Groundwater availability is an essential factor in supporting domestic activities, agriculture, and tourism development in Sajang Village, East Lombok, Indonesia. Nevertheless, scientific information regarding subsurface groundwater potential in this volcanic region remains limited. The research contribution is the evaluation of subsurface lithology and groundwater aquifer potential in Sajang using the Vertical Electrical Sounding method to support groundwater exploration planning. This research applied the Vertical Electrical Sounding (VES) technique with the Schlumberger electrode configuration at two observation points. Field measurements were processed through inversion analysis using IP2WIN software to obtain true resistivity values and interpret lithological characteristics beneath the surface. The interpretation results reveal that the subsurface structure is dominated by volcanic rocks consisting of overburden, andesite lava, and andesite breccia with generally high resistivity values. At the first sounding point, resistivity values range from 77.8 Ωm to 11 × 107 Ωm at depths reaching 150 m. Meanwhile, the second sounding point shows resistivity values between 17.2 Ωm and 44 × 105 Ωm at depths of up to 153 m. The absence of low-resistivity zones indicates that productive aquifer layers are not present within the investigated area. Consequently, groundwater drilling activities are not recommended at the measurement locations. This study provides updated hydrogeophysical information for groundwater assessment in volcanic terrains of East Lombok.
Rendahnya paparan bahasa Inggris di lingkungan sekolah menjadi salah satu faktor yang membatasi kesempatan siswa sekolah dasar untuk berinteraksi dengan kosakata bahasa Inggris di luar pembelajaran formal. Kondisi tersebut ditemukan di SDIT Al-Fajar Academy Mataram yang belum memiliki lingkungan belajar berbasis visual yang mendukung pembelajaran bahasa Inggris secara berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengembangkan English Corner estetik sebagai media pembelajaran berbasis lingkungan untuk menciptakan atmosfer English-friendly dan meningkatkan literasi bahasa Inggris siswa. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2026 dengan melibatkan 22 siswa kelas IV SDIT Al-Fajar Academy Mataram. Metode yang digunakan meliputi observasi kebutuhan mitra, perancangan tampilan media (media display), instalasi English Corner, sosialisasi, pendampingan penggunaan media, dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa English Corner berhasil dibangun dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar tambahan yang menarik bagi siswa. Hasil observasi menunjukkan bahwa 95% siswa memperhatikan penjelasan fasilitator, 91% menunjukkan rasa ingin tahu terhadap media yang tersedia, dan 86% berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Keberadaan English Corner memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat belajar bahasa Inggris serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan kondusif. Program ini juga menghasilkan media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh guru dan siswa sebagai bagian dari upaya penguatan literasi bahasa Inggris di sekolah dasar. Pengembangan English Corner perlu dilanjutkan dan dioptimalkan secara berkelanjutan melalui pembaruan konten, pelibatan aktif guru dan siswa, serta evaluasi berkala untuk memperkuat efektivitasnya dalam meningkatkan literasi bahasa Inggris.
Mal Pelayanan Publik (MPP) merupakan inovasi pelayanan publik yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan masyarakat melalui integrasi layanan lintas instansi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan masyarakat terhadap keberadaan Mal Pelayanan Publik Kota Mataram, menguji pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan masyarakat, serta mengidentifikasi dimensi pelayanan yang paling dominan memengaruhi kepuasan pengguna layanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 responden masyarakat pengguna layanan MPP Kota Mataram. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, statistik deskriptif, korelasi Spearman, serta regresi linear sederhana dengan bantuan perangkat lunak JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap MPP Kota Mataram secara umum berada pada kategori sedang. Kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan masyarakat dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,745, yang berarti bahwa 74,5% variasi kepuasan masyarakat dapat dijelaskan oleh kualitas pelayanan. Dimensi empati merupakan dimensi kualitas pelayanan yang paling dominan, sementara kompetensi dan sikap petugas menjadi indikator kepuasan masyarakat dengan kontribusi terbesar. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas interaksi dan perilaku aparatur pelayanan memiliki peran sentral dalam membentuk kepuasan masyarakat. Penelitian ini memberikan implikasi teoretis terhadap penguatan relevansi teori SERVQUAL dalam konteks pelayanan publik terpadu, serta implikasi praktis bagi pengelola MPP untuk memprioritaskan peningkatan empati, kompetensi, dan sikap petugas dalam upaya peningkatan kepuasan masyarakat secara berkelanjutan.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tuntutan era Society 5.0 yang mendorong integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran, sementara pemanfaatannya pada pembelajaran Bahasa Arab di perguruan tinggi masih sporadis, belum terstruktur, dan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan mahasiswa, kesiapan dosen, serta kebijakan dan infrastruktur institusi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan, praktik, dan tingkat kesiapan pemanfaatan media pembelajaran Bahasa Arab berbasis AI, sekaligus merumuskan kriteria desain media yang efektif, adaptif, dan etis pada konteks program studi Pendidikan Bahasa Arab, Bahasa dan Sastra Arab, serta Pendidikan Islam di perguruan tinggi Kota Mataram. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif pada tahap awal R&D (need assessment dan perancangan konseptual), dengan informan yang dipilih secara purposive dan maximum variation, meliputi mahasiswa, dosen, pengelola kurikulum/penjaminan mutu, staf IT/LMS, dan pimpinan unit akademik (sekitar 20–30 informan hingga data jenuh). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi kelas (luring/daring) dan LMS, serta telaah dokumen (RPS, silabus, kebijakan AI, dan artefak tugas), kemudian dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa AI sudah digunakan secara individual (chatbot, penerjemah, generator latihan), namun belum terintegrasi kuat dalam RPS, asesmen, dan kebijakan formal. Kebutuhan utama meliputi latihan adaptif untuk istima’, kalam, qira’ah, dan kitabah, umpan balik otomatis yang akurat secara linguistik, integrasi dengan LMS, serta panduan etika untuk menjaga integritas akademik; sementara hambatan mencakup literasi AI yang terbatas, kekhawatiran plagiarisme dan keotentikan bahasa Arab, serta kesiapan infrastruktur dan regulasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan model media pembelajaran Bahasa Arab berbasis AI harus berangkat dari desain yang kontekstual, berpusat pada kebutuhan pengguna, dan didukung kebijakan serta infrastruktur memadai, sehingga memberikan kontribusi konseptual penting bagi pengembangan media AI yang pedagogis, adaptif, dan etis di era Society 5.0.
To fight HIV, the Universal Test and Treat (UTT) HIV program was introduced and has been praised for improving HIV outcomes in many settings but also faces criticism for abbreviated counselling impacting adherence, and implementation challenges in resource-limited settings. Therefore, we aimed to assess the changes in ART enrollment, HIV viral load suppression, and adherence to ART between 2015 and 2020, a period that coincided with the implementation of the UTT program in Zimbabwe. We used data from nationally representative surveys before (2015, n = 2,792) and after (2020, n = 2,617) the national launch of the UTT program in 2016 in Zimbabwe. By applying survey weights, the prevalence of the HIV indicators was estimated and compared between the two survey years and within subgroups after stratification. Adjusted Odds ratios were also calculated to assess differences in the HIV indicators between the surveys. Importantly, our analyses were observational and did not establish a causal relationship between the UTT program and the observed changes in HIV indicators. HIV-positive status awareness of HIV-positive adults (15 years and older) was 76.8