planting hole (A1), AMF 10 g/planting hole (A2), AMF 15 g/ planting hole (A3). The second factor was cow manure fertilizer con-sisting of three doses, namely without cow manure fertilizer (B0), cow manure fertilizer 3 kg/plot (B1), cow manure fertilizer 6 kg/plot (B2). The treatment applied consisted of 12 combinations of treatments with 3 replications, so there were 36 experimental units. The observed variables were plant height, stem diameter, leaf area and weed density. The results showed that the average height of sweet corn was best at 42 DAP in the treatment of cow manure fertilizer 6 kg/plot (B2) as 111.6 cm. The average highest of stems diameter was at 14 DAP in the treatment of cow manure fertilizer 6 kg/plot (B2) as 0.40 cm. The average leaf area of sweet corn was at the age of 28 DAP was highest in the combination treatments cow manure fertilizer 6 kg/ plot (A0B2) and without AMF as 894.5. The weed species with the highest density found was I.cylindrica as 0.5-32.4%, C. kyllingia as 1.3-41.8%, C. rotundus as 1.3-30.3% and F.miliaceae as 1.2-12.7%.
Masyarakat di Kampung KB, RW 06, RT 12, RT 13, dan RT 14, Kelurahan Lepo-lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari terletak dibantaran sungai Wanggu sehingga sering terkena dampak banjir bila musim penghujan. Pemerintah Kota Kendari memberikan solusi relokasi tetapi ditolak oleh warga karena warga sudah senyawa dengan kampung KB. Kegiatan pengabdian ini ditujukan sebagai berikut: (1) untuk membuat maket kawasan permukiman di kampung KB yang adaptif terhadap bencana alam banjir; (2) untuk mengaplikasikan program-program kegiatan KKN Tematik. Metode pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan beberapa tahap seperti tahap persiapan, tahap rekruitmen peserta, tahap pembekalan mahasiwa, dan tahap pelaksanaan. Hasil dari kegiatan ini adalah pembuatan maket kawasan permukiman Kampung KB yang adaptif terhadap bencana alam banjir cocok dan berkenan di hati masyarakat Kampung KB.
Stem rot or foot rot disease caused by Phytophthora capsici is known as an important constraint on pepper cultivation. Research was conducted to determine the effect of arbuskula mycorhizal fungi (AMF) on incidence of foot rot disease of pepper seedlings. The experiment was done in the net house and arranged using completed randomized design with 6 treatments, i.e. (1) soil infested by P. capsici (TPC) as negative control treatment, (2) sterilized soil (TS) as positive control treatment, (3) TPC with 5 g of AMF, (4) TPC with 10 g AMF, (5) TPC with 15 g AMF, and (6) TPC with 20 g AMF. Observation involved plant height, number of shoots, disease incidence, the percentage of AMF infection on the roots of pepper plants, and pepper plants dependence on AMF. The results showed that the application of AMF at a dose of 20 g per 10 kg of soil effectively suppressed incidence of foot rot disease and improve plant growth