Image transmission is one type of data payload that requires a detailed and comprehensive approach in the field of image data transmission using a LoRa Module. In this study, the device used was the LilyGo LoRa32 module, Version 1.6.1, which is compatible with the GPS included in one of the latest board versions. This LoRa module functions as an End-Node for both transmission (Tx) and reception (Rx), enabling precise and appropriate point-to-point communication. The DLOS8N Gateway forwards image data to the Network Server, then to the Application Server, and finally to end-users. We use a Raspberry Pi for processing LoRa Tx-Rx transmission data as well as gateway communication. Additionally, we use Chirpstack as a comparison Network Server. The key finding of this research is that images were successfully transmitted using Base64 encoding over LoRa, accompanied by a comprehensive analysis that can be examined in detail. LoRa communication is extended to a WAN to become LoRaWAN when signals are transmitted from end nodes using CSS and received by a LoRa receiver running on a Raspberry Pi developed with ChirpStack.The RSSI on the LoRaWAN server during image transmission averages 44 dBm, with an SNR of 12 dB.
AbstractThe phenomenon of adulterated rice, uncovered through investigations by the Ministry of Agriculture and mass media, reveals a crisis in Indonesia’s food distribution and regulatory systems. This study aims to examine how the issue of rice adulteration is constructed as a public problem and to identify gaps in the implementation of national food policy. Using a qualitative approach and media content analysis, the article finds that weak quality control, ambiguous labeling standards, and poor law enforcement have enabled irresponsible economic actors to dominate the market. These findings reflect a failure in food distribution governance and the absence of state accountability in ensuring food justice. The article recommends reforming food labeling systems, strengthening the capacity of regulatory institutions, and involving civil society in distribution oversight. Keywords: Adulterated Rice, Food Policy, Policy Sociology, Problem Construction, Distribution Inequality, Governance AbstrakFenomena beras oplosan yang terungkap melalui investigasi Kementerian Pertanian dan media massa memperlihatkan realitas krisis dalam sistem distribusi dan pengawasan pangan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kasus beras oplosan dikonstruksi sebagai masalah publik serta mengidentifikasi kesenjangan dalam implementasi kebijakan pangan nasional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis konten media, artikel ini mengungkap bahwa lemahnya pengawasan mutu, ketidakjelasan standar pelabelan, dan lemahnya penegakan hukum telah menciptakan ruang dominasi pasar oleh aktor-aktor ekonomi yang tidak bertanggung jawab. Temuan ini merefleksikan kegagalan tata kelola distribusi pangan dan ketidakhadiran negara dalam menjamin keadilan pangan. Artikel ini menyarankan perlunya reformasi sistem pelabelan pangan, penguatan kapasitas institusi pengawas, serta pelibatan masyarakat sipil dalam pengawasan distribusi. Kata kunci: Beras Oplosan, Kebijakan Pangan, Sosiologi Kebijakan, Konstruksi Masalah, Ketimpangan Distribusi, Governance
Era disrupsi menuntut tata kelola desa bertransformasi digital, namun kerap terhambat resistensi aparatur akibat budaya kerja manual dan rendahnya literasi teknologi. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi model kepemimpinan kepala desa berbasis kapasitas adaptif dalam mengatasi persoalan pelayanan publik di Desa Cikande. Metode kualitatif studi kasus digunakan melalui pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap informan purposive, yakni kepala desa, aparatur pengelola layanan, dan warga. Temuan penelitian menawarkan kebaruan (novelty) bahwa digitalisasi di tingkat akar rumput membutuhkan strategi "pemaksaan positif", yakni mekanisme pembiasaan dan pengawasan konstruktif. Strategi ini mengintegrasikan Indikator Kinerja Utama (KPI) berbasis teknologi dengan pendampingan operasional (coaching) secara intensif. Pendekatan tersebut terbukti mampu merekonstruksi kapasitas adaptif aparatur, memangkas durasi pelayanan dari 1-2 hari menjadi hitungan jam melalui sistem ApelDesa. Kesimpulannya, efektivitas e-government desa membutuhkan pendekatan manajerial transformasional yang adaptif. Temuan ini memperluas diskursus Social Exchange Theory pada birokrasi lokal dan berpotensi menjadi purwarupa manajerial alternatif untuk mendukung keberlanjutan tata kelola desa modern.
Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan kompleksitas ancaman siber, menjadikan keamanan basis data sebagai prioritas utama bagi organisasi. Metode tradisional sering kali tidak mampu menghadapi serangan canggih, sehingga diperlukan pendekatan baru berbasis kecerdasan buatan (AI). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana integrasi AI dapat merevolusi strategi keamanan basis data melalui deteksi ancaman, respons insiden otomatis, enkripsi adaptif, dan pengendalian akses cerdas. Metode yang digunakan berupa kajian literatur dan analisis konseptual terhadap penerapan algoritma machine learning, predictive analytics, deteksi anomali, serta integrasi dengan intelijen ancaman global. Hasil kajian menunjukkan bahwa AI mampu mendeteksi pola serangan baru, termasuk zero-day vulnerabilities, secara real-time, mempercepat respons insiden melalui otomatisasi playbook dan orkestrasi sistem, serta mengurangi kesalahan manusia. Dalam perlindungan data, AI memungkinkan enkripsi dinamis sesuai sensitivitas informasi dan autentikasi adaptif berbasis konteks. Integrasi dengan intelijen ancaman global memperkuat kemampuan AI memperbarui algoritma sesuai tren serangan terbaru. Kesimpulannya, penerapan AI tidak hanya meningkatkan ketahanan organisasi terhadap ancaman siber, tetapi juga mendorong transformasi dari pendekatan reaktif menuju proaktif, membentuk kerangka kerja keamanan yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Abstrak Artikel ini mengelaborasi peran etika dan tanggung jawab sosial dalam membentuk perilaku organisasi yang bermartabat dan berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan teori perilaku organisasi, studi kasus global dan lokal, serta refleksi filosofis, tulisan ini menegaskan bahwa etika bukan sekadar norma kepatuhan, melainkan orientasi eksistensial organisasi terhadap nilai dan martabat manusia. Tanggung jawab sosial dipahami sebagai komitmen organisasi terhadap keberlanjutan sosial dan pengakuan terhadap komunitas yang dilayaninya. Studi kasus seperti Enron, Uber, Theranos, dan BP Oil Spill dikaitkan dengan relevansi praktik organisasi di Indonesia, termasuk sektor publik dan BUMN. Pendekatan filosofis dari Emmanuel Levinas dan Ki Hadjar Dewantara memperkaya pemaknaan etika sebagai relasi dan pengakuan terhadap yang-lain. Artikel ini menyerukan arah baru perilaku organisasi yang berjiwa sosial, berorientasi nilai, dan mampu menjadi ruang pembentukan harapan kolektif. Kata kunci : etika organisasi, tanggung jawab sosial, perilaku organisasi, tata kelola yang penuh welas asih, studi kasus, filsafat etika. Abstract This article elaborates on the role of ethics and social responsibility in shaping dignified and sustainable organizational behavior. By integrating organizational behavior theories, global and local case studies, and philosophical reflections, the paper argues that ethics is not merely a compliance norm but an existential orientation of organizations toward human values and dignity. Social responsibility is understood as a commitment to social sustainability and recognition of the communities served. Case studies such as Enron, Uber, Theranos, and the BP Oil Spill are linked to organizational practices in Indonesia, including the public sector and state-owned enterprises. Philosophical perspectives from Emmanuel Levinas and Ki Hadjar Dewantara enrich the meaning of ethics as relational recognition of the Other. This article calls for a new direction in organizational behavior that is socially oriented, value-driven, and capable of becoming a space for collective hope formation. Keywords: organizational ethics, social responsibility, organizational behavior, compassionate governance, case studies, ethical philosophy.