Background: Blood transfusion is an essential lifesaving treatment. The unsafe blood transfusion practices are one of the reasons of spreading transfusion-transmissible infections among individuals. It is necessary to screen the all donated blood units for HBV, HCV, HIV, VDRL, and MP. Aims: This aim of this study was to evaluate the burden of transfusion-transmissible infectious diseases caused by blood transfusions among donors. Materials & Methodology: It was a prospective observational study which included the 9114 blood donors who attended the Akhtar Saeed Trust Hospital Lahore from January 2020 to September 2022. The informed consent was taken from all blood donors. 3-5 ml of venous sample was drawn by using aseptic technique from blood donors on enrollment. Screening of blood donors was done by Chemiluminescence immunoassay (Maglumi-800) for HBV, HCV, HIV and VDRL. The MP was confirmed by peripheral blood picture on slide. According to the automation kit manufacturer’s guidelines, cut-off value for reporting positive results of HBV, HCV, HIV and VDRL was calculated. Data was analyzed by using SPSS version 25.0. Results: The mean age was 27.79 + 12.1 years. The numbers of volunteer and replacement donors were 961 (10.54%) and 8153 (89.45%) respectively. The total numbers of positive donors for transfusion transmissible infectious diseases were 591/9114 (6.49%). The seropositivity was found to be 170/9114 (1.86%) for HBV, 324/9114 (3.55%) for HCV, 33/9114 (0.36%) for HIV, 64/9114 (0.70%) for VDRL, and 0/9114 (0.0%) for MP respectively. Conclusion: There is currently a low risk of transfusion transmissible infectious diseases but the availability of safe blood is contingent on screening tests and appropriate donor selection.
Jalan Ryacudu di Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung merupakan jalur utama yang menghubungkan pusat kota dengan Jalan Tol Trans Sumatera. Namun, perancangan, penyediaan fasilitas, dan pemeliharaan trotoar di sepanjang jalan ini belum mendukung kelayakan berjalan secara optimal. Permasalahan yang ditemukan meliputi permukaan trotoar yang tidak rata, desain yang terputus-putus, banyaknya hambatan fisik, serta minimnya fasilitas pendukung. Penelitian ini bertujuan menganalisis Indeks Kelayakan Berjalan (Walkability Index) pada trotoar Jalan Ryacudu dengan menggunakan sembilan parameter dari pendekatan Global Walkability Index (GWI). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai walkability berada pada rentang 50–69, yang tergolong dalam kategori “Waiting to Walk”. Artinya, beberapa fasilitas pejalan kaki masih dapat digunakan, namun belum optimal dari segi kenyamanan, keselamatan, keamanan, dan aksesibilitas. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan dalam penataan fisik trotoar, penyediaan fasilitas, kebijakan pengelolaan ruang publik, serta penegakan aturan pemanfaatan ruang pejalan kaki. Analisis ini memberikan informasi strategis mengenai area yang perlu ditingkatkan berdasarkan nilai setiap parameter yang dianalisis. Kunci: Walkability Index, Trotoar, Fasilitas Pejalan Kaki
Perubahan tata guna lahan dapat mengakibatkan kerusakan suatu daerah aliran sungai sehingga menimbulkan terjadinya percepatan erosi atau erosi tanah yang dapat membuat kesuburan tanah menjadi berkurang. Perubahan tata guna lahan juga terjadi pada DAS Lekso. Dalam upaya mengetahui nilai erosi yang terjadi pada DAS Lekso digunakan metode USLE pada analisis kali ini sehingga didapatkan hasil laju erosi adalah 347 ton/ha/tahun atau 24,8 mm/tahun. Nilai laju erosi DAS Lekso ini telah jauh melebihi batas normal toleransi erosi di Indonesia yaitu sekitar 2.5 mm/tahun. Hasil Analisis Tingkat Bahaya Erosi (TBE) pada DAS Lekso didominasi dengan kelas Ringan dengan Luas Sebesar 43.34 Km2. Dengan Pembagian klsifikasi yang diantaranya Sangat Ringan dengan Luas 23.49 Km2, Ringan dengan Luas 43.34 Km2, Sedang dengan Luas 17,81 Km2, Berat dengan Luas 31,89 Km2, Sangat Berat dengan Luas 32.48 Km2. Berdasarkan kriteria yang diterbitkan oleh Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS Lekso terbagi menjadi 3 kawasan yaitu Kawasan Hutan Lindung dengan luas 48.41 km2, Kawasan Penyangga dengan luas 48.01 Km2, dan Kawasan Budidaya Tanaman dengan luas 52.59 Km2. Hasil arahan penggunaan lahan ini dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan tata guna lahan yang baru.
In light of the Chinese cultural context, we examined the impact of work stress on work motivation in Chinese physical education, delving into the interplay between self-determination theory, stress-cognitive interaction theory, and communication. The results of the study, which were obtained through a questionnaire survey and data analysis of 301 Chinese physical education coaches, are as follows: (1) Work pressure can effectively predict the intrinsic and extrinsic motivation of physical education coaches; (2) Communication can effectively and positively predict the intrinsic and extrinsic motivation of physical education coaches; (3) Communication plays an intermediary role in the relationship between work pressure and motivation and can positively influence the relationship between the two, which is important for the intrinsic and extrinsic motivation of physical education coaches. The findings of this study elucidate the mechanism through which work pressure affects the motivation of sports coaches, thereby assisting enterprises in innovating and optimising their management and communication systems. The results have both theoretical and practical significance.