This study examines the legal and social paradox of marriage dispensation in Indonesia, particularly in cases of premarital pregnancy, where child protection objectives often conflict with the formal legitimacy of marriage. Although frequently justified as a protective legal mechanism, this article argues that marriage dispensation primarily functions as an emergency response, offering short-term legal relief while generating long-term social harm. Using a socio-legal and normative-empirical approach, the study applies the maqāṣid al-sharīʿah framework, particularly tarjīḥ maqāṣidī, to evaluate legal priorities in light of the higher objectives of Islamic law. Its novelty lies in measuring maṣlaḥah through multi-dimensional indicators scope, durability, precision, effectiveness, and temporal impact based on empirical data from Religious Courts and Women’s Empowerment and Child Protection agencies in East Java, Central Java, and West Java. The findings show that the benefits of marriage dispensation are limited to formal lineage recognition and stigma reduction. At the same time, its harms are extensive and enduring, including reproductive health risks, educational disruption, psychological vulnerability, and intergenerational poverty. From a maqāṣid perspective, this imbalance reflects a failure to protect life, intellect, and progeny. This study concludes that the marriage dispensation is normatively inconsistent and calls for prevention-oriented legal harmonization that prioritises child protection.
This study examines the effect of traditional game-based learning with Congklak on numeracy achievement among second-grade elementary students. The study addresses the limited availability of experimental evidence on culturally grounded, non-digital games for early numeracy instruction. A pre-test–post-test control-group design was employed with 60 students (aged 7–8 years) from a public elementary school in Indonesia. Participants were assigned to either an experimental group receiving Congklak-based numeracy instruction or a control group receiving conventional textbook-based instruction for four weeks. Numeracy achievement was measured using the Numeracy Achievement Test (NAT), consisting of 30 dichotomously scored items covering number recognition, counting skills, and logical reasoning (score range 0–100; reliability coefficient α = 0.82). Data were analyzed using paired-samples and independent-samples t-tests. Results indicated significant pre-test–post-test improvement in both groups (p < .001). However, the experimental group achieved higher post-test scores (M = 78.47, SD = 6.92) than the control group (M = 66.13, SD = 7.25), with a statistically significant between-group difference, t (58) = 4.96, p < .001, d = 1.27. These findings suggest that integrating traditional Congklak-based activities into mathematics instruction can support early numeracy development through culturally responsive and play-based learning experiences.
Keberadaan tikus di lingkungan permukiman merupakan permasalahan kesehatan lingkungan karena berpotensi menularkan berbagai penyakit. Higiene rumah tangga yang kurang baik serta perilaku rumah tangga yang belum mendukung kebersihan lingkungan dapat meningkatkan risiko keberadaan tikus. Risiko ini semakin meningkat pada desa yang rawan banjir karena banjir dapat mengganggu habitat tikus dan mendorong perpindahannya ke permukiman warga untuk mencari tempat yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kerentanan higiene dan perilaku rumah tangga terhadap kepadatan tikus di permukiman rawan banjir Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Penelitian menggunakan metode analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel sebanyak 40 rumah dipilih dengan teknik purposive sampling, dengan pemasangan 160 sticky trap selama 2 malam di dalam dan luar rumah. Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan nilai success trap sebesar 61,25% yang mengindikasikan kepadatan tikus tergolong tinggi. Variabel higiene dan perilaku rumah tangga yang memiliki pengaruh paling besar meliputi kebiasaan membersihkan SPAL (p=0,018; OR=0,053), kebiasaan menumpuk barang (p=0,030; OR=0,066), dan lubang/celah rumah (p=0,011; OR=0,173). Hasil ini menunjukkan bahwa kepadatan tikus di Desa Sidomulyo tergolong tinggi dan dipengaruhi oleh faktor higiene serta perilaku rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan sanitasi lingkungan dan penerapan perilaku hidup bersih untuk menekan keberadaan tikus di permukiman.
This article explains how curriculum innovation is managed to improve educational quality in madrasas, focusing specifically on MA Al-Rosyid Bojonegoro and MA Assalam Tuban. The research uses a field study design with a qualitative–descriptive method and a multiple case study approach. Data were gathered through interviews, observations, and document analysis, and subsequently analyzed within and across cases. The findings show that the planning of curriculum innovation in both madrasas has been structured and carried out effectively to enhance educational quality. This planning includes: (1) the delivery of information related to the conditions and urgency of innovation by the Madrasah principal in a structured manner and in accordance with regulations; (2) active participation of teachers, education staff, committees, and parents; (3) determination of curriculum implementation through annual and semester meetings approved by all related parties; (4) implementation of continuous evaluation through meetings, observations, and routine monthly meetings between the Madrasah principal and the curriculum head, as well as semester meetings with teachers; and (5) holding meetings with parents and the committee at the end of the semester. Theoretically, this research contributes to strengthening the discourse on the quality management of Islamic education in the context of curriculum innovation. At the same time, practically, it offers strategic recommendations for curriculum management in private madrasas in rural areas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah dalam menyelesaikan masalah statistika dan untuk mengetahui faktor penyebab siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan masalah statistika berdasarkan kriteria Watson. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode tes tulis, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian yaitu satu siswa berkemampuan tinggi, satu siswa berkemampuan sedang, dan satu siswa berkemampuan rendah dari 28 siswa kelas X-4 SMA Persatuan Kedungpring. Setiap hasil pekerjaan subjek penelitian dianalisis untuk mendeksripsikan kesalahan subjek yang dilakukan siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah menggunakan kriteria Watson. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa siswa berkemampuan tinggi melakukan kesalahan pada kategori prosedur tidak tepat pada indikator siswa menuliskan langkah-langkah yang tidak sesuai dengan permasalahan, siswa berkemampuan matematika sedang melakukan kesalahan pada kategori prosedur tidak tepat pada indikator siswa menggunakan rumus yang tidak tepat dalam menyelesaikan permasalahan dan indikator siswa menuliskan langkah-langkah yang tidak sesuai dengan permasalahan, dan siswa berkemampuan matematika rendah melakukan kesalahan pada kategori prosedur tidak tepat pada indikator siswa menggunakan rumus yang tidak tepat dalam menyelesaikan permasalahan, konflik level respon pada kategori siswa langsung menuliskan jawaban tanpa disertai prosedur penyelesaiannya dan masalah hirarki keterampilan pada kategori siswa salah dalam menuangkan ide. Faktor penyebab siswa melakukan kesalahan adalah tidak mengetahui langkah-langkah yang akan digunakan dalam menyelesaikan permasalahan dan tidak mengetahui cara untuk mencari statistika serta salah dalam menuangkan ide. Saran bagi siswa, lebih sering berlatih dalam mengerjakan soal matematika agar tidak melakukan kesalahan. Saran bagi guru hendaknya penelitian ini bisa dijadikan evaluasi untuk mengetahui kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal statistika dan saran bagi peneliti selanjutnya agar dapat menggunakan kriteria yang lain dan menggunakan model soal yang lain seperti AKM.