Mathematical conceptual understanding is a fundamental competency in secondary mathematics learning, particularly challenging for topics such as algebraic function derivatives. Limited studies have specifically examined mind mapping as a standalone intervention for this topic at the senior high school level in the Indonesian context. This study examines the effect of the mind mapping learning model on students’ mathematical conceptual understanding of algebraic function derivatives. Quasi-experimental pre-test post-test non-equivalent control group; 42 students (23 experimental, 19 control); five-item essay instrument; Cronbach’s α = 0.78; eight instructional meetings; SPSS 29. The findings indicate = 3.478, p = 0.001, Cohen’s d = 1.07; post-test mean experimental (78.43) vs control (69.05). Mind mapping significantly and practically improved conceptual understanding. Mind mapping is a viable alternative strategy for teachers to deepen conceptual mastery of derivative rules.
Keterampilan menulis artikel ilmiah merupakan kompetensi akademik penting bagi mahasiswa, tetapi sebagian mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menyusun struktur artikel, mengembangkan latar belakang, menggunakan referensi, dan menyesuaikan naskah dengan template jurnal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan keterampilan mahasiswa Program Studi Ekonomi Syari'ah Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur dalam menulis artikel ilmiah dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) secara etis dan produktif. Kegiatan dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan partisipatif pada 35 mahasiswa di Ruang Rapat Kiai Hamzanwadi II pada 12 Desember 2025. Tahapan kegiatan meliputi penyampaian materi, demonstrasi penggunaan AI, praktik penyusunan draf artikel, review naskah, dan pemberian umpan balik. Data dikumpulkan melalui observasi, angket sebelum dan sesudah kegiatan, rubrik penilaian draf, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman struktur artikel ilmiah dari 25% menjadi 78%, kemampuan menyusun latar belakang dari 30% menjadi 70%, pemahaman penggunaan AI secara etis dari 20% menjadi 80%, dan kemampuan menyesuaikan artikel dengan template jurnal dari 37% menjadi 76%. Kegiatan ini menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat bantu produktif dalam penulisan akademik apabila digunakan melalui pendampingan, verifikasi referensi, dan penguatan etika akademik
Pemanfaatan hasil hutan memiliki peran penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. Namun, dalam praktiknya masih terdapat konflik kepentingan antara pemanfaatan hutan oleh masyarakat dan kepentingan pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hak masyarakat dalam pemanfaatan hasil hutan berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan serta menganalisis peran pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan dan literatur hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Pasal 67, masyarakat hukum adat yang keberadaannya masih diakui memiliki hak untuk melakukan pemungutan hasil hutan bagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, mengelola hutan berdasarkan hukum adat sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, serta memperoleh pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan. Sementara itu, Pasal 68 memberikan hak kepada masyarakat untuk menikmati kualitas lingkungan hidup yang dihasilkan hutan, memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai ketentuan hukum, memperoleh informasi kehutanan, memberikan saran dan pertimbangan, serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan kehutanan. Pemerintah bersama pemegang izin pemanfaatan hutan berkewajiban mendukung pemberdayaan masyarakat, termasuk melalui pemberian akses, pendampingan, kompensasi atas hilangnya akses terhadap hutan, dan pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan. Dengan demikian, pemanfaatan hasil hutan harus dilaksanakan secara adil dan berkelanjutan dengan menyeimbangkan hak masyarakat, pemberdayaan ekonomi, dan kelestarian fungsi hutan.
Arabic - indonesia translation is one of the activities that has its own urgency in indonesia. there are many adherents of Islam in indonesia where the source of the teachings is the al-qur'an and sunnah which use Arabic. this factor makes translation in indonesia very familiar. But so far, translation has a high level of difficulty stemming from various factors such as mufrodat, nahwu, shorf and others. so this study tries to reveal the influence in mastering vocabulary, syntax and morphology in improving the ability to translate Arabic-Indonesian for Arabic literature students at nahdlatul wathan university mataram. The type of this research is causality research with a quantitative approach. This research seeks to reveal the influence exerted by the independent variable on the dependent variable. Then for the location of this research was carried out in Arabic literature, Nahdlatul Wathan University Mataram from August to December. The results are vocabulary, syntax and morphology variables each have a significant effect partially and simultaneously on the variable (Arabic translation ability). statistical results show mastery of vocabulary t count of 2.400> t table 2.064 with a significance value of 0.026 < p-value 0.05. syntax mastery t count of 3.953 > t table value 2.064 with a significance value of 0.001 < p-value 0.05. morphological variables t count of 3.414 > t table 2.064 or a significance value of 0.003 < 0.05. The simultaneous test (F test) shows a significance value of 0.000 < p-value 0.05 or the value of F count 44.746 > F table which is 3.027.
This article examines Tahāfut al-Tahāfut by Ibn Rushd as a rational reconstruction of al-Ghazālī's critique in Tahāfut al-Falāsifah. The study aims to analyze how Ibn Rushd deconstructs, reevaluates, and systematically reorganizes the philosophical arguments questioned by al-Ghazālī, focusing on three main issues: the eternity of the world, God's knowledge of particulars, and the relationship between reason, revelation, and Sharia. The primary objective is to demonstrate that Tahāfut al-Tahāfut is not merely a rebuttal of al-Ghazālī but also a philosophical project to restore the legitimacy of reason within Islamic epistemology and to affirm the coherence between philosophy and Sharia. This study employs a qualitative method through library research, analyzing primary texts—Tahāfut al-Falāsifah and Tahāfut al-Tahāfut—and relevant secondary literature in Islamic philosophy. A critical-comparative and philosophical-hermeneutical approach is used to trace the argumentative structures of both thinkers, while evaluating the intellectual context of their debate, particularly the epistemological differences between Ash‘ari theology and Aristotelian rationalism adopted by Ibn Rushd. The findings indicate that Ibn Rushd presents a systematic rational critique, showing that many of al-Ghazālī’s objections stemmed from misinterpretations of philosophical concepts. Tahāfut al-Tahāfut functions as a reconstructive effort to reaffirm philosophy as an essential tool for understanding reality and supporting rational religious interpretation. The study concludes that the debate reflects a productive epistemological dialogue, demonstrating that reason and revelation are complementary in achieving a comprehensive understanding of truth.