ABSTRACT Fracture is a bone condition where there is a break in bone continuity due to trauma, which can cause swelling and damage to blood vessels (Wijonarko & Jaya Putra, 2023). According to data obtained from the Indonesian Health Survey (SKI), the incidence of fractures in West Java province in 2023 was 0.8%, this is more common than the average number of fractures in all provinces in Indonesia with a value of 0.7%. The incidence of lower extremity fractures can cause patients to have to be hospitalized to get proper treatment. In addition, lower extremity fractures also cause patients to have difficulty in mobilizing and being less independent due to their condition, and more fatally if fracture treatment is not handled properly it can cause death. (Hadi & Stefanus Lukas, 2024). To determine the factors that influence anxiety, pain, and early mobilization in patients after open reduction internal fixation (ORIF) surgery. This study uses a quantitative method because this type of research does not require a long time to collect and reveal data, the research design used is Retrospective, namely research conducted in the past that has been experienced. This study is Data analysis was carried out using the Retrospective test. Univariate results show that there is a relationship between the Level of Knowledge and the Level of Anxiety with a p value = 0.000, the Level of Anxiety and the Level of Pain with a p value = 0.001, and Family Support for Early Mobilization in Post-Operative Patients Open Reduction Internal Fixation (ORIF) with a p value = 0.001. There is a relationship between the Level of Knowledge to the Level of Anxiety, the Level of Anxiety to the Level of Pain, and Family Support to Early Mobilization. Keywords: Fracture, Anxiety, Pain, Early Mobilization. ABSTRAK Fraktur ialah keadaan tulang dimana terdapat pemutusan kontinuitas tulang akibat trauma, yang dapat menyebabkan pembengkakan dan kerusakan pada pembuluh darah (Wijonarko & Jaya Putra, 2023). Menurut data yang di dapat dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI), kejadian fraktur di provinsi jawa barat pada tahun 2023 adalah sebanyak 0,8%, ini lebih banyak terjadi dibandingkan dengan jumlah rata-rata kejadian fraktur di seluruh provinsi di Indonesia dengan nilai 0,7%. Kejadian fraktur ekstremitas bawah bisa menyebabkan pasien harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu fraktur ekstremitas bawah juga menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam mobilisasi dan ketidakmandirian karena kondisinya, dan lebih fatalnya jika penanganan fraktur tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan kematian.(Hadi & Stefanus Lukas, 2024). Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan, nyeri, dan mobilisasi dini pada pasien pasca operasi open reduksi internal fiksasi (orif). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dikarenakan jenis penelitian ini tidak membutuhkan waktu yang lama guna menarik serta mengungkapkan data, Desain penelitian yang digunakan adalah Retrosprectif yaitu penelitian yang dilakukan pada masa lampau yang pernah dialami. Penelitian ini adalah Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square dan uji gamma. Hasil univariat menunjukan ada hubungan antara Tingkat Pengetahuan Terhadap Tingkat Kecemasan dengan nilai p value= 0.000, Tingkat Kecemasan Terhadap Tingkat Nyeri dengan nilai p value= 0.001, dan Dukungan Keluarga Terhadap Mobilisasi Dini Pada Pasien Pasca Operasi Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) dengan nilai p value= 0.001. Ada hubungan antara Tingkat Pengetahuan Terhadap Tingkat Kecemasan, Tingkat Kecemasan Terhadap Tingkat Nyeri, dan Dukungan Keluarga Terhadap Mobilisasi Dini. Kata Kunci: Fraktur, Kecemasan, Nyeri, Mobilisasi Dini.
