This study examines the ecosystem architecture of agricultural social enterprises in West Java, Indonesia, using the five stage ecosystem architecture model. We apply a qualitative case study design supported by semi structured interviews with 12 informants across smallholder farmers, social enterprises, academics, and the provincial government. The analysis combined theory guided interpretation with data driven coding. Interview transcripts were coded at the dyadic level to capture recurring exchanges across five value types, goods and services, monetary value, information, data, and intangible value. Coded ties were then used to construct a multi layer interaction network and compute centrality, modularity, and network density. Validation was conducted through two stakeholder feedback sessions with the participants to refine boundaries, role assignments, and contested ties. Results show two coexisting distribution pathways. A traditional market channel operates alongside three focal social enterprise pathways, Daun Desa, Seni Tani, and Kebun Belakang, that shorten distribution through urban retail, community supported agriculture (CSA), and eco farming community markets. Enabling actors strengthen the architecture through standards and training provided by BIOPS, knowledge and data support from academia, and policy coordination by the West Java Development Planning Agency (Bappeda). The findings highlight how stability depends on the continuity of enabling ties and the reliability of information and coordination flows across pathways. Practical implications include digital inclusion, CSA scaling, governance standardisation, and environmental certification, with relevance to SDG 2, SDG 8, SDG 12, and SDG 13.
This study investigated the effects of two plyometric training methods—Alt-Leg Bounding and Split Jump—on squat-style long jump performance in youth track-and-field athletes. Although plyometric exercises are widely recognized for enhancing stretch–shortening cycle function and explosive power, limited research has compared specific plyometric modalities for horizontally oriented jumping tasks. Twenty male athletes aged 15–21 years from ADIOS Track and Field Surakarta were assigned into two balanced groups based on baseline long jump performance. Over a six-week period, Group A completed an Alt-Leg Bounding program, while Group B performed a matched-volume Split Jump pro-gram, with both interventions conducted three times per week in addition to regular train-ing. Squat-style long jump performance was assessed before and after the intervention using standardized field protocols, and statistical analyses included paired t-tests, inde-pendent t-tests, effect sizes, confidence intervals, and reliability metrics. Both groups demonstrated substantial and significant improvements. The Alt-Leg Bounding group improved by 0.42 m (≈12%), while the Split Jump group increased by 0.34 m (≈9%), each showing very large effect sizes. Test reliability exceeded 0.93, and the observed gains were several times larger than the standard error of measurement, indicating true performance adaptations rather than measurement fluctuations. Although between-group differences were not statistically significant, descriptive outcomes consistently favored the horizontally oriented Alt-Leg Bounding method. These findings highlight that a structured six-week plyometric program can markedly enhance horizontal jumping ability in youth athletes. Coaches may prioritize movement-specific plyometric exercises, particularly horizontal drills, when aiming to improve squat-style long jump performance.
Kemjuan teknologi tidak dapat dibendung dan akan berdampak positif maupun negative. Dampak negative dengan kemajuan teknologi ini adalah permainan tradisional sudah mulai memudar dan beberapa sudah tidak dimainkan Kembali oleh masyarakat. Sebagai akademisi yang cinta budaya merasa tergugah hatinya untuk melestarikan kearifan lokal dan permainan tradisional. Upaya konservasi dan memperkenalkan Kembali permanan tradisional yang hampir punah ini dengan cara menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi goara-goara. Goara –goara adalah Gabungan Olahraga Tradisional Indonesia yang didisain menjadi satu kesatuan sehingga menjadi permainan baru yang unik, menarik dan menyenangkan. Inovasi permainan Goara-Goara yang terdiri dari 7-8 permainan/olahraga tradisional seperti rangku alu, balap karung, lompat tali bertahap, suda manda/engklek, egrang bambu, boy boyan dan yang terakhir panjat bambu (bisa dimainkan bisa tidak). Pelaksanaan pengabdian ini dilaksanakan melalui 3 tahap, yaitu: 1) mensosialisasikan permainan Goara- Goara melalui media sosial dan dibagikan ke pihak panitia pelatihan, 2) Pelatihan permainan Goara-Goara dilaksanakan selama 32 Jam, 3) Penyelenggaraan kompetisi Goara- Goara antar peserta pelatihan dan Siswa SMA se Kabupaten Pulang Pisau. Kegiatan pelatihan dan kompetisi goara-goara ini terselenggara dan didanai oleh oleh pemerintah daerah Pulang Pisau Melalui Dinas Kebudayaan Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata. Jumlah Peserta pelatinan ini sebanyak 100 orang yang terdiri dari 61 peserta guru olahraga dan penggiat olahraga serta 39 peserta SMA/SMK.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh rendahnya literasi keuangan dan keterampilan manajerial ibu-ibu PKK di Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, dalam mengelola hasil pertanian singkong sebagai komoditas unggulan daerah. Potensi lahan pertanian yang luas dan produktivitas singkong yang cukup tinggi belum sepenuhnya diikuti oleh kemampuan masyarakat dalam mengolah, mengemas, mencatat, dan memasarkan produk secara berkelanjutan. Program pengabdian ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas perempuan desa melalui penguatan literasi keuangan, manajemen usaha produktif, inovasi produk pangan berbasis singkong, serta pengembangan strategi pemasaran sederhana berbasis digital. Metode pelaksanaan dilakukan melalui identifikasi kebutuhan masyarakat, pelatihan dan pendampingan berbasis praktik langsung, serta evaluasi partisipatif bersama peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menyusun pencatatan keuangan sederhana, mengelola usaha produktif, mengembangkan produk olahan singkong, serta memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi. Inovasi produk berupa donat singkong, getuk, keripik singkong menjadi bentuk diversifikasi pangan lokal yang berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi rumah tangga. Selain itu, kegiatan ini mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ketahanan pangan lokal, kemandirian ekonomi perempuan, dan pemanfaatan potensi desa secara produktif. Secara keseluruhan, program ini menunjukkan bahwa integrasi manajemen talenta inklusif, literasi keuangan, dan ketahanan pangan mampu memperkuat kemandirian ekonomi perempuan perdesaan serta dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dan replikatif bagi wilayah agraris lain di Indonesia.