
Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota serta Provinsi di Bali mengalami fluktuasi yang signifikan pada periode 2020-2023 akibat dampak pandemi COVID-19 dan ketergantungan sektor pariwisata. Kondisi ini menunjukan pentingnya pengelolaan keuangan daerah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta belanja modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh DAK dan PAD terhadap pertumbuhan ekonomi serta menguji peran belanja modal sebagai pemoderasi pada Kabupaten/Kota serta Provinsi di Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi moderasi. Data sekunder diperoleh dari laporan keuangan pemerintah daerah dan Badan Pusat Statistik Provinsi Bali periode 2020-2023, dengan jumlah observasi sebanyak 40 data. Analisis dilakukan menggunakan IBM SPSS. Hasil penelitian menunjukan DAK dan PAD tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, dan belanja modal juga tidak mampu memoderisasinya. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori desentralisasi fiskal dengan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kapasitas fiskal daerah dan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah daerah disarankan meningkatkan efektivitas pengelolaan DAK, PAD, serta belanja modal dengan lebih memfokuskan pada sektor produktif yang mampu memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Economic growth in Bali experienced fluctuations during the 2020-2023 period due to COVID-19 pandemic and the region’s dependence on tourism. This condition highlights the importance of effective regional financial management through the Special Allocation Fund, Regional Original Revenue, and capital expenditure in supporting economic growth. This study aims to analyze the influence of DAK and PAD on economic growth and examine the role of capital expenditure as a moderating variable. The research used a quantitative approach with Moderated Regression Analysis. Secondary data were obtained from local governments financial reports and the Central Statistics Agency of Bali Province for the 2020-2023 period, with 40 observations. Data analysis was conducted using IBM SPSS. The results indicate that DAK and PAD do not have a significant effect on economic growth, and capital expenditure is also unable to moderate the relationship. This study contributes to the development of fiscal decentralization theory by demonstrating a mismatch between regional fiscal capacity and economic growth. Regional governments are recommended to improve the effectiveness of managing DAK, PAD, and capital expenditure by focusing more on productive sectors that can provide a direct impact on economic growth.
Untuk menganalisis kinerja keuangan di sebuah perusahaan, informasi keuangan menjadi sebuah pertimbangan krusial bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Return on Asset (ROA), Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), dan Ukuran Perusahaan terhadap Harga Saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020–2024. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan dan data harga saham penutupan akhir tahun yang diperoleh dari situs resmi BEI. Berdasarkan metode purposive sampling diperoleh 32 perusahaan perbankan yang memenuhi kriteria kelengkapan data selama lima tahun pengamatan. Analisis data dilakukan dengan regresi linier berganda menggunakan bantuan perangkat lunak statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ROA, DER, EPS, dan Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara parsial, DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham dan EPS berpengaruh EPS berpengaruh negatif dan signifikan, sementara ROA dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam konteks sektor perbankan Indonesia, struktur permodalan dan laba per saham menjadi pertimbangan utama investor dibandingkan profitabilitas aset dan skala perusahaan. To analyze a company's financial performance, financial information is a crucial mconsideration for investors when making investment decisions in the capital market. This study aims to analyze the influence of Return on Asset (ROA), Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), and Company Size on Stock Prices in banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2020–2024 period. The data examined are secondary data in the form of annual financial reports and year-end closing stock price data obtained from the IDX official website. The sample was selected using a purposive sampling method, resulting in 32 banking companies that met the criteria for data completeness over the five-year observation period. Data analysis was performed using multiple linear regression with the assistance of statistical software. The findings indicate that simultaneously, ROA, DER, EPS, and Company Size have a significant effect on stock prices. Partially, DER and EPS have a significant effect, while ROA and Company Size do not have a significant effect. These findings suggest that in the context of the Indonesian banking sector, capital structure and earnings per share are the primary considerations for investors rather than asset profitability and company scale.
This study aims to analyze the Indonesian capital market's reaction to two political events: the Constitutional Court Decision No. 90/PUU-XXI/2023 regarding the age limit for presidential and vice-presidential candidates, and the 2024 Regional Election Law Amendment. The study employs an event study method to measure abnormal return and trading volume activity (TVA) of LQ45 index stocks over an 11-day observation period (5 days before, the event day, and 5 days after the event). The findings indicate that both political events had a significant impact on the market, with notable changes in abnormal return and trading volume activity observed before and after the events. These results support the semi-strong form of the efficient market hypothesis and signaling theory, suggesting that political information serves as an important signal for investors.
