Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan penanganan orang terlantar oleh bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Tanjungpinang tahun 2025 dengan menggunakan model implementasi kebijakan George C. Edwards III yang mencakup indikator komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data di lakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, dengan analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan penanganan orang terlantar telah berjalan cukup baik. Faktor komunikasi berjalan efektif melalui koordinasi internal dan eksternal yang mendukung pelaksanaan program. Faktor disposisi menunjukkan komitmen yang kuat dari para pelaksana dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dari sisi struktur birokrasi, pembagian tugas telah jelas dengan adanya Standar Operasional Prosedur (SOP). Namun, faktor sumber daya masih menjadi kendala utama, seperti keterbatasan anggaran, jumlah pegawai, fasilitas pendukung, kurangnya pelatihan kepada petugas. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus kajian terhadap implementasi kebijakan penanganan orang terlantar dengan mempertimbangkan keberadaan Tim Reaksi Cepat sebagai inovasi dalam percepatan penanganan masalah sosial. Oleh karena itu, di perlukan penguatan sumber daya, peningkatan koordinasi lintas sektor, pelatihan kepada petugas, serta pengembangan program pemberdayaan sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Perairan pesisir utara Kota Tanjungpinang terletak di wilayah pertemuan Kota Tanjungpinang dengan Kabupaten Bintan, meliputi Sebauk, Kampung Madong, Sei Nyirih, dan Air Raja. Konsentrasi klorofil merupakan indikator penting dalam menilai produktivitas primer perairan dan pengelolaan sumber daya laut. Aktivitas antropogenik seperti restoran, lalu lintas kapal nelayan, budidaya ikan keramba jaring apung, dan permukiman dapat memengaruhi kualitas perairan, yang berdampak pada konsentrasi klorofil. Penelitian ini bertujuan sebagai langkah awal pengelolaan sumber daya laut secara terpadu dan berkelanjutan, dengan pengumpulan data pada Juli 2024 dan Januari 2025 melalui metode survei. Data primer mencakup parameter fisika-kimia seperti suhu, kecerahan, arus, DO, pH, salinitas, nitrat, dan fosfat. Data biologis berupa klorofil diambil dari ke dalaman eufotik menggunakan van dorn water sampler. Penentuan 30 titik sampling dilakukan secara Systematic Random Sampling menggunakan QGIS 3.28.0. Pembuatan peta sebaran klorofil menggunakan software Qgis 3.28.0 menggunakan Inverse Distance Weighted (IDW). Konsentrasi klorofil di Perairan Pesisir Utara Kota Tanjungpinang bulan Juli 2024 klorofil-a sebesar 4,81 mg/m3, klorofil-b sebesar 4,76 mg/m3 dan klorofil-c sebesar 3,41 mg/m3. Sedangkan pada bulan Januari 2025 klorofil-a sebesar 7,30 mg/m3, klorofil-b sebesar 7,06 mg/m3 dan klorofil-c sebesar 6,67 mg/m3. Sebaran spasial klorofil pada daerah pesisir utara Kota Tanjungpinang pada bulan Juli 2024 dan Januari 2025 terdistribusi tinggi di kawasan perairan Kampung Madong dan Sei Nyirih. Sedangkan perairan terluar atau arah perairan laut merupakan wilayah yang terdistribusi rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kebutuhan oksigen (O₂) dalam proses respirasi antara tumbuhan dari kelompok Angiospermae dan Gymnospermae. Penelitian ini dilakukan melalui metode eksperimen menggunakan alat respirometer yang dilaksanakan di Laboratorium Biologi Universitas Maritim Raja Ali Haji pada bulan Mei tahun 2026. Sampel yang diteliti meliputi Hibiscus rosa-sinensis dan Ipomoea Aquatica yang mewakili Angiospermae, serta Pinus merkusii dan Cycas revoluta untuk Gymnospermae. Pengamatan dilakukan dua kali pada setiap sampel dengan menggunakan KOH untuk menyerap karbon dioksida (CO₂) dan larutan eosin sebagai indikator perubahan volume gas di respirometer. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji ANOVA untuk melihat perbedaan konsumsi oksigen di antara kedua kelompok tumbuhan tersebut. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi oksigen pada Gymnospermae adalah 0,95 ml, sedangkan Angiospermae mencatat 0,88 ml. Meski Gymnospermae menunjukkan laju respirasi yang cenderung lebih tinggi, analisis ANOVA menemukan bahwa perbedaan ini tidak signifikan secara statistik karena nilai F-hitung (0,3741) lebih kecil dari F-tabel pada tingkat signifikansi 5% dan 1%. Studi ini mengindikasikan bahwa perbedaan laju respirasi dipengaruhi oleh faktor fisiologis, struktur anatomi, metabolisme, serta kondisi lingkungan saat pengamatan. Oleh karena itu , dapat disimpulkan bahwa kebutuhan oksigen dalam proses respirasi antara kelompok Angiospermae dan Gymnospermae tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Coral bleaching responses in reef fishes are predominantly documented from clear-water reefs, where coral loss reliably predicts declines in coral-associated species. Turbid reef systems may follow different trajectories because thermal exposure, benthic change, and water-column forcing covary with light, sedimentation, and productivity gradients. Here, we combined repeated observations of sea-surface temperature anomaly, benthic composition, water-column conditions, and Chaetodon octofasciatus abundance from ten reef stations on eastern Bintan Island, Indonesia, surveyed before, during, and after the 2016 global coral bleaching event. Mean sea-surface temperature anomaly increased from 0.11°C before bleaching to 0.88°C during bleaching and declined incompletely to 0.33°C one year later. Over the same period, C. octofasciatus abundance rose from 12.6 to 20.8 individuals 350 m⁻² and remained elevated at 20.1 individuals 350 m⁻² after bleaching. Although pooled abundance was positively associated with sea-surface temperature anomaly (Spearman ρ = 0.43, P = 0.024), paired station-level changes in abundance were not significantly related to paired thermal changes (ρ = 0.24, P = 0.410). Live coral cover alone did not explain the abundance increase, whereas multivariate benthic composition and water-condition structure shifted across sampling phases. These findings suggest that post-bleaching increases in coral-associated fish abundance may reflect short-term benthic–corallivore reconfiguration rather than ecosystem recovery, and that fish abundance alone is an unreliable indicator of reef resilience in turbid systems.
Ekosistem mangrove di wilayah pulau kecil rentan terhadap perubahan tutupan lahan dan tekanan lingkungan, sehingga diperlukan informasi spasial yang tidak hanya menggambarkan dinamika luasan, tetapi juga kondisi kanopi vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan mangrove secara multitemporal serta memetakan kerapatan kanopi mangrove pada tahun 2023 di Pulau Panjang. Metode yang digunakan meliputi analisis citra Landsat berbasis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk pemetaan tutupan mangrove multitemporal, serta klasifikasi kerapatan kanopi mangrove yang divalidasi menggunakan data lapangan Hemispherical Photography. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan mangrove mengalami dinamika spasial antar periode pengamatan, sementara kerapatan kanopi mangrove tahun 2023 didominasi oleh kelas kerapatan tinggi. Evaluasi akurasi klasifikasi kerapatan kanopi menghasilkan nilai overall accuracy sebesar 83% dengan tingkat kesesuaian yang baik antara hasil klasifikasi dan kondisi lapangan, meskipun masih terdapat keterbatasan dalam membedakan kelas kerapatan yang berdekatan akibat kompleksitas struktur kanopi mangrove. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis multitemporal tutupan mangrove dengan pemetaan kerapatan kanopi berbasis NDVI yang didukung oleh Hemispherical Photography pada skala pulau kecil. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan tersebut mampu memberikan informasi yang lebih komprehensif mengenai kondisi dan kualitas ekosistem mangrove, sehingga berpotensi mendukung upaya pengelolaan dan pemantauan mangrove secara berkelanjutan di Pulau Panjang.