ABSTRACT Patients who suffer from diabetes mellitus for more than 5 years are twice as likely to develop diabetic ulcers.The prevalence of diabetic foot ulcer sufferers in Indonesia is 15% of all diabetes mellitus sufferers, 30% have amputations and 32% mortality. Diabetes mellitus sufferers are very vulnerable to amputation due to the chronic condition of the disease and a greater risk of complications. The purpose of this writing is to determine the effect of Antimicrobial Dressing on the wound healing process in post-debridement patients with Diabetic Foot Ulcers in the Telukjambe Room, Karawang Regional Hospital. The research method used was quasi experiment. A quasi experiment is defined as an experiment with treatments, effectiveness measures, and experimental units, but does not use random allocation as a comparison to infer changes caused by the treatment. The treatment in this study was antimocrobal dressing. Research results: The average time for wound healing in the group using antimicrobials was 4 days with a standard deviation of 3,090 days. Statistical test results obtained a p value of 0.09 (>0.05), on the 3rd day the p value was 0.63 (>0.05) and on the 6th day the p value was 0.18 (>0.05). Conclusions and RecommendationsThe results of the study show that 13 respondents (25%) received antimicrobial dressing treatment for 1-3 days with a moderate wound healing process compared to 10 respondents (19.2%) who received antimicrobial dressing treatment for > 6 days. From the Chi Square statistical test, it was found that the p value was 0.002 < 0.05 α, so reject Ho and accept Ha, it can be concluded that there is a relationship between the effect of antimicrobial dressings on the condition of the wounds on the feet of patients suffering from diabetic ulcers in the Telukjambe room. Keywords: Antimocrobal Dressing, Diabetic Foot Ulcers, Post Debridement. ABSTRAK Pasien yang menderita diabetes melitus lebih dari 5 tahun dua kali lebih berisiko terjadi ulkus diabetikum. Prevalensi penderita ulkus kaki diabetik di Indonesia sebanyak 15% dari seluruh penderita diabetes melitus, 30% terjadi amputasi dan 32% mortalitas. Penderita diabetes melitus sangat rentan mengalami amputasi disebabkan kondisi penyakit yang kronik dan risiko komplikasi yang lebih besar. Tujuan Penulis mengetahui pengaruh Antimicrobial Dressing terhadap proses penyembuhan luka pada pasien post debridement Ulkus Kaki Diabetik di Ruang Telukjambe RSUD Karawang. Metode penelitian yang digunakan adalah quasy experiment. Quasy eksperiment didefinisikan sebagai eksperimen dengan perlakuan, pengukuran keefektifan, dan unit percobaan, tetapi tidak menggunakan alokasi acak sebagai perbandingan untuk menyimpulkan perubahan yang disebabkan oleh perlakuan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah Antimocrobal dressing. Hasil Penelitian rata-rata waktu penyembuhan luka pada kelompok yang menggunakan antimicrobial adalah 4 hari dengan standar deviasi 3.090 hari Hasil uji statistic didapatkan p value 0,09 (>0.05) hari ke 3 p value 0.63 (>0.05) dan pada hari ke 6 di dapatkan p value 0,18 (>0.05). Kesimpulan dan Saran Hasil penelitian menunjukan responden dengan perawatan antimicrobial dresing selama 1-3 hari dengan proses penyembuhan luka sedang sebanayak 13 responden (25%) lebih besar dibanding dengan responden dengan perawatan antimicrobial dresing selama >6 hari dengan proses penyembuhan luka kurang dengan jumlah responden 10 orang (19.2%). Dari uji statistik Chi Square didapat p Value 0,002 < 0,05 α jadi tolak Ho dan terima Ha, maka dapat disimpulkan bahwa adaHubungan Pengaruh Antimicrobial Dressing Terhadap Kondisi Luka Pada Kaki Pasien Penderita Ulkus Diabetikum Di Ruang Telukjambe. Kata Kunci: Antimocrobal Dressing, Ulkus Kaki Diabetik, Post Debridment
Ojek Online adalah layanan transportasi yang menggunakan aplikasi digital untuk menghubungkan penumpang dengan pengemudi ojek. Tugas dari driver ojek online adalah mengantar penumpang, menjaga kualitas layanan, mengatur waktu dan rute , menjaga keamanan serta memberikan informasi. Dengan tugas-tugas tersebut memungkinkan driver ojek online menemukan kasus kegawatan di perjalanan . ebagaimana kita ketahui bersama angka kejadian henti jantung di Indonesia cukup tinggi, dengan 251,09 kematian per 100.000 orang pada tahun 2023. Bantuan Hidup Dasar (BHD) sangat penting dilakukan karena dapat menyelamatkan nyawa saat terjadi keadaan henti nafas atau henti jantung. BHD merupakan tindakan pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh siapa saja termasuk driver ojek online untuk mempertahankan fungsi pernafasan dan sirkulasi hingga bantuan medis lebih lanjut tiba. Tujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan BHD terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan masyarakat awan terutama pengemudi ojek online dalam memberikan pertolongan pertama henti jantung. Metode Penelitia adalah desain quasi eksperimen pre test – post test untuk mengumpulkan data tentang kemampuan melakukan BHD sebelum dan sesudah diberikan materi dan praktek BHD. Hasil penelitian ini Pre-test Rata-rata skor kemampuan BHD driver ojek online adalah 48 Perlakuan driver ojek online mengikuti program penjelasan materi dan praktek BHD selama satu hari Post-test Rata-rata skor kemampuan BHD driver ojek online menjadi 90. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan melakukan BHD yang signifikan setelah mengikuti program materi dan praktek BHD, sehingga metode tersebut dianggap efektif dalam meningkatkan kemampuan BHD.
ABSTRACT The prevalence of anemia in the world ranges from 40 - 88%. The prevalence of iron deficiency anemia in adolescent girls in Indonesia is 22.7%. (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2021). Meanwhile, data on the achievement of anemia in adolescent girls from the DKI Jakarta Provincial Health Office in 2023 was 48.30%. Then in the same year in the Cakung Health Center area, it was 56.75%, where one of the areas with a fairly high anemia rate was the Cakung Timur Village area of 54.01%.this study aims to determine the Factors Causing Anemia That Occurs in Adolescent Girls at SMK Jakarta Timur 2, Cakung Timur Village, Cakung District. This study is a type of quantitative research using a cross-sectional approach. The population in this study were 190 grade 10 female students of SMK Jakarta Timur 2, Cakung Timur Village, Cakung District, with a sample of 64 female students using random sampling. The data types are primary and secondary data. Data analysis uses univariate and bivariate analysis using chi square correlation. Based on the chi-square test, it was found that there was no significant relationship between parental education (p = 0.272), knowledge (p = 0.200), menstrual status (p = 0.066), menstrual cycle (p = 0.157), duration of menstruation (p = 0.463), menstrual volume (p = 0.117), consumption of Fe tablets (p = 0.536), number of Fe tablets consumed (p = 0.568) on the incidence of anemia in adolescent girls, it was found that there was a significant relationship between the status of iron tablet consumption on the incidence of anemia in adolescent girls (p = 0.047) with an OR value of 4.063 (0.966-17.091. The research that has been conducted at SMK Jakarta Timur 2, Cakung Timur Village, Cakung District, obtained that 45% of adolescent girls suffer from anemia. Factors such as parental occupation, level of knowledge and menstruation according to the adolescent girls who were respondents were not factors that caused anemia in adolescent girls. Keywords: Factors, Anemia, Adolescent Girls. ABSTRAK Prevalensi anemia di dunia berkisar antara 40 – 88%. Prevalensi anemia gizi besi pada remaja putri di Indonesia sebesar 22,7%. (Kemenkes RI, 2021). Sementara data capaian anemia remaja putri dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2023 sebesar 48.30%. Lalu pada tahun yang sama di wilayah Puskesmas Cakung, sebesar 56,75%, dimana salah satu wilayah dengan angka anemia yang cukup tinggi adalah wilayah Kelurahan Cakung Timur sebesar 54,01%. Penelitian ini yaitu bertujuan untuk mengetahui Faktor - Faktor Penyebab Anemia Yang Terjadi Pada Remaja Putri Di SMK Jakarta Timur 2 Kelurahan Cakung Timur Kecamatan Cakung. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi kelas 10 SMK Jakarta Timur 2 Kelurahan Cakung Timur Kecamatan Cakung sebanyak 190, sampel sebanyak 64 orang siswi dengan random sampling. Jenis data adalah data primer dan sekunder Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan korelasi chi square. Berdasarkan uji chi-square, didapatkan hasil tidak ada hubungan bermakna antara pendidikan orang tua (p=0,272), pengetahuan (p=0,200), status menstruasi (p=0,066), siklus menstruasi (p=0,157), lama menstruasi (p=0,463), volume menstruasi (p=0,117), konsumsi tablet Fe (p=0,536), jumlah konsumsi tablet Fe (p=0,568) terhadap kejadian anemia remaja putri, didapatkan hasil ada hubungan bermakna antara status konsumsi tablet tambah darah terhadap kejadian anemia remaja putri (p=0,047) dengan nilai OR 4.063 (0.966-17.091. Penelitian yang telah dilakukan di SMK Jakarta Timur 2 Kelurahan Cakung Timur Kecamatan Cakung diperoleh sebanyak 45% remaja putri menderita anemia. Faktor-faktor seperti pekerjaan orang tua, tingkat pengetahuan dan menstruasi menurut para remaja putri yang dilakukan sebagai responden bukanlah faktor yang menyebabkan kejadian anemia pada remaja putri. Kata Kunci: Faktor – Faktor, Anemia, Remaja Putri.
ABSTRACT Pulmonary TB is a deadly lung disease with an incidence rate that is still high in the world. Indonesia is one of the contributors to the highest incidence of pulmonary TB in the world. Indonesia is said to be the second country with the highest incidence of pulmonary TB after India. The treatment success rate for pulmonary TB patients is expected to increase every year. Because this is one of the main efforts to realize a roadmap for eliminating pulmonary TB. Compliance with taking medication is one of the things that must be emphasized to patients undergoing pulmonary TB treatment so that treatment success can be achieved. Lack of knowledge is a barrier to change. Barriers like this need to be overcome when starting the process of change by increasing awareness to evaluate oneself. To determine the relationship between the level of knowledge and compliance with treatment for pulmonary TB patients at the Tirtamulya health center, Karawang district in 2025. This research is experimental research with the research design being one group pre test-post test design. Data analysis used the T paired test and the Wilcoxon statistical test. The research design used in this research is descriptive correlation with a cross-sectional approach. Data were collected using a knowledge questionnaire and the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). The research respondents were 58 respondents with a sampling technique using the Purposive Sampling method. There is a relationship between the knowledge of respondents suffering from pulmonary TB and compliance with pulmonary TB treatment at the Tirtamulya health center, Karawang district. It is hoped that tuberculosis sufferers will remain compliant in carrying out pulmonary TB treatment until completion. Keywords: Knowledge, Compliance, Tuberculosis ABSTRAK TB paru adalah merupakan suatu penyakit paru yang mematikan dengan angka kejadian yang masih tinggi di dunia. Indonesia merupakan salah satu penyumbang angka tertinggi kejadian TB paru di dunia. Indonesia disebutkan menjadi urutan kedua negara dengan kejadian TB paru terbanyak setelah negara India. Keberhasilan pengobatan (treatment success rate) pada pasien TB paru diharapkan meningkat setiap tahunnya. Karena hal ini merupakan salah satu upaya utama untuk mewujudkan peta jalan eliminasi TB paru. Kepatuhan minum obat menjadi salah satu hal yang harus ditekankan kepada pasien yang melakukan pengobatan TB paru agar keberhasilan pengobatan bisa tercapai. Kurangnya pengetahuan merupakan hambatan untuk berubah. Hambatan seperti ini perlu diatasi saat memulai proses berubah dengan meningkatkan kesadaran untuk mengevaluasi diri sendiri. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan berobat pasien TB paru di puskesmas Tirtamulya kabupaten Karawang tahun 2025. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan metode pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). Responden peneilitian sebanyak 58 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan ari 58 responden sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 49 (84,5%) responden dan memiliki kepatuhan sedang terhadap pengobatan TB paru sebanyak 38 (65,5%). Hasil analisis analisis menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p value sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti bahwa ada hubungan pengetahuan responden penderita TB paru dengan kepatuhan pengobatan TB paru di puskesmas Tirtamulya kabupaten Karawang. Ada hubungan pengetahuan responden penderita TB paru dengan kepatuhan pengobatan TB paru di puskesmas Tirtamulya kabupaten Karawang Diharapkan penderita tuberkulosis tetap patuh dalam melakukan pengobatan TB paru sampai dengan selesai. Kata Kunci: Pengetahuan, Kepatuhan, Tuberkulosis