Perkembangan teknologi yang pesat di berbagai sektor menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan, termasuk industri perbankan. Perubahan ini menuntut perusahaan untuk cepat beradaptasi terhadap dinamika yang terjadi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPRS di Indonesia menghadapi permasalahan struktural seperti permodalan, tata kelola manajemen risiko, kualitas sumber daya manusia, serta persaingan usaha. BPR di Bali, khususnya, juga dihadapkan pada tantangan digitalisasi teknologi informasi. Kepala OJK Provinsi Bali menekankan pentingnya adaptasi teknologi demi meningkatkan efisiensi, kualitas layanan, dan pengurangan risiko. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh organizational commitment terhadap hubungan antara transformational leadership dan kesiapan pergantian staf pada 14 BPR di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Penentuan sampel dilakukan dengan metode probabilitas, sedangkan analisis data menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organizational commitment berperan sebagai mediasi parsial. Kepemimpinan transformasional yang mampu mempertahankan komitmen organisasi terbukti meningkatkan kesiapan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan, khususnya yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. The rapid development of technology across various sectors presents both challenges and opportunities for companies, including the banking industry. These changes require companies to quickly adapt to ongoing dynamics. The Financial Services Authority (OJK) notes that Rural Banks (BPR) and Sharia Rural Banks (BPRS) in Indonesia face structural issues such as capital adequacy, risk management governance, human resource quality, and business competition. In Bali, BPRs also encounter challenges related to information technology digitalization. The Head of OJK Bali Province emphasizes the importance of technological adaptation to improve efficiency, service quality, and risk reduction. This study aims to analyze the influence of organizational commitment on the relationship between transformational leadership and staff turnover readiness in 14 BPRs located in Sukawati District, Gianyar Regency. The sampling method used was probability sampling, and data were analyzed using SEM-PLS. The findings reveal that organizational commitment plays a role as a partial mediator. Transformational leadership that successfully maintains organizational commitment is proven to enhance employees’ readiness to face changes, particularly those related to technological advancements.
Krisis keuangan yang berulang menunjukkan bahwa model tradisional masih belum memadai untuk deteksi dini ketidakstabilan sistemik. Studi ini menyajikan sintesis bibliometrik tren penelitian global tentang ekspektasi heterogen, sentimen pasar, dan stabilitas keuangan selama tahun 2010–2026. Tidak seperti studi sebelumnya yang meneliti konsep-konsep ini secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan ketiganya dalam kerangka bibliometrik yang terpadu. Metode bibliometrik diterapkan pada 212 dokumen yang diindeks Scopus menggunakan Biblioshiny dan VOSviewer. Analisis tersebut mengungkapkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 21,31 persen, dengan kontribusi terbesar dari China. Analisis co-occurrence mengidentifikasi tujuh klaster tematik: keuangan perilaku, risiko sistemik, analisis sentimen berbasis AI, pembelajaran mesin, peramalan volatilitas, penularan krisis, dan perilaku pasar negara berkembang. Klaster-klaster ini mendukung proposisi bahwa heterogenitas ekspektasi memperkuat dampak sentimen terhadap stabilitas keuangan. Sebuah kesenjangan penelitian utama telah diidentifikasi: belum ada studi empiris yang menguji metrik sentimen berbasis AI di pasar negara berkembang. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa OJK dan Bank Indonesia perlu mempertimbangkan integrasi indikator sentimen digital dalam kerangka pemantauan risiko sistemik mereka, guna memperkuat ketahanan pasar keuangan nasional. Recurring financial crises reveal that traditional models remain insufficient for early detection of systemic instability. This study presents a bibliometric synthesis of global research trends on heterogeneous expectations, market sentiment, and financial stability during 2010–2026. Unlike prior studies examining these concepts separately, this research integrates all three within a unified bibliometric framework. A bibliometric method was applied to 212 Scopus-indexed documents using Biblioshiny and VOSviewer. The analysis reveals an annual growth rate of 21.31 percent, with the largest contribution from China. Co-occurrence analysis identifies seven thematic clusters: behavioral finance, systemic risk, AI-based sentiment analysis, machine learning, volatility forecasting, crisis contagion, and emerging market behavior. These clusters support the proposition that expectation heterogeneity amplifies the impact of sentiment on financial stability. A key research gap is identified: no empirical study has tested AI-based sentiment metrics in emerging markets. The implication of this research is that OJK and Bank Indonesia should consider integrating digital sentiment indicators into their systemic risk monitoring framework to strengthen the resilience of the national financial